Rabu, 12 Desember 2018

news flash

Di STFK Ledalero, Gubernur Disodorkan Dua Masalah di NTT

November 24th, 2018 | by Bonne Pukan
Di STFK Ledalero, Gubernur Disodorkan Dua Masalah di NTT
Polkam
0
Foto: Gubernur NTT, Viktor Laiskodat ketika memberikan kuliah umum di STFK Ledalero, Maumere, Flores, Sabtu, 24/11/2018

NTTsatu.com – MAUMERE — Gubernur NTT, Viktor Laiskodat ketika memberikan kuliah umum di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores, Sabtu, 24 November 2018, dia disodorkan dua masalah besar yang ada di NTT saat ini yakni masalah Human Trafficking dan HIV/Aids.

Pembina Yayasan Persekolahan St. Paulus Ende, Pater Lukas Jua, SVD, dalam pembukaan kuliah umum Gubernur NTT di Aula St.Thomas Aquinas STFK Ledalero menyodorkan dua masalah pokok menantang di NTT. Dua masalah itu adalah  humman trafficking dan HIV/Aids.

Pater Lukas juga mengakui, Moratorium Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal NTT dilakukan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, dan Josef Nae Soi merupakan gebrakan positif. Salah satu tantangan berbahaya sudah diatasi gubernur dengan moratorium TKI akan menghentikan kasus perdagangan manusia, TKI menjadi modus operandi para sindikat. Seketika seisi aula bergemuruh dengan tepuk tangan dukungan.

“Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kami akan teruskan. Saat ini kami sedangkan lakukan penelitian migran di lima kabupaten. Hasil ritset akan dilokakaryakan menjadi dasar pijak pengambilan keputusan,” imbuh Pater Lukas.

Pater Lukas juga menyoroti mutu pendidikan NTT yang tak pernah beranjak dari peringkat 10 besar terbawa Indonesia. Literasi di NTT berada di peringkat terbelakang dari propinsi lain di Indonesia. Demikian juga infrastruktur jalan dan jembatan membuat aksesibilitas antar daerah menjadi rendah dan tingginya kasus korupsi menempatkan NTT pada urutan atas.

“Pertanyaan apakah agama masih releven ketika kasus korupsi makin tinggi. Di Eropa, perkembangan agama kurang baik, tetapi standar kehidupan Eropa lebih baik,” ujar Pater Lukas.

Mutu pendidikan rendah, kata Pater Lukas, tidak mampu menghasilkan tamatan yang mempunyai semangat wirausaha dan ribuan peserta tidak lulus ujian CPNS, salah satu indikator mutu pendidikan rendah.

 

Tantangan Gubernur Viktor  

 

Kuliah umum Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, kepada civitas akademika STFK Ledalero itu menjadi kesempatan bagi Viktor menularkan gagasan membangun NTT lima tahun ke depan.

“Saya tidak tertarik bangun rumah ibadah. Tapi saya tertarik bangun sistim pendidikan yang baik. Kalau bisa semua gereja di NTT berubah menjadi sekolah,” tantang Viktor disambut penuh semangat mahasiswa STFK.

Menurut Viktor, iman harus diwujudkan dalam bentuk konkrit dari yang tidak mungkin menjadi mungkin. Karena itu setiap hari kita saksikan perbuatan konkrit.

Perbuatan konkrit yang baik, kata Viktor, hanya bisa dilakukan oleh manusia terdidik yang terlahir dari sistim pendidikan yang baik. Tidak mungkin manusia yang datang dari hutan bisa buat sesuatu yang baik.

Ketika gereja menjadi sekolah, pastor, pendeta dan suster menjadi guru maka urusan manusia beres. Gereja men-`take over’ urusan pendidikan dan tugas pemerintah menjadi lebih ringan. Ia juga yakin, sumber daya manusia akan bagus, karena dididik oleh para suster dan pastor yang memiliki misi pelayanan.

“Butuh uang berapa, pemerintah penuhi. Visi melayani panggilan moral itu yang diutamakan untuk mentransfer knowladge dan karakter kepada anak didik. Kehadiran saya menantang itu. Urusan duit pemerintah yang cari. Kita bagi tugas,” ujar Viktor.

Viktor mengatakan, cap NTT provinsi literasi terendah yang malu bukan hanya gubernur. Para uskup, pastor dan pendeta juga malu. Preman, polisi, tentara dan semua ikut malu.

“Kita butuh gerakan. Mungkin juga banyak pastor dan pendeta marah kepada saya, tapi coba merenung dulu sebelum marah saya. Saya selalu berpikir ekstrem dan kerja esktrem kejar ketinggalan sekian lama,” imbuh Viktor.

Viktor penuh semangat memberikan kuliah umum. Setiap kalimat yang diucapkannya selalu membangkitkan sorakan meriah para mahasiswa.

Kuliah umum sekitar dua jam itu diikuti juga oleh Uskup Maumere, Mgr. RD. Edwaldus Martinus Sedu, Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, mantan Bupati Sikka, Daniel Woda Pallle dan  Aleks Longginus. (*/bp)

Komentar ANDA?