Rabu, 12 Desember 2018

news flash

HDI di Lembata: Dari Pengobatan Gratis, Pentas Seni Hingga Bukit Cinta

Desember 5th, 2018 | by Bonne Pukan
HDI di Lembata: Dari Pengobatan Gratis, Pentas Seni Hingga Bukit Cinta
Sosbud
0
Foto: Kaum Difabel di Lembata bertamasya ke Bukit Cinta, Lewoleba pada peringatan Hari Difabel Internasional, Senin, 03 Desember 2018

HARI bercuaca cerah di Lembata. Padahal kemarin dan kemarinnya di jam-jam tertentu. hujan turun dengan lebatnya. Iya, alam tengah ikut bahagia bersama mereka  di hari itu, Hari Difabel/Disabilitas Internasional (HDI) sedunia, Senin (3/12/2018). Seperti apakah para difabel di Lembata merayakan harinya?

Adalah Forum Peduli Difabel dan Keluarga (FPKDK) Kabupaten Lembata yang menginisiasi beberapa kegiatan pra dan puncak HDI. Di hari Minggu (2/12/2018) sore, para difabel dan keluarga mendapat pengobatan gratis. Meski hujan turun cukup deras pada pukul 14.00 Wita, tak menyurutkan kerja tim relawan untuk menjemput para difabel dari sejumlah titik kumpul ke pelataran gereja Kristus Raja Wangatoa, tempat dilaksanakan pengobatan gratis. Tak hanya difabel yang ada di Kota Lewoleba tetapi juga dari Ile Ape.

Tim medis dan para medis yang dipimpin dr Jimmy Sunur, Ketua Divisi Kesehatan FPKDK lalu menyambangi 200 an difabel yang sudah berkumpul. Para difabel secara bergiliran dilayani para dokter di dua tenda. Mereka umumnya diberikan vitamin. Beberapa difabel diminta untuk memeriksakan diri di faskes terdekat.

Mengapa pemeriksaan gratis? Ketua FPDK Kabupaten Lembata, Veronika Mudapue mengatakan sebagaimana dalam banyak sisi kehidupan difabel masih diabaikan, demikian pula untuk urusan kesehatan para difabel. Bahkan masih banyak orang termasuk keluarga beranggapan, difabel sakit itu biasa. Tidak perlu ditangani khusus. “Padahal karena kondisinya  berbeda, mereka mestinya harus lebih diperhatikan. Misalnya terhadap difabel yang hanya tidur saja, tidak bisa omong,“ ujar Mudapue.

Terhadap berbagai kondisi yang ditemukan tim medis setelah melakukan pemeriksaan gratis, dr Jimmy mengatakan bersama forum dia akan mengagendakan kegiatan pelayanan kesehatan rutin bagi difabel. “Kita akan turun langsung melakukan pelayanan kesehatan. Untuk saat ini, kepada keluarga para difabel agar membawa mereka (difabel) ke faskes terdekat agar bisa mendapatkan pelayanan,” ujarnya.

Foto: Kaum Difabel di Lembata yang mendapatkan perhatian pada peringatan Hari Difabel Internasional, Senin, 03 Desember 2018

Di Hari puncak HDI, acara mulai digelar pagi hari pukul 09.00 wita. Di tempat yang sama, pelataran gereja Kristus Raja Wangatoa, para difabel melakukan pentas seni. Keybord player, Acong yang juga seorang difabel, tampil menghidupkan suasana dengan lagu-lagu berbagai aliran musik. Hiburan lainnya adalah pantomin berisikan kritik sosial  yang dibawakan anak Sekolah Luar Biasa (SLB) dan SMP SLB. Ada pula musik angklung, tarian, nyanyi hingga fashion show. Mereka tampil penuh kegembiraan.

Di sela acara hiburan, para difabel juga berbincang dengan sejumlah narasumber Wakil Bupati Lembata, Dr Thomas Ola Langoday, Deken Lembata, Rm Sinyo da Gomes, Pr, Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas P2KBP3A Kabupaten Lembata, Hedv.Vian T. Banin, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Lembata, Yoanis Lalang, ST, Ketua IBI Lembata, Mien Diaz, relawan Forum Penanggulangan Resiko Bencana (FPRB), Achan Raring, mewakili Humanity Inclusion – CIS Timor, Eki dan Fred Riwu, guru SLB serta beberapa anggota difabel dan keluarga.

Masing-masing nara sumber bicara apa yang mereka pikirkan tentang difabel dan apa yang dilakukan terhadap mereka? Dipandu Freddy Wahon, Kor Sakeng dan Ramsy Langoday, bincang-bincang berlangsung santai. Ada air mata, ketika seorang difabel tuna wicara bilang, “Pak Wakil, buatlah sesuatu agar kami juga bisa ikut membangun Lembata. Sebab kami juga bisa.”

Kepada difabel yang memiliki ketrampilan-ketrampilan khusus, Wabup minta memasukan proposal agar bisa dibantu.

Acara bincang-bincang lalu dilanjutkan dengan makan bersama. Sebelum ditutup, para difabel dibawa ke tempat wisata Bukit Cinta. Dengan menggunakan kendaraan roda empat dan enam, mereka konvoi hingga tiba di lokasi. Wajah bahagia terlihat jelas ketika mereka diajak berfoto ria. “Senang, selama ini hanya dengar nama Bukit Cinta dan hari ini bisa sampe sini,” ujar mereka dalam bahasa isyarat.

Foto: Kaum Difabel di Lembata yang mendapatkan perhatian pada peringatan Hari Difabel Internasional, Senin, 03 Desember 2018

Selamat hari difabel sedunia. Seperti ini pula, Acong alias Raden Wijaya menulis isi hatinya mewakili kawan-kawannya di hari istimewa mereka:

 

Pesan untuk para pembuat kebijakan

Sebuah kalimat yang sering membuat kami termajinalkan

Sebuah hal yang kalian tetapkan jadi persyaratan

Sehat rohani dan jasmani

Melalui kalimat itu kau langsung diskualifikasi kami

Itu bukan penyakit, tapi keragaman Tuhan dalam menciptakan

Kami tak butuh dikasihkan, kami hanya perlu perlakuan penyesuaian

Angka kami dan kalian sama seratus, untuk meraihnya kita berbeda jurus.

Kalian jalan kaki, kami bertopang besi

Kalian menggunakan cahaya, kami cultural segenap indra

Kalian memakai lisan, kami sandi dan tulisan

Kalian mengoptimalkan softwear, kami memaksimalkan hardwear

Kami betul tak sama, bukan berarti harus beda

Kami hanya butuh cara

Kami bukan cacat, kurang, kami makhluk Tuhan

Sempurna menurut takdirNYA

Kalian pikir lengkap itu utuh, tapi berbuat untuk hidup secara penuh

Sadarlah wahai kalian!!!

Kami insan sempurna menurut Tuhan

Kami ada bukan untuk beban, tapi hidup bersama kalian dengan cara yang disesuaikan

Sadarlah kalian, kami sehat rohani dan jasmani

Jangan penuh teori, tapi bukti, bukan janji

Selamat hari disabilitas internasional

Mari berdampingan dalam kesetaraan

Buanglah sifat memarginalkan

(fince bataona/Humas )

Komentar ANDA?