Mempersiapkan Generasi Alfa Tangguh di Era Industri 4.0

0
19

Oleh: Rini Wahyuningsih, Ph.D.

 

GENERASI  Alfa yang lahir terhitung mulai tahun 2010 masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sejak lahir, generasi ini sudah terpapar degan kemajuan teknologi yang begitu pesat. Ciri-ciri generasi ini pada umumnya memperoleh didikan yang baik dari orangtua yang merupakan generasi Z dan cenderung memperoleh pendidikan cukup baik dan hanya memiliki satu hingga dua anak saja serta berupaya menyekolahkannya secara maksimal, Pendidikan kedua generasi ini didukung oleh peran pemerintah membebaskan biaya pendidikan hingga jenjang sekolah menengah (id.theasianparent.com).

Generasi alfa tumbuh di era revolusi industri 4.0 dengan capaian teknologi otomatis dan artificial intelligence dimana tenaga manusia digantikan secara robotik. Di negara maju seperti Jepang, teknologi super canggih dengan cyber ini bahkan telah menggantikan tenaga manusia dalam proses produksi di industri.

Namun demikian, peran manusia diharapkan dapat menguasai teknologi dan mampu berpikir secara inovatif, kreatif, fleksibel, adaptif, dan open-minded. Dunia pendidikan diharapkan mampu mengimbangi kemajuan teknologi dan menyiapkan anak didik agar kompeten dan mampu berkolaborasi serta bersaing secara global.

Kompetensi global seperti apa yang diharapkan di era Revolusi Industri 4.0? Seseorang dengan kompetensi global diharapkan mampu memenuhi kriteria yang harus dipenuhi baik dari segi nilai-nilai, tingkah laku maupun keahlian yang memadai (www.worldsavvy.org ) Nilai-nilai yang diharapkan adalah terbuka terhadap kesempatan, ide, dan cara berpikir yang baru. Perlu adanya keinginan untuk berelasi dengan yang lain. Kesadaran tentang identitas diri dan kebudayaannya serta sensitif dan respek terhadap perbedaan, keanekaragaman persepsi, refleksi terhadap konteks yang lebih luas, adaptif dan cekatan, berempati, serta rendah hati.

Kemampuan bertanya secara kritis, analitis dan sintesis untuk mencari solusi di setiap permasalahan sangat diperlukan. Yang bersangkutan mampu berkomunkasi dan berkolaborasi secara efektif, aktif mendengarkan dan berdialog serta ahli dalam teknologi digital. Akhirnya, yang bersangkutan mampu berbagi tanggung jawab,dan pengetahuan serta menterjemahkan ide, keprihatinan, dan temuan untuk pemecahan masalah.

Apa implikasinya terhadap Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia? Menurut UU No. 20/2003 Sisdiknas pasal 1 ayat 14, PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun melalui stimulasi pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan pendidikan lebih lanjut. Jadi jelas bahwa Paud membantu pertumbuhan anak secara holistis untuk masa depannya. Merujuk pada PP 17 tahun 2010, tujuan PAUD Indonesia adalah membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berkepribadian luhur, sehat, berilmu, cakap kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab; dan mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, kinestetis, dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.

Tujuan pendidikan Paud di Indonesia ini selaras dengan kompetensi global yang diharapkan di generasi alfa. Hal ini berarti Indonesia semestinya siap menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan tantangan global. Namun kesemuanya ini tergantung pada kinerja para pendidik sebagai garda depan pelaksana pendidikan.

Kualitas guru merupakan penentu kualitas lulusan program Paud. Pertama, apakah guru-guru Paud berkompeten sesuai dengan latar belakang pendidikan minimal S1 di bidang Paud? Di lapangan masih bisa dijumpai guru dengan pendidikan SMA dan sederajat.

Kedua, apakah guru mendapatkan pelatihann mengenai metode mengajar, rencana pembelajaran, alat bantu mengajar, penilaian terhadap kinerja anak didik, dan perkembangan anak usia dini?

Ketiga, guru Paud didominasi kaum perempuan. Stigma yang menyatakan bahwa naluri pengasuhan hanya ada pada seorang perempuan harus diubah karena figur seorang laki-laki juga diperlukan dalam Paud. Salah satu penyebabnya adalah remunerasi bagi guru Paud yang tidak memadai sebagai seorang kepala keluarga dengan profesi sebagai guru Paud. Paradigma ini harus diubah agar kesenjangan isu profesi di Paud tidak hanya didominasi kaum hawa.

Keempat, apakah ketersediaan guru Paud merata di Indonesia hingga di tingkat kelurahan? (www.forumpaudntb.org) Jika belum, ini berarti anak usia dini belum memperoleh hak untuk memperoleh stimulasi kognitif, afektif dan motorik sesuai tingkat perkembangannya. Pendidkan karakter dan sosio-emosional pun dimulai sejak dini. (www.vale.com) melalui bermain sehingga anak-anak dapat merekonstruksi makna dan cara permainan ke dalam aspek kognitif dan afekstif mereka. Penggunaan role model guru dan pengasuh sangat diperlukan karena secara tidak langsung dapat mempengaruhi dan membentuk kepribadian anak.

Selain itu, lingkungan yang kondusif juga secara tidak langsung dapat membentuk karakter dan menstimulasi perkembagan di segala aspek. Bunda Paud berawal dari Ibu Almarhumah Ani Yudoyono hingga Ibu Iriana Jokowi yang selalu menyemangati perkembangan Paud di Indonesia dan turut mendukung penyebaran Paud hingga ke seluruh pelosok negeri agar tercapai tujuan Direktorat Jenderal Paud bahwa setiap anak di usia kurang dari 6 tahun pernah mengikuti program Paud yang tersebar luas di setiap kelurahan di Indonesia.

Kendati secara formal Dirjen Paud baru didirikan tahun 2012, namun program Paud telah disemaikan sejak semula oleh masyarakat sebagai pendidikan nonformal. Kini dengan wadah yang tersedia, telah banyak aktivitas organisasi Paud yang patut dibanggakan dari pengawasan, akreditasi, lomba-lomba hingga pemmilihan bunda Paud di setiap kecamatan hingga tingkat nasional. Namun yang paling utama adalah bagaimana menyediakan pendidikan berkualitas untuk membekali anak di masa depan sehingga dapat membangun bangsa dan mampu berkolaborasi dan bersaing secara global.

Paud di Indonesia mirip dengan program Headstart dari Amerika SertIkat di masa Lyndon B. Johnson di tahun 1965 yang didanai oleh pemerintah federal dan dicanangkan ke seluruh pelosok negeri guna memenuhi kebutuhan kesehatan, perkembangan sosial, emosional, dan psikologi anak (Wardle,2003). Hingga kini sudah ratusan ribu anak berhasil dituntaskan pendidikannya melalui program Headstart Meskipun berbagai persoalan dan rintangan yang dihadapi, program Headstart tetap bertahan hingga saat ini dan terus berinovasi dan berupaya memberikan pendidikan Paud berkualitas di negeri tersebut.

Telah terbukti bahwa program tersebut mampu membekali anak secara holistik dan meredam kriminalitas di usia remaja serta turut menentukan masa depan bangsa (www.worldbank.org/in/news/2012)
Kurang dari 50% (total 32.4 juta) usia 0-6 tahun di Indonesia mengikuti program Paud. Sedangkan PAUD berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya (www.aksibelajar.com).

Pendidikan Paud melatih perkembangan secara holistik baik itu perkembangan otak, motorik kasar dan halus, serta kecerdasan sosial emosional (Henniger, 2009). Di ASEAN angka partisipasi anak Indonesia rendah (20%) dibandingkan Filipina (27%), Vietnam (43%), Thailand (86%), dan Malaysia (89%) (UNESCO, 2005). Sedangkan keikutsertaan anak di program Paud mengurangi drop-out di sekolah formalnya.

Saat ini guru dituntut untuk dapat melatih anak didik menjadi life-long learners (pembelajar berkelanjutan) dengan megutamakan problem-solving dan kreatifitas, berpikir kritis serta kolaboratif dan independen. Guru tidak seharusnya menganjurkan anak untuk menghafalkan karena dalam kehidupan sehari-hari seseorang dituntut untuk memecahkan masalah dan mandiri. Teknologi sebagai media pembelajaran digunakan dengan bijak agar tidak berkesan pendidikan didominasi oleh teknologi. Oleh karena itu, anak didik dilatih untuk berkreasi dan berpikir kritis. Namun demikian, kolaborasi dalam team lebih diutamakan daripada kompetisi.

Seperti Menteri Pendidikan Nadiem Makarim canangkan, pendidikan seharusnya menyenangkan dan membuat anak didik menggemari sekolah, bukan sebaliknya. Dirjen Paud telah mengkampanyekan pendidikan sejíhak usia dini untuk menstimulasi masa emas balita dimulai dengan karakter, perkembangan kognitif, soisal, emosional, fisik, bahasa serta spiritual. Sarana dan prasarana perlu disediakan untuk menunjang perkembangan anak secara optimal dan mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi tangguh menyongsong revolusi industry 4.0.

====

*) Penulis dosen Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang.

Komentar ANDA?