Selasa, 15 Oktober 2019

news flash

LAUT KEHIDUPAN (Sebuah Refleksi)

Oktober 6th, 2019 | by Bonne Pukan
LAUT KEHIDUPAN (Sebuah Refleksi)
Opini
0

*) Thomas Tokan Pureklokon

LAUT  tetap menjadi laut, yang adalah muara kehidupan bagi setiap orang, siapa pun yang bepergian.

Di udara, ia bisa melihat laut begitu indah. Di darat, dia pun bisa memandang laut dan bisa tergerak hatinya mau datang ke sana. Di laut apalagi, ia menikmati hamparan air yang lagi sedang mengelilingi seluruh tubuhnya.

Jangan lupa, hamparan air itu adalah air asin yang tak bisa diminum pada saat yang sama atau pun diteguk sedikit pun pada saat yang sama karena mengandung segala risiko dengan segala penjelasan yang termaktub di dalamnya, yang tentu punya makna, nilai dan tujuan yang sangat berbeda.

Ketika Anda berada di udara, bagaimana sikap hati Anda pada saat memandang laut dari atas ketinggian sebuah pesawat yang lagi terbang tinggi dan melaju secara cepat…

Di darat, terggantung dari titik di mana Anda berada, bagaimana sikap hati Anda ketika sedang memandang laut yang entah lagi sedang bergelora, atau sedang dalam keadaan bergelombang yang sedang diterpa amukan angin sakal. Atau pun, anda duduk, dengan sebuah buku notes kecil di tangan, sambil menulis berbagai inspirasi yang hadir dalam seluruh daya berpikir Anda, ketika sedang asyik menyaksikan alam laut, dalam keadaan tenang bening dan teduh…

Sadarlah bahwa pada bagian ini, Anda sebetulnya berada dalam dua kutub kelembutan hati yakni di satu pihan sedang menulis ide yang mengalir seperti kondisi laut yang sedang Anda alami dan juga keaslian kondisi laut secara alami yang sedang membawa seluruh kondisi Anda. Pada bagian ini munculah sebuah pertanyaan yang perlu dipikirkan bersama: Entahkan ini adalah sebuah lukisan peristiwa
yang lagi berjalan secara alamiah…

Kita kembali ke posisi kita: Bahwa baik di udara, di darat, terlebih sedang berada di laut: di situ pula sebetulnya, siapa pun, termasuk Anda yang lagi menyimak tulisan ini, sadarlah bahwa Anda lagi sedang menghadirkan sebuah sosok yang namanya seorang ilmuwan yang lagi merenung dengan indah dan tenang, sekaligus hadir sebagai seorang inspirator seniman, yang lagi menyatu dengan alamnya, atau lebih tepat disebut berada dalam budaya kehidupannya yang indah….

Indah memang dan memang indahnya budaya kehidupan seperti itu….
Anda juga pada saat yang sama, sebetulnya sedang hadir seperti sedang berdialog dengan kehidupanmu sendiri yang entah lagi dalam keadan damai, penuh sukacita dan bisa tertawa gembira, disertai dengan linangan air mata kegembiraan, karena betul-betul dalam suasana sukacita yang terus mengalir meluap-luap…

Atau pun sebaliknya, ijinkan saya mengajak Anda untuk “kembali” sebentar dalam relung kehidupan Anda yang tengah berlalu, bisa membayangkan sebuah perjuangan hidupmu sendiri yang penuh dengan kesukaran dan tantangan, dan mungkin juga penuh dengan linangan air mata kesedihan yang mengalir begitu mendalam perjuangan hidupmu sampai sekarang; yang bisa sebagai sebuah kesuksesan yang gemilang, ataukah sebuah kegagalan baru yang hanya berganti gaya, mode dan trend kehidupan secara baru mengikuti perkembangan zaman sekarang.

Entahkah ini pun, sebetulnya merupakan sebuah aktivitas ganti kulit sementara, tetapi sebetulnya tidak pernah secara leluasa dan tetap penuh risiko yang menghadang seperti meminum atau meneguk air asin, ketika berada di tengah laut….

Untuk semua hal tersebut, dengan tenang dan teduh hati, cobalah Anda narasikan dengan kata secara apa adanya, tanpa banyak berargumentasi secara rinci untuk menguraikan problem kehidupan yang terus melilit dalam kehidupan Anda, di hadapan Sang Pencipta yang empunya segalanya….

Sebuah pertanyaan: Kenapa seluruh problem, tidak diargumentasikan secara rinci dan didetailkan secara mendalam…
Jawabannya adalah pada saat yang sama, jika Anda seperti itu, maka Anda sedang mengandalkan diri sendiri, lebih unggul dan lebih hebat di hadapan Tuhan sebagai Sang Pencipta dan pemberi segalanya dalan seluruh kehidupan Anda….

Dia yang adalah Sang Pencipta yang penuh cinta dan penuh kasih sayang…selayaknya diberi ruang khusus dalam hati Anda untuk terus menumbuhkan cinta, di mana seluruh hal yang Anda pikirkan atau rasakan, atau pun pengalaman apa pun yang Anda alami, biarkan cinta dan kasih Tuhan bertumbuh dan terus bertumbuh seperti biji sesawi pada awalnya, dan nanti dan nanti, terus-menerus mengalir seperti air dan berkembang menjadi sebuah pohon rindang, yang boleh memberi naungan bagi siapa saja; tua mudah, besar kecil, laki- atau perempuan, anak-anak atau pun orang dewasa.

Sebab akhirnya: baik yang dikenal atau pun tidak dikenal. Semuanya menjadi terkenang dan terus dikenang.

Selamat jalan menuju Rumah Bapak di Surga: Romo Paskalis Gillo Hurek Making.

Praise the Lord and Love you…

=====

*) Dosen Universitas Pelita Harapan, Jakarta ).

Komentar ANDA?