Sabtu, 23 Februari 2019

news flash

Awololo, Negeri Leluhur Suku Karangora

Februari 4th, 2019 | by Bonne Pukan
Awololo, Negeri Leluhur Suku Karangora
Sosbud
0
Foto: Thomas Atalajar, Anak Kampung Waiwejak, tinggal di Bogor)

Dari Awololo – Onga Kebal Menetap di Dua Lei

    Oleh : Thomas Ataladjar

 

KARANGORA tidak hanya dikenal sebagai kampung lahirnya Tokoh Pemegang Amanat Rakyat Lembata, Bapak Yan Kia Poli. Karangora ternyata  juga punya kisah tutur menarik, yang selama ini belum cukup terangkat ke permukaan untuk diketahui umum.

Dan sebaiknya  orang tidak perlu terburu-buru memvonis, bahwa kisah Suku Karangora ini dan juga kisah bencana Awololo, hanya sebuah mitos belaka. Tahun 2015 Suku Karang ini sempat saya tulis sepintas dalam buku:”Lame Lusi Lako,Dari Tanah Nubanara Menuju Tanah Misi”, namun lebih tentang Suku Karang di desa Atawolo.

Dua tiga hari lalu, tentang Awololo, saya telah menurunkan judul ”Awololo, Situs Sejarah dan Budaya Lembata, Jadikan Cagar Budaya Yang Dilindungi Dengan Perda” dan sebuah judul lain : ” Lepan  Batan-Awololo,Tutu Marin Tanah Leluhur dan  Dua Guru Budayawan Atadei”.  Tulisan kali ini tentang Suku Karangora yang menurut kisah tutur, leluhurnya juga merupakan salah satu dari sekian suku pengungsi dari Awololo.

Foto: Indahnya Awololo dari Udara (ist)

Awololo, Onga Kebal, Atawolo, Krewak Ore hingga Kahapuka-Dua Lei.

Menurut kisah tutur di masyarakat desa Karangora, Atadei,  suatu saat Awololo diterjang air laut yang dahsyat yang melanda dan menenggelamkan Awololo. Banyak penduduk yang mati tenggelam jadi korban bencana itu. Yang selamat, tercerai berai meluputkan diri masing-masing,  lalu mengungsi mencari selamat ke berbagai tempat di Tanah Lembata ini.

Leluhur Suku Karangora termasuk di antara penduduk yang mengungsi. Mereka melarikan diri ke arah timur laut lewat Onga Kebal dan Hadakewa, yang saat itu belum ada kampung. Mereka juga membawa serta wetem atau jewawut.  Dari sana mereka mendaki sampai di Wai Rita dan sementara menetap di sini. Namun karena tempatnya sunyi dan dirasa belum cukup aman, mereka lalu meneruskan pengembaraannya melewati sebuah bukit. Di bukit ini, jewawut atau wetem  yang mereka bawa sebagai bekal,  tumpah. Maka bukit itu mereka namakan il Wetem.

Dari il Wetem, mereka meneruskan perjalanan ke daerah Lamatuka, dan singgah sejenak  di tempat bernama Tap Wua Meran, mungkin karena di sini tumbuh kelapa yang buahnya berwarna kemerah-merahan.  Di tempat ini seorang dari mereka bernama Hoge menanam buah pohon lontar (kolwuan), maka tempat ini kemudian diberi nama Hoge Mulakol, Hoge tanam buah koli. Dari sini mereka pindah lagi ke Duaholo yang juga disebut Koliora di kawasan Wai Rajan yang ditumbuhi banyak pohon koli (lontar). Namun karena di tempat ini banyak nyamuk malaria ganas yang menyebabkan beberapa anak mereka meninggal, maka mereka tinggalkan tempat ini berangkat menuju ke arah selatan hingga tiba di Atawolo.

Namun demikian beberapa saat kemudian orang Karangora kembali meninggalkan Atawolo, dengan hanya meninggalkan seorang di antara mereka yang terus menetap di Atawolo.  Orang Karangora yang ada di Atawolo, saat heban lewor (pesta peresmian kampung)  Lusi Lia Lame yang kemudian jadi Atawolo, diberi tugas khusus menjaga Bawalowe Matan atau pintu gerbang atas desa sebagai benteng pertahanan desa, dengan pemimpinnya bernama Bala Gego,sehingga dikenal istilah ” wejeken je Balagego”.  Di rumah adat Karangora di Atawolo juga disimpan lida manusia   (Atedike Elewen).

Dikisahkan ,  saat pengungsi Awololong dari suku ini sampai di Wai il, ada seorang tua yang sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan dan minta ijin untuk tetap menetap di Wai il. Sebelum meninggal orang tua ini minta agar saat ia mati, lidanya dipotong agar bisa dijadikan obat. Lida itulah yang dikenal sebagai Atedike Elewen di Atawolo yang dipercaya mampu menyembuhkan penyakit.

Sementara itu, rombongan pengungsi Awololo  tadi  kembali berbalik arah ke timur dan menetap sementara di dataran rendah Lewokoba-Watuwawer (Lew Koba Geneke) yang  saat itu kedua desa ini sudah ada. Di sini mereka kemudian pindah lagi, meninggalkan seorang lagi yang menetap di sini mungkin karena menikah dengan gadis di sini. Mereka akhirnya tiba di Kerewak Ora dekat desa Atalojo. Atas petunjuk orang Atalojo, mereka meninggalkan Kerewak Ora menuju bekas kampung Orang (suku) Meluelam yang terletak di kaki bukit.

 

Pengungsi Awololo, Bangun Desa Karangora

Jumlah kepala keluarga yang tiba di bekas kampung Orang Meluelam ini tercatat delapan orang. Mereka adalah Mado Ape, keturunannya sekarang Pito Mado. Hinga keturunannya kini Labi Balok dan Huba Balok. Langaria sekarang keturunannya Hama Baha Labi. Hoge, keturunannya Hepa Hoge. Edu, keturunannya Balawelin. Kewihal, keturunannya sekarang Bala Mujeng. Belia, keturunannya sekarang Kote Bala dan Bai Tue keturunannya sekarang Baha Benenok dan Wajo Benenok.

Ke delapan kepala keluarga ini lalu membangun rumah dan membentuk desa tempat tinggalnya di sini. Untuk melindungi desanya dari serangan musuh, mereka menanam tanaman kaktus berduri di sekeliling desa.

Semula semuanya tinggal di Karang Ora Lew Lere. Namun suatu saat terjadi perselisihan antara  keluarga Mado Ape dan keluarga Hinga. Akhirnya  kelurga Hinga pindah ke Lew Golo. yang juga disebut Nia.  Sebelum berpisah keduanya bersumpah bahwa jika pihak Mado Ape yang benar, maka keluarganya  akan berkembang biak sampai  ke Waimata. Sebaliknya jika pihak keluarga Hinga yang benar maka keluarganya akan berkembang biak sampai ke Gertawa.

Ternyata kemudian Karangora Lew  Lere berkembang pesat penduduknya sehingga tidak mampu lagi menampung semuanya. Maka sebahagiannya lalu pindah ke Lew Golo (Nia) mengikuti keluarga Hinga dan sebahagian lain pindah ke bukit yang namanya  Mado Belao dan Pau Woloi. Sementara perselisihan antara pihak keluarga Mado Ape dan Hinga akhirnya bisa dipulihkan kembali. Dengan kembali bersatu, kampung ini semakin besar, karena penduduknya terus bertambah.

 

Melu Elam  dan  Suku Pendatang Bergabung

Menurut kisah, Kampung Karangora ini kemudian didatagi lagi  oleh suku-suku lain dan diterima oleh orang Karangora untuk menetap di sini. Orang Meluelam yang pertama kali datang bergabung. Mereka sebenarnya adalah pelarian dari Lepan Batan (Kroko Puken) yang terus mengembara, mencari tempat yang aman untuk dihuni. Di sini mereka berkembang pesat sehingga kemudian pecah menjadi tiga anak suku yakni Melu Elam Blikololo, Melu Elam Nara Gawak dan Melu Elam Emi Ora.

Setelah itu datang lagi ke Karangora suku Tantuka, Koker Henaki, dan Atalaya dari Duan, dekat Lerek. Akibat Gunung Adowajo di Lerek meletus, suku Atalaya yang semula tinggal di sekitar sebatang pohon kayu aman, mereka kemudian merubah nama sukunya menjadi Suku Kayuama.

Seiring dengan  kedatangan suku-suku yang baru dan menetap di Karangora, maka wilayah pemukiman ini semakin luas maka dibagi menjadi 5 kampung. Kampung Karangora Lew Lere dengan kepala kampungnya Mado Ape. Karangora Lew Golo (Nia Gertawa) dengan kepala kampungnya Pito Hinga. Madobelao  dengan kepala kampungnya Teka. Kepaong Ora dengan kepala kampungnya Galot Rehi Namang dan Meluelam dengan kepala kampungnya Bulet Elaman.  Kampung Lama Karangora kemudian pindah ke Kahapuka atau Dua Lei sejak 1939 hingga sekarang.

 

Agama Asli dan Adat Budaya Leluhur

Leluhur suku Karangora dari negeri asalnya Awololo saat pengungsian dan pengembaraannya yang panjang, ternyata tetap memegang teguh kepercayaan aslinya kepada Lejo Wulan Tana Ekan sekaligus penghormatan kepada leluhur dan nenek moyang. Mereka membawa serta benda-benda keramat warisan leluhur, mendirikan rumah adat dan koker serta nubanara tempat berlangsung berbagai  macam ritual adat.

Misalnya upacara memanggil hujan, jika musim panas berkepanjangan. Ritual bati-welok atau berburu. Adat perkawinan seperti mere rone, Bot Rone, Pui Kler Mal (Doka Kleruk Malor) melamar gadis. Ada ritual Hadak Keneba, Ritual Pui Mowak, (menenun), Aw-Egep, Amet-Prat dan lain-lain. Warisan kesenian tradisional antara lain tari hedung (tari perang) lengkap dengan senjata, topeng dan henudem. Juga tarian namang, lian (tandak), tule hele, bela diri tradisional hadok dan lain-lain.

Semuanya ini jelas membuktikan bahwa negeri leluhur Suku Karangora yakni Awololo telah  memiliki agama asli percaya kepada Lera Wulan Tana Ekan, punya Nubanara dan telah  berbudaya tinggi dengan aneka ragam ritual adat yang dimiliki turunannya yang mengungsi hingga saat ini.

Sementara kisah Kar Pana atau pengungsian leluhur suku Karangora seperti diuraikan di atas, merupakan kisah sejarah yang diturunkan dari generasi ke generasi lewat cerita tutur, mengingat zaman leluhur dulu,  belum dikenal aksara dan huruf.

Selain suku Karangora, suku Amanuban (Nuban) di Atadei juga dikisahkan merupakan pelarian dari Awololo. Suku Amanuban konon berasal dari Timor kemudian menetap di Lepan Batan, namun setelah terjadi bencana Lepan Batan, mengungsi ke Atanila, kemudian ke Uyelewun di Kedang, lalu menyeberang ke Mawa di Lewotolok, selanjutnya menetap di Awololo.

Saat terjadi bencana Awololo, suku Amanuban menuju daratan Lebatukan, Sebagian menetap di Wai il, yang lain meneruskan pengungsian ke Udak, Lewuka terus ke Labala dan tiba di Nuba di pantai  Belu hinga atau Nira wati daerah Tuwe Lenge, sebelum bersatu dengan suku-suku lain membetuk desa Lame Lusi Lako (Atawolo).

Di Atawolo suku Nuban ini mendapat tugas khusus menjaga keamanan sayap sebelah kiri desa  (utara), maka selalu disebut “Heken Weli Pruhe Nubenen”. Suku Nuban ini menguasai wilayah yang cukup luas mulai dari pantai Nira Wati, menyusur bukit hingga Wai Laba Wuhun yang  berbatasan dengan wilayah orang Waiwejak dan biasa disebut Nubenei de Imen (wilayah orang Nuban).

Pengungsi  dari  Awololo ini  telah  menurunkan generasi penerus dalam wujud kehadiran suku-suku yang tersebar di Tanah Lembata hingga kini,  juga adalah fakta sejarah. Sementara peninggalan warisan budaya dan kesenian  yang masih digelar hingga saat ini, membuktikan bahwa masyarakat kita mencintai budaya leluhurnya.

Semua ini sekaligus menegaskan bahwa Awololo negeri leluhur  Suku Karangora serta sejumlah suku lainnya yang tersebar di Tanah Lembata, adalah Sebuah Situs Sejarah dan Budaya yang perlu dilindungi dan dilestarikan dengan Perda.

Salah satu bukti paling konkrit bahwa orang mencintai dan menghormati  warisan budaya kita terlihat pada musim pilkada entah eksekutif atau legislatif.  Rumah-rumah adat  suku,  suka disambangi para calon untuk minta restu leluhur, terlepas  setelah terpilih, mampir lagi ke rumah adat itu atau tidak.  Sesungguhnya  itu  merupakan  sebuah pengakuan terhadap eksistensi adat, budaya serta kearifan lokal kita yang harus dilestarikan dan dilindungi undang-undang atau  perda, termasuk Awololo sendiri sebagai asal usul banyak suku dan dijadikan destinasi wisata budaya dan sejarah.

Seandainya semua anak kampung di Lembata ini menggali dan menulis kisah asal muasal leluhurnya lengkap dengan adat budaya yang dimilikinya, betapa kayanya kearifan lokal yang bisa diperoleh untuk diturunkan ke generasi berikutnya.

Cintailah Sejarah dan Budaya  Lembata Masa Lalu, Untuk Membangun Lembata Masa Depan, Pada Pijakan Sejarah dan Budaya.

*) Penulis Anak Kampung Waiwejak,  tinggal  di  Bogor)    

Sumber:

  1. Wawancara dengan Bapak Guru Pit Kepata Karangora  2011 di Lewoleba
  2. Naskah berjudul ” Karangora Dalam Panca Windu), 1979 dari Bapak  Pit Kepata  Karangora
  3. Lame Lusi Lako,Dari Tanah Nubanara Menuju Tanah Misi, karya Thomas Ataladjar, penerbit Koker,Jakarta,2015.
  4. Ngobrol santai dengan Bapak Cypri Preto Karangora tahun 2011 di Karangora

Komentar ANDA?