Minggu, 18 November 2018

news flash

Ose, Anak Mataloko Ini Bakal Jadi Wakil Gubernur NTT

Juli 4th, 2018 | by Bonne Pukan
Ose, Anak Mataloko Ini Bakal Jadi Wakil Gubernur NTT
Polkam
0
Foto: Yosef Nae Soi, bukanlah keturunan bangsawan atau mosalaki, tetapi dia anak petani kecil yang berhasil hingga ke tingkat internasional

Yosef A, Nae Soi yang akrab disapa Ose sejak kecil bukanlah dari keturunan darah biru, bangsawan atau pun mosalaki. Dia anak dari keluarga petani  kecil yang hanya menggeluti pekerjaan membantu para siswa Seminari St. Yohanes Berchmans Todabelu, Mataloko, Ngada. Flores. Perkejaan itu digelutinya setiap hari namun Ose ternyata memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar bersama kaum Seminaris dari balik jendela kelas. Hasilnya, dia juga bisa belajar banyak hal termasuk bahasa asing bersama Seminaris. Ose memang luar biasa.

Lelaki tinggi berbadan kekar ini terlahir di Mataloko, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 22 September 1952. Jiwa merantau sudah menjadi miliknya sejak kecil. Dari Mataloko Yosef menjadi guru pada SMA Katolik Sint Gabriel, Maumere.

Di kota ini, bakat bermain si kulit bundar terus menggelora dan akhirnya menjadi pemain Persami Maumere dan sempat membawa tim ini merebut berbagai kejuaraan pada masa itu dan ditakuti tim-tim lainnya di NTT.

Tahun 1972 Ose menemui bupati Sikka saat itu Almarhum Lorens Say untuk pamit merantau ke Jakarta. Karena baginya, jika tetap di Maumere, kehidupannya akan tetap biasa-biasa saja dan tidak akan berkembang.

Ketika menemui Bupati Lores Say, sang bupati memberikan dia hadia uang sebesar Rp 38.000 sebagai bentuk teimakasih Pemda Sikka terhadap jasa Ose dalam membantu tim Persami Maumere. Uang pemeberian Bupati itu menjadi bekal perjalanannya menuju pulau Jawa dengan menumpang kapal laut Ratu Rosari. Ose sendiri tidak tahu pulau jawa itu dimana dan orang-orangnya seperti apa. “Muka kampung” ingin masuk kota tentu akan nampak sangat beda.

Kapal Ratu Rosari lego jangkar di Surabay, Ose kemudian turun dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Di kota yang sangat baru baginya itu, dia berjuang untuk menjadi Ose anak Mataloko yang bisa sukses di tanah orang. Pekerjaan serabutan dilakukan, dan suatu hal yang pasti ada suara Ose yang merdu berhasil “dijual” untuk hidupnya di kota Metropolitan itu.

Ose kemudian memutuskan untu melanjutkan pendidikannya  pada Universitas Atmajaya hingga meraih gelar S1. Ose  melanjutkan ke jenjang S2 Managemen di Sekolah Tinggi Ilmu Management LPMI Rawamangun-Jakarta dan sejak tahun 1987 dia menjadi dosen pada Altri Kehakiman Jakarta. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya menjadi Pembantu Direktur III  Altri Kehakiman Jakarta yang dijalaninya mulai tahun 2000 hingga tahun 2005.

Foto: Kekuatan dalam segala usaha dan perjuangan Yosef Nae Soi sedikit banyak ditentukan oleh kehadiran sosok sang istri Merry Djogo. Inilah Pasutri yang selalu akur hidup bersahaja

Karier Suