Kamis, 18 Juli 2019

news flash

Bahasa Dan Respons Dalam Komunikasi

Februari 24th, 2019 | by Bonne Pukan
Bahasa Dan Respons Dalam Komunikasi
Opini
0

Oleh : Dra. Christina Purwanti, MPd

BERBAHASA adalah hal yang mutlak dalam kehidupan dan sebagai alat komunikasi dalam keseharian kita. Bila seseorang sudah paham dengan maksud dan tujuan si pembicara, itu berarti bahasa sudah mencapai tujuan dalam menyampaikan sebuah pesan dalam berkomunikasi. Lain halnya jika dalam kondisi resmi, kita harus mempelajari pola-pola tertentu. Setiap bidang dan keahlian memiliki bahasa khusus dan maksud berbeda. Itulah yang harus dipelajari menurut tujuan atau maksud tertentu dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa baik secara lisan ataupun tulisan.

Peran Bahasa akan berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan manusia, bukan saja sekarang, puluhan tahun yang akan datang pun akan sangat berpengaruh. Seorang penceramah dapat menyampaikan ide dan pesannya melalui bahasa lisan. Seorang penulis buku atau penulis jurnal misalnya, menyampaikan idenya melalui bahasa tulis. Bahasa lisan atau bahasa tulis; akan sama-sama berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Hanya saja bedanya, ketika bahasa lisan itu didengar oleh pendengar, terkadang isinya menjadi bias. Demikian juga ketika bahasa tulis dibaca oleh pembaca, terkadang juga terjadi pembiasan karena pembaca tidak memahami makna yang tersirat dan tersurat didalam tulisan tersebut. Dengan kata lain seperti tergambar dalam logika terapan tentang premis-premis dan kesimpulan yang sangat bertolak belakang karena terdapat kesalahan bentuk dan isi yang ditunjukkan melalui bahasa tulisan dan lisan.

Orientasi dan makna bahasa lisan dan tulisan dalam komunikasi adalah dua hal yang seharusnya dipadukan dalam menyampaikan pemikiran atau maksud yang terdalam dari seorang penutur atau seorang komunikator yang bakal disebut sebagai sang penutur sejati dan sang komunikator ulung. Melalui kata, kalimat, paragraph, sebuah teks yang menginformasikan sebuah pemikiran yang beruntun selalu diungkapkan lewat dua sosok penting yakni bahasa dan komunikasi.

Bahasa menghidangkan sebuah ujaran yang didalamnya penuh proposisi-proposisi yang mesti dikaji secara mendalam atau seksama didalam bahasa itu sendiri; Sedangkan komunikasi menghidangkan ruang, waktu dan kondisi yang tepat agar bahasa bisa ditampilkan sosoknya. Disinilah penggunaan metafora sangat penting dalam berkomunikasi. Penggunaan metafora dalam berkomunikasi melalui bahasa (sastra, misalnya), itu tergolong memiliki level yang sangat tinggi tingkat penggunaan bahasa dalam berkomunikasi. Jadi, sebenarnya metafora bukan hanya terbatas di dalam bahasa (sastra) melainkan di dalam setiap jenis komunikasi.

Komunikasi memiliki bahasa tersendiri dan untuk mengerti bahasa komunikasi seharusnya juga, orang menggunakan bahasa yang tepat untuk meresponnya. Dengan kata lain bahasa komunikasi dapat dipahami secara tepat kalau terjadi ketepatan respons dalam berbahasa. (Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi, 2005:127)

Ketepatan respons; artinya, respons A harus diikuti oleh respons B yang sesuai. Dalam percakapan, misalnya, pertanyaan harus disambut dengan jawaban, lelucon dengan tertawan, permintaan keterangan dengan penjelasan. Respons ini bukan saja berkenaan dengan pesan-pesan verbal, tetapi juga pesan-pesan nonverbal. Jika pembicaraan yang serius dijawab dengan main-main, ungkapan wajah yang bersungguh-sungguh diterima dengan air muka yang menunjukkan sikap tidak percaya, hubungan interpersonal mengalami keretakan. Ini berarti memberikan respons yang tidak tepat.

 

Dua Respons

Respons dalam berbahasa terbagi ke dalam dua kelompok : konfirmasi dan diskonfirmasi (Tubbs dan Moss, 1974: 259-298). Konfirmasi menurut Sieburg dan Larson adalah “any behaviour that causes another persons to value himself more”. Sebaliknya diskonfirmasi adalah “behaviour that cause a person to value himself less”. Konfirmasi akan memperteguh hubungan interpersonal, sedangkan diskonfirmasi akan merusakkannya. Bayangkanlah, pada suatu hari Anda menonton film. Usai menonton, Anda memberi komentar, misalnya “Merriam Belina bermain baik sekali.” Berbagai respons dapat saya berikan setelah menonton film. Saya mungkin berkata “Saya setuju – ia memang bintang yang terbaik saat ini,” atau, “Aneh benar engkau ini. dalam film itu, justru Merriam bermain jelek sekali.” Respons pertama adalah konfirmasi, dan respons kedua adalah diskonfirmasi. Respons yang termasuk konfirmasi dan diskonfirmasi dijelaskan di bawah : (Jalaludin Rahmat, 2005)

Konfirmasi. Pertama, pengakuan langsung (direct acknowledgement); Saya menerima pernyataan Anda dan memberikan respons segera; misalnya, “Saya setuju. Anda benar.” Kedua, perasaan positif (positive feeling) : Saya mengungkapkan perasaan yang positif terhadap apa yang sudah Anda katakan. Ketiga, respons meminta keterangan (clarifying response) : Saya meminta Anda menerangkan isi pesan Anda; misalnya, “Ceritakan lebih banyak tentang itu.” Keempat, respons setuju (agreeing response) : Saya memperteguh apa yang telah Anda katakan; misalnya, “Saya setuju – ia memang bintang yang terbaik saat ini.” Kelima, respons suportif (supportive respons) :  Saya mengungkapkan pengertian, dukungan, atau memperkuat Anda; misalnya, “Saya mengerti apa yang Anda rasakan.”

Diskonfirmasi. Pertama, respons sekilas (tangential response): “Saya memberikan respons pada pernyataan Anda, tetapi dengan segera mengalihkan pembicaraan; misalnya, “Apakah film itu bagus?” “Lumayan. Jam berapa besok Anda harus saya jemput?” Kedua, respons impersonal (impersonal response): Saya memberikan komentar dengan menggunakan kata ganti orang ketiga; misalnya, “Orang memang sering marah diperlakukan seperti itu.” Ketiga, respons kosong (impervious response) : Saya tidak menghiraukan Anda sama sekali; tidak memberikan sambutan verbal atau nonverbal. Keempat, Respons yang tidak relevan (irrelevan response) : Seperti respons sekilas, saya berusaha mengalihkan pembicaraan tanpa menghubungkan sama sekali dengan pembicaraan Anda; misalnya, “Buku ini bagus,” “Saya heran mengapa Rini belum juga pulang. Menurut kamu, kira-kira ke mana ia?” Kelima, respons interupsi (interrupting response) : Saya memotong pembicaraan Anda sebelum Anda selesai, dan mengambil alih pembicaraan. Keenam, respons rancu (incoherent response) : Saya berbicara dengan kalimat-kalimat yang kacau, rancu, atau tidak lengkap. Ketujuh, respons kontradiktif (incongruous response) : Saya menyampaikan pesan verbal yang bertentangan dengan pesan nonverbal; misalnya, saya mengatakan dengan bibir mencibir dan intonasi suara yang merendahkan, “Memang, bagus betul pendapatmu”

“Bagaimana menjelaskan bentuk bahasa yang selalu dihubungkan dengan makna agar dapat dimengerti oleh pendengar luas melalui sebuah teks atau terlebih melalui ucapan”; Inilah menjadi bagian yang sangat penting atau varian yang penting dalam berkomunikasi. Bahasa dan komunikasi bersama-sama memiliki kekuatan; dan respons adalah kunci jawabannya.

=======

*) Penulis adalah Dosen bahasa Indonesia, Fakultas Liberal Arts, Universitas Pelita Harapan

Komentar ANDA?