Komisi II DPRD NTT Temukan Intalasi Pakan di Boawae Dalam Kondisi Kosong

0
491

NTTsatu.com – BOAWAE –  Boawae ini berbeda dengan ternak di Timor, kering sehingga sapi kurus namun di Boawae Nagekeo ini pakan disini cukup tersedia sehingga instalasi ini perlu didorong agar target PAD minimal mencapai 90%.

Demikian ujar Kasimirus Kolo saat meninjau perkembangan ternak pemerintah di UPT pembibitan ternak dan produksi makanan ternak di instalasi Boawae, kabupaten Nagekeo, Kamis, 13 Pebruari 2020.

Kasimirus Kolo mengatakan Kunjungan tersebut guna melihat secara langsung kondisi obyektif pada instalasi tersebut yang mana tujuan pembangunannya adalah untuk peningkatan pendapatan daerah dan pemberdayaan masyarakat.

“Ada 7 kelompok yang kerjasama dengan instalasi boawae untuk bagi hasil, namun jika tidak ada hasil maka apa yang mau dibagi, untuk itu perlu dikontrol secara baik bagi kelompok-kelompok ini,”  kata Kolo.

Dijelaskan Bambang Permana, kepala UPT pembibitan ternak dan PPT provinsi NTT, bahwa untuk penyediaan pakan ternak sedikit mengalami keterlambatan krn menggunakan sistem lelang yang memakan waktu cukup lama.

“Januari-maret kami dapat membuat pakan sendiri namun pada bulan April sampai Juni kami mengalami kekosongang pakan karena keterlambatan lelang sehingga terpaksa kami harus jual babi kasih makan babi untuk mengisi kekosongan tersebut. Bulan Agustus baru tersedia pakan itupun rekanan hanya mampu memenuhi 41,44% atau 24 ton dari 60 ton sehingga yang sisa di kembalikan”. papar Bambang.

Sergi Wea (ketua instalasi) saat diminta penjelasannya mengatakan bahwa Instalasi ternak Boawae juga mengalami beberapa hambatan dalam mengurusi instalasi Boawae. Saat ini instalasi tersebut hanya di urus oleh 9 orang yang mana seharusnya di urus oleh 25 orang. Hal ini cukup dirasakan berat oleh para tenaga kerja tersebut.

“Kami minta bantuan tambahan tenaga kerja karena kami 9 orang bukan saja harus mengurus 2 jenis ternak namun juga mengerjakan hijauan makan ternak (HMT) tambahan untuk ternak seluas 44,5 ha. air juga bermasalah, kami minta agar bisa diberikan sumur bor. Masalah lain yakni pagar pembatas yang selalu di rusak masyarakat yang ingin memasukan ternaknya ke dalam kawasan instalasi ini”  terang Sergi.

Menanggapi beberapa hambatan dan persoalan tersebut, komisi II DPRD NTT melalui Thomas tiba mrekomendasi beberapa point antara lain :
1. SDM tenaga kerja.
Harus ada kajian beban kerja yang jelas sehingga harapan dari target bisa terjawab . Tenaga kerja harus yang profesional pada bidang ini. SDM manjadi hal yang sangat penting.
2. Manajemen pengerjaan.
Sistem pengelolaan harus difasilitasi baik. Tenaga manusia boleh kurang namun dapat di dukung dengan perlengkapan tambahan yang memadai.
3. Air.
Air menjadi sumber kehidupan oleh karena itu agar disiapkan laporan resmi guna di back up pada rapat komisi nanti sekembali.
4. Target pendapatan harus jelas.

Thomas menambahkan, bahwa segala temuan dilapangan ini akan menjadi catatan penting yang akan dicari jalan keluar agar persoalan ini segera terselesaikan.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain anggota DPRD Patrianus Lali Wolo, Cornelis Feoh, Johanis Lakapu, Obet Naitboho, Reni Marlina Un, Dominikus A. Rangga Kaka, Moh. S. Puarake, Bernardinus Taek, Maria Nuban saku, Paulinus Yohanes Nuwa Veto. (L.A/humas/bp)

Komentar ANDA?