Kamis, 21 November 2019

news flash

Bahasa dan Kehidupan 

Oktober 29th, 2019 | by Bonne Pukan
Bahasa dan Kehidupan 
Opini
0

Oleh: Dra. Christina Purwanti, M.Pd.

 

BAHASA dalam hidup manusia selalu menujunjukan simbol dan tanda. Seorang bayi yang barusan lahir ditandai dengan teriakan dalam dunianya yang bisa tergambar keluar lewat tangisan. Tangisan ini pertanda adanya sebuah kehidupan baru, mulai ada.

Terikan semakin terasa berlalu dari hari ke hari mengalir dalam waktu, dan seluruh waktu dalam setiap teriakan itu pun, segera menunjukan sebuah simbol baru bahwa yang menangis itu adalah seorang anak manusia yang mulai mengalami dan merasakan kondisi dunia dalam dunianya sebagai seorang bayi atau seorang anak.

Tanda dan simbol ini pun terus teridentifikasi dari hari ke hari oleh lingkungan yang sangat terspesifik dalam dunianya anak-anak, sampai pada usia tertentu ia bisa menyebut kata ‘mama’, kepada ibunya sendiri.

Inilah sebuah pertalian rahasia kehidupan antara ibu dan anak saat momen pertama kali anaknya menyebutkan kata mama kepada Ibunya sendiri.

Sebetulnya pada bagian ini, bahasa kehidupan mulai berbicara dalam makna yang sangat luas dan dalam, antara seorang ibu yang lagi menguraikan buah rahimnya dalam keadaan teduh dan tenang hatinya, yang kini telah hadir dalam sosok manusia di hadapan matanya sendiri. Indah dan memang indah rasanya sebuah makna yang jika disimak secara mendalam maka inilah rahasia Allah yang tak sanggup untuk dilukiskan.

Entahkah, inilah yang disebut sebagai sebuah misteri kehidupan manusia dalam bahasa…

Bahasa terus berkembang dalam budayanya sendiri termasuk budaya pengguna bahasa. Lewat budaya pengguna bahasa kita bisa menyimak makna dan nilai dari sebuah bahasa yang diperluas maknanya karena melalui bahasa, kita bisa memproduksi makna sebanyak-banyaknya yang termasuk di dalamnya. Makna dan nilai bahasa bukan hanya diproduksi lewat pengguna budaya bahasa tertentu, tetapi lebih dari itu lewat penerima bahasa yang mampu memaknai sesuai penerima budaya bahasanya sendiri. Kita bisa membayangkan momen seperti ini terjadi di dalam bahasa lisan atau pun bahasa tulisan; belum lagi termasuk bahasa verbal dan non berbal. Seluruh makna bahasa sangat beragam dan penuh dengan aneka peristiwa yang dalam hal ini budaya bahasa.

Seluruh makna bahasa dalam setiap peristiwa; masing-masingnya juga selalu menunjukan makna dan juga nilai dalam bahasanya sendiri. Bagaimana memakna sebuah bahasa dalam kehidupan; ya, tentu rileks saja, itulah idealismenya.

Sebuah pertanyaan segera menyusul dalam momen pesta bulan bahasa di bulan Oktober ini: Bagaimana memaknai bahasa Indonesia dalam momen sekarang.

Kaum muda ketika itu terjadi Sumpah Pemuda di tanggal 28 Oktober 1928, tampil di panggung negara mengikrarkan Sumpah Pemuda dengam isi lengkapnya adalah: 1. Kami putra dan putri Indonesia mengakui tanah air satu, tanah air Indonesia. 2. Kami putra dan putri Indonesia mengakui berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan yang ketiga adalah kami putra dan putri Indonesia mengakui berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Dalam pemahaman di atas, penulis berpendapat bahwa yang paling afdol atau yang bisa menjadi perekat utama dalam Sumpah Pemuda adalah bahasa, bahasa Indonesia.
Sumpah pertama dan sumpah kedua pun, terungkap di dalam bahasa Indonesia yang benar dalam pemaknaannya dan baik dalam nilai rasa bahasanya.

Lewat bahasa, seluruh suasana Kongres Pemuda Indonesia saat itu menjadi hidup. Dengam afirmasi utamanya yakni: Bahasa bisa menjadi simbol dan tanda kehidupan baru dalam mengidentifikasikan kehidupan baru bagi rakyat Indonesia yang diwakili oleh kaum muda ketika itu.

Bahasa Indonesia menjadi sangat rileks dalam penggunaanya dan dalam pemaknaannya, jelas terungkap secara lengkap dan sempurna dalam seluruh makna bahasa yakni Bahasa Kehidupan. ***

 

*) Penulis adalah Dosen Bahasa Indonesia, Universitas Pelita Harapan.

Komentar ANDA?