Sabtu, 18 Agustus 2018

news flash

Nafsu Merengkuh Bajawa Terus Pulang Kupang Kandas

Mei 6th, 2018 | by Bonne Pukan
Nafsu Merengkuh Bajawa Terus Pulang Kupang Kandas
Opini
0
Foto: Inilah Kondisi ruas jalan dari Elar Kabupaten Matim menuju wilayah perbatasan dengan Kabupaten Ngada

Safari Politik YNS Menembus Keterisolasian Elar

 

Belum juga rasa letih menghilang dan nyeri pinggang yang masih mendera, setelah kampanye dialogis di aula Paroki Elar, kami harus segera kembali ke Bajawa dan seterusnya menuju ke Kupang dengan pesawat pribadi calon wakil Gubernur Yoseph Nae Soi yang sudah berada di bandara Soa, Bajawa, Ngada.   Tepat pukul 14.00 wita kami tinggalkan Elar.

Jarak Elar ke Bajawa hanya sekitar 50-an kilo meter dan pasti akan kami tempu minimal 2 jam lebih. Semua sudah senang akan kembali ke Kupang dan bermalam minggu bersama keluarga. Ibu Mery Dgojo istri sang Calon wakil Gubernur hanya tenang-tenang saja mendengarkan ocehan Honing Sanny yang selalu membuat lelucon dimana-mana. Seyum ibu Merry membuat kami selalu bersemangat karena seorang ibu yang setia menemani suami dan semua rombongan.

Sama seperti di Kecamatan Golewa sebelum kami ke Manggarai dan Manggarai Timur,  Honing selalu berbicara singkat namun tujuan akhirnya selain mengkampanyekan  sosok Victory-Joss dia juga selalu meminta nomor kontak tokoh-tokoh masyarakat karena dia akan maju lagi menjadi calon anggota DPR RI dari Partai Golkar. Itulah gaya Honing Sanny yang selalu membuat kami tertawa terbahak-bahak.

Hal yang sama juga di lakukan di Elar, hanya saja dia sudah sangat lihai bermain sehingga sering luput dari pengamatan kami. Namun calon wakil gubernur yang sangat awas itu justru menceritakan kalau seorang ibu muda begitu kaget menyalami Honing katanya: “Aduh pak, sudah lama tidak jumlah apa kabar?”. Peristiwa itu membuat Yoseph Nae Soi kaget benaran karena, apa mungkin orang Elar ini mengenal Honing, namun itulah kenyataan bahwa Honing memang sungguh “membumi” di Elar.

Kami bergegas meninggalkan Elar. Pikiran kami perjalanan ini akan lancar-lancar saja dengan perkiraan waktu yang sudah kami targetkan. Ternyata, semuanya menjadi berubah ketika kami meninggalkan Elar menuju Elar Selatan dan ke Bajawa. Jalanan sama seperti dari Ruteng ke Elar bahkan sebagian ruas jalan memang amat sangat parah dan lebih parah dari ruas Ruteng –Elar.

Dari pinggiran Elar, jalan berlubang mulai terlihat, lumpur  menghiasi jalanan dan bebatuan yang terlepas dari aspal yang dibuat asal jadi memang mengerikan.

Perasaan was-was mulai menyelinap masuk dalam pikiran kami semua mulai dari calon wakil gubernur dan istri serta Kristo Blasin dan Honing Sanny serta semua kami dalam rombongan dengan tiga mobil ranger dobel cabin itu.

Artus, driver mobil pertama yang saya tumpangi mulai berseloroh, “jalanan ini akan terus kita nikmati dari Elar sampai ke kali besar Wae Wole daerah perbatasan antara Ngada dan Manggarai Timur. Kita tidak bisa menempuhnya hanya dalam waktu dua jam. Dua hari lalu kami kampanye di Wukur bersama pasangan calon Bupati Frans Sarong di Wukir. Kami bukan dari Borong ke Wukir tetapi kami dari Borong menuju Bajawa baru ke Wukir”.

