Selasa, 12 Desember 2017

news flash

Inflasi NTT Bulan November 2017 0,73 Persen

Desember 5th, 2017 | by Bonne Pukan
Inflasi NTT Bulan November 2017 0,73 Persen
Ekbis
0
Foto: Kepala BPS NTT Demarce Sabuna ketika menggelar jumpa pers, di kantor BPS NTT, Kupang, Senin. 4 November 2017

NTTsatu.com – KUPANG – Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berada pada posisi 129,10 dengan inflasi per November 2017, sebesar 0,73 persen.

Untuk dua kota di NTT, yaitu kota Kupang mengalami inflasi 0,82 persen dengan IHK 129,96 dan kota Maumere juga pada November 2017 terjadi inflasi 0,10 persen dengan IHK 123,46 persen.

Demikian kata Kepala Bidang Statistik dan Distribusi, Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Demarce Sabuna, dalam jumpa pers, di kantor BPS NTT, Kupang, Senin (4/11). Penjelasan seputar Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Inflasi bulan November 2017, Nilai Tukar Petani (NTP) NTT pada November 2017, Ekspor dan Impor NTT, Oktober 2017 dan Pariwisata juga Transportasi di NTT pada  Oktober 2017.

Dijelaskan Sabuna, perbandingan inflasi dari tahun ke tahun, November 2017 terhadap November 2016 (y on y) untuk provinsi NTT, sebesar 2,70 persen, kota Kupang, 2,66 persen dan kota Maumere, sebesar 2,99 persen.

Berdasarkan rilis yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS ) NTT, Senin, 4 Desember 2017, dipaparkan jenis komoditas yang menjadi andil penyumbang inflasi untuk Provinsi NTT dan Kota Kupang terjadi sama, yaitu dari kelompok bahan makanan.

Jenis makanan itu berasal dari kelompok bahan makanan, seperti sayur putih, ikan kembung, daging ayam ras, kangkung, wortel dan bahan bangunan semen. Sementara, komoditas utama penghambat inflasi, yaitu kakap merah, bunga pepaya, ikan tembang, daun singkong, jeruk nipis, semangka, daging sapi dan bahan bangunan pasir.

Lanjut Sabuna, kondisi di daerah pedesaan terjadi deflasi pada November 2017, sebesar 0,99 persen. Sedangkan subkelompok yang mengalami inflasi adalah makanan jadi, sebesar 0,39 persen, perumahan 0,22 persen, sandang 0,23 persen, kesehatan 0,42 persen dan transportasi 0,39 persen. Untuk subkelompok yang mengalami deflasi, yaitu bahan makanan 0,45 persen dan pendidikan 0,06 persen.

Jika dibandingkan dengan sampel 82 kota secara nasional,  kata Sabuna, terdapat 68 kota yang mengalami inflasi dan sisanya 14 kota terjadi deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Singaraja, sebesar 1,80 persen dan terendah terjadi di kota Bekasi dan Palopo dengan inflasi sebesar 0,02 persen. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di kota Tual, 2,74 persen dan deflasi terkecil di kota Manokwari, sebesar 0,02 persen.

Untuk perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP), bulan November 2017, berpatokan pada perhitungan NTP tahun dasar 2012. Perhitungan NTP ini mencakup lima subsektor, yaitu subsektor padi dan palawija, holtikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

Pada November 2017, NTP Provinsi NTT, sebesar 104,32 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat 106,98. Subsektor tanaman padi dan palawija (NTP-P), 101,92, holtikultura (NTP-H), 99,53, subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR), 197,45, peternakan dan subsektor perikanan (NTP-Pt) dan (NTP-Pi) ), sebesar 107,55.

Terkait perkembangan ekspor dan impor NTT pada Oktober 2017, jelas Sabuna, senilai US $ 2.178.026 dengan volume ekspor 7.728,41 ton, yaitu mengalami kenaikan sebesar 12,17 persen dari ekspor bulan September 2017, sebesar US $ 1.941.705. Nilai ekspor tersebut terdiri dari ekspor migas, sebesar US $ 365.924 dan ekspor non migas US $ 1.812.102.

Komoditas ekspor NTT pada bulan Oktober 2017 yang dikirim ke negara Republic Demokratic Timor Leste (RDTL), senilai US $ 2.178.026. Komoditas terbesar NTT yang dikirim ke negara tujuan RDTL adalah bahan bakar mineral senilai US $ 377.918.

Untuk impor NTT pada bulan Oktober 2017, senilai US $ 806.625 dengan volume impor sebesar 2.245.,8 ton, berupa komoditas utama bahan bakar mineral dari Singapura senilai US $ 723.000. Jika dibandingkan komulatif nilai ekspor dengan komulatif nilai impor maka pada tahun 2017 terdapat defisit, sebesar US $ 24.821.355.

Demarce Sabuna juga menjelaskan soal perkembangan Tingkat Penghunian Kamar hotel (TPK) dan jumlah penumpang angkutan udara pada Oktober 2017 di NTT. Khusus TPK di NTT, sebesar 58,97 persen. Kondisi ini terjadi penurunan 1,68 persen dibanding TPK pada September 2017, sebesar 60,65 persen. Jumlah tamu yang menginap pada Oktober 2017, sejumlah 25.740 orang yaitu 23.820 orang tamu nusantara dan 1.920 orang tamu mancanegara.

Masih di bulan Oktober 2017, rata-rata lama tamu menginap di hotel berbintang selama 1,90 hari. Tamu nusantara lama menginap 1,85 hari dan 2,64 hari untuk rata-rata tamu mancanegara menginap.

Dalam bulan Oktober 2017, jumlah angkutan udara yang tiba di NTT, berjumlah 164.142 orang. Untuk penumpang yang berangkat, sejumlah 162.654 orang. Diprediksi akan terjadi lonjakan penumpang menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru 2018. Jadi terdapat 326.796 orang bepergian melalui 14 bandara yang ada di NTT per Okrober 2017. (hms setda ntt/bp)

Komentar ANDA?