Kamis, 18 Juli 2019

news flash

BAHASA DAN MAKNA : SEBUAH KONSEP PEMIKIRAN

Maret 3rd, 2019 | by Bonne Pukan
BAHASA DAN MAKNA : SEBUAH KONSEP PEMIKIRAN
Opini
0

Oleh : Dra. Christina Purwanti, MPd

FOKUS pembahasan pada penulisan ini adalah tentang bahasa dan makna. Bahasa dan makna mempunyai kesamaan dalam topik pembahasan tentang perihal bahasa yang keduanya berbeda dalam cara menyampaikan dan inti permasalahan. Sebuah pertanyaan awal yang perlu dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana seharusnya bahasa dan makna hadir bersama dalam sebuah percakapan atau secara lebih reflektif dapat dikatakan bagaimana seharusnya dunia, kalau bahasa harus mempunyai makna tertentu. Ini adalah ranah analisis bahasa yang merupakan metode yang tepat bagi pemikiran tentang bahasa yang tentu diselesaikan dengan analisis bahasa. Dalam logika terapan disebut sebagai upaya pencarian sebuah klaim nilai yang tersirat didalam sebuah pembahasan.

Sebuah ungkapan untuk membuka pembahasan selanjutnya dalam tulisan ini adalah: batas-batas bahasaku berarti batas-batas duniaku. Batas bahasaku menunjukkan batas duniaku, karena itu bagi seorang pemikir; “mengenai yang tidak dapat dikatakan, lebih baik diam”.

Pada bagian ini termaktublah apa yang disebut oleh seorang pemikir yang berkecimpung dalam bidang bahasa : Wittgenstein yakni teori mozaik atau teori gambar. Dalam teori ini digambarkan bahwa bahasa berkonfigurasi sejajar dengan dunia. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat bi-univok dengan setiap objek yang difigurkan. Tanpa hubungan itu, perihal bahasa tidak mempunyai arti atau tidak mempunyai makna.

Menurut teori gambar, sebuah pernyataan yang mempunyai makna perlu menunjukkan logis tertentu yang disusun sedemikian rupa, sehingga nama-nama yang dalam linguistik disebut kata-kata yang menyusun pernyataan itu dapat berkaitan dengan objek yang mau diacu oleh nama-nama tersebut, dalam situasi di mana eksistensi pernyataan itu benar dan diakui.

Dalam bahasa etika, Wittgenstein mengatakan bahwa duniaku sebatas bahasaku. Batas bahasaku menunjukkan bahasa duniaku. Semua yang dapat dikatakan hanyalah fakta. Dalam hal ini etika tidak berbicara mengenai fakta atau data. Wittgenstein menegaskan bahwa makna dunia berada di luar dirinya. Dalam dunia yang ada hanya yang menyatakan dirinya sebagaimana terjadi dan tidak ada nilai di dalam dirinya. Fakta terungkap lewat bahasa dan makna.

Dalam teori makna yang berfokus pada penggunaan dan permainan bahasa menjadi sangat penting dalam berbahasa dan memberi makna. Kedua hal tersebut dapat terjadi dalam percakapan dan dalam dialog yang lebih bersifat akademis. Kedua hal tersebut menjadi sangat penting dalam perihal bahasa dan dapat dibahas sebagai berikut.

Pertama, makna dalam penggunaan (meaning in use). Bagi Wittgenstein masalah bahasa pertama-tama adalah masalah menggunakan beberapa bunyi tertentu. Dengan itu lantas ia mengatakan bahwa di luar penggunaan, dalam kenyataannya, sebuah tanda menjadi mati. Sebuah tanda akan menjadi hidup, menjadi bermakna, justru dalam penggunaan.

Penggunaan sebuah tanda merupakan nafas kehidupan tanda yang bersangkutan.
Peralihan dari persoalan makna kepada makna dalam penggunaan didasarkan pada pengertian umum bahwa makna sebuah kata terdapat pada objek yang dilambangkannya. Kata, di satu pihak menunjukkan sesuatu yang dapat diinderai keberadaannya. Misalnya, semut, kambing, domba, pohon, kursi. Kata-kata ini bermakna karena menamakan sesuatu. Tetapi di lain pihak terdapat banyak kata yang tidak menunjukkan benda, misalnya, sudah, boleh, maka, dan. Karena itu jangan ditanyakan apa arti sebuah kata tetapi bagaimana sebuah kata digunakan secara benar dan baik.

Kedua, permainan bahasa (language games). Bahasa bukanlah sebuah fenomen sederhana melainkan merupakan sebuah fenomen yang sangat kompleks. Di dalam bahasa terdapat jumlah permainan bahasa yang tidak terhitung. Dengan bahasa yang sama kita dapat memaparkan sesuatu, memberi perintah, menanyakan sesuatu, berterima kasih, berdoa, bernyanyi, dan seterusnya. Bahasa bagaikan alat pertukangan dalam tas seorang tukang. Sebagaimana tidak ada satu penggunaan pasti dan sangat terbatas pada suatu alat, demikian pun bahasa, tidak ada penggunaan pasti dan ketat untuk setiap kata. Kata-kata bagaikan buah catur yang dapat dimainkan ke segala macam arah.

Dalam permainan bahasa (languages games) terdapat beberapa pikiran pokok yang perlu diperhatikan :

Pertama, ada banyak permainan bahasa tetapi tidak ada hakikat yang sama di antara permainan-permainan tersebut. Esensi setiap permainan selalu berbeda. Setiap permainan selalu menyatakan satu pernyataan tertentu. Antara permainan-permainan ini hanya dikenal satu permainan kesamaan yang searah.

Kedua, dalam aneka permainan bahasa terdapat kesamaan yang searah. Dengan itu tidak mungkin menentukan dengan persis batas-batas pemahaman mengenai permainan. Yang mungkin dilakukan ialah melacak batas-batas untuk mengetahui apakah hal itu dapat disebut suatu permainan atau tidak. Batas-batas permainan itu sendiri bisa kabur dan bisa menjadi sulit untuk dipahami.

Ketiga, Kendatipun orang tidak tahu persis sebuah permainan, tetapi ia tahu apa yang dapat dibuat dengan sebuah permainan. Permainan memang merupakan sebuah konsep yang sangat halus dan sulit didefinisikan. Kita tidak dapat menjelaskan dengan tuntas konsep permainan. Kita hanya menyampaikan contoh-contoh permainan yang berbeda-beda; dan yang paling utama tentang perihal bahasa adalah bahasa apa yang digunakan dan makna apa yang mau dipahami. ****

======

*)Penulis adalah Dosen bahasa Indonesia, Fakultas Liberal Arts, Universitas Pelita Harapan, Jakarta

Komentar ANDA?