Penjelasan Artus itu membuat kami semua mulai berpikir, apa mungkin kami bisa terbang ke Kupang karena sesuai peraturan Perhubungan, bandara Soa yang masih kelas C akan menutup penerbangan dari dan ke Soa pukul 17.00 wita.

Mobil berjalan terseok-seok menaiki bukit dan menuruni lembah dengan kondisi jalan yang aduhai parahnya. Belum lagi kalau hujan lebat, maka kami tidak bisa menyeberang kali menuju kabupaten Ngada, karena kali besar itu kalau banjir maka putuslah transportasi darat.

Namun sebelum keluar dari Elar, Yoseph Nae Soi sudah menghubungi pihak Dinas PU agar menyiapkan alat berat escavator untuk mengangkut kami jika banjir dan mobil tidak bisa nyebrang.

Naluri jurnalis saya sudah mulai memikirkan hal yang terhebo nanti. Dalam pikiran saya muncul, aduh  kalau banjir dan calon wakil gubernur bersama istri diangkut dengan escavator maka menjadi berita terhebo dalam safar politik kali ini. Saya justru berharap agar hujan lebat dan ada banjir kemudian peristiwa itu terjadi. Saya sudah tidak berpikir lagi untuk segera pulang Kupang, tetapi berpikir  tentang kejadian besar dan menghebokan itu.

Perjalanan masih jauh, sementara jarum jam sudah menunjukan pukul 16.00. Artur berbisik masih jauh perjalanan ini dan kita tidak akan mungkin tiba sebelum jam 17.00. Beberapa kampung yang kami lewati di wilayah Elar Selatan yang menjadi basis utama Frans Sarong –Kasmir Don (Sarong Kasmir) yang juga pasti menjadi basih Victory-Joss tampak lengang. Hanya ada beberapa warga yang kami temui di jalan dan mereka berteriak Sarong-Kasmir, Victory-Joss. Sapaan-sapaan itulah yang justru menghibur kami dalam melintasi perjalanan yang sangat sulit dan meletihkan itu.

Foto: Jalan Kabupaten di wilayah Kabupaten Manggarai Tikur memang sebagiannya masih sangat memprihatinkan antara lain di wilayah Elar dan Elar Selatan

Foto: Sebagian besar jalan Kabupaten di wilayah Kabupaten Manggarai Timur memang mash sangat memprihatinkan seperti di wilayah Elar dan Elar Selatan

Kami sudah memasuki wilayah persawaan di Wae Wole dan sebentar lagi kami akan tiba di kali besar itu. Harapan akan banjir besar dan melahirkan berita besar dan hebo itu nampakya tidak akan kesampaian karena tidak ada hujan juga.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.15 menit, itu artinya kami akan gagal terbang ke Kupang. Tepat jam 17.30 kami sudah berada di wilayah Kabupaten Ngada. Sudah ada sejumlah mobil yang menjemput kami untuk mengantar kami ke Bandara.

Para sopir sepakat untuk bisa menempuh perjalanan dari wae wole itu ke Bandara Soa dalam waktu 30 menit. Memang jalan menuju Bandara Soa sudah hotmix. Benar juga, dalam waktu 30 menit, tepatnya pukul 18.00 kami tiba di Bandara Soa, Negosiasi antara Yoseph Nae Soi dengan pihak bandara memang tidak bisa berhasil mengijinkan kami terbang ke Kupang senja itu. Kami baru dijinkan terbang ke Kupang, besok harinya pukul 07.00 wita.

Kami harus kembali ke Bajawa dan menginap lagi di Hotel Corina Bajawa yang selama ini menjadi tempat penginapan kami. Semuanya memang harus begitu. Hari minggu, 22 April 2018 pagi, pukul 07.00 kami terbang kembali ke Kupang. (bonne pukan- habis)

Komentar ANDA?