Kamis, 18 Juli 2019

news flash

Menjadi Imam Bukan Sebuah Prestasi Apalagi Pretise

April 27th, 2019 | by Bonne Pukan
Menjadi Imam Bukan Sebuah Prestasi Apalagi Pretise
Sosbud
0

NTTsatu.com – MAUMERE – Uskup Maumere, Mgr. Eswaldus Martinus Sedu menegaskan, menjadi Imam bukanlah sebuah prestasi apalagi pretise. Imam adalah kaum terurapi dan akan menjadi pelayan umat.

Hal ini diungkapkan Uskup dalam homilinya saat mentahbiskan sembilan imam dari ordo Karmel di Kapala Biara Karmel, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat, 26 April 2019.

Semblan imam baru yang ditahubskan uskup itu masing-masing Didimus Dikwan Keumansai Moan Wodo, Valentino Untung Polo Maing, Wilfrid Abdon Ta’a, Viktorius Sesarius Gebo, Aloysius Doi

Fransiskus Pati Koten, Irenius Vinsensius Ngaku,

Fransiskus Xaverius Nenga dan Fransisco Vincenzo Franky Gare Yoseph.

Uskup Ewal mengungkakan, menjalani kehidupan membiara hingga menggapai imamat itu bukan sebuah perjalanan yang mulus, Di dalam perjalanan itu ditemukan titik-titik kehidupan yang pernuh krisis seperti sebuah padang gurun yang penuh dengan  kesepian dan kesendirian. Meski demikian, para imam baru ini tetap sadar bahwa mereka terus berjalan mengikuti Kritsus yang disalibkan dan kemudian bangkit dengan jaya.

“Menjadi iman bukan sebuah prestasi apalagi prestise. Pilihan untuk menjalani kehidupan melalui  panggilan khusus sesungguhnya datang dari kasih dan kerahiman Tuhan sendiri. Kita yang sudah beralan dalam pangilan ini diajak untuk menanggapinya penuh ketulusan dat tanggung jawab,” kata Uskup.

Lebih lanjut Uskup mengatakan, ziarah panggilan sembilan anak muda hingga ditahbiskan hari ini kembali menghadapkan semua kaum tertahbis pada kasih dan kemurahan Tuhan dalam seluruh ziarah hidup di jalan khusus ini.

“Ada kekutan dan kelemahan,  ada keberhasilan dan kegagalan yang mereka hadapi selama ini. Dan saat ini  Imamat suci sudah melingkari seluruh kehidupan mereka dan akan menguatkan mereka untuk berkarya apa pun tantangan dan kesulitan yang akan dihadapi nanti,” tantang Uskup.

Uskup kemudian mengajak para imam dan seluruh umat Katolik untuk harus berani turun dari gunung kehidupannya, keluar dari zona kemampanan dan kenyamanan dan masuk dalam debu lumpur dunia serta menyempurnakannya.

“Kita terpanggil untuk mengayait hidup kita, Rahmat Alla tercurah dalam kemanusiaan kita. Dan bahwa panggilan hidup adalah proses jalan menuju kepada kesempurnaan. Mari belajarlah mengolah dan mengelolah  kepahitan hidup ini agar hidup dalam panggilan suci ini menjadi nikmat dan menyenangkan,” pungkas Uskup kedua Keuskupan Maumere ini.

Mari Bersama Membangun NTT

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi yang juga hadir bersama ibu dan Ibu Julie Laiskodat Istri Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dalam sambutannya mengajak para ima baru untu bersama pemerintah provinsi NTT bersinergi membangun daerah tercinta ini.

Dia mengatakan, hidup sebagai imam yang adalah orang terpilih memang sangat berat karena semua mata akan tertuju kepada para imam yang muda dan ganteng-ganteng ini. Hidup para pastor muda ini sudah diberkati dan berkenan bagi Tuhan sehingga dapat menjadi saluran berkat dan rahmat  Tuhan bagi sesama.

“Saya ajak para imam sekalian yang hadir disini agar tolong baca program-program gubernur dan wakil gubernur NTT untuk dapat disampaikan kepada umat yang akan dilayani di tempat tugas masing-masing. Mari kita sama-sama membangun NTT tanpa harus membedakan  satu dengan yang lainnya,” ajak wagub sambil mengingatkan para imam baru untuk menjadi pewarta Allah yang handal. (bp)

Komentar ANDA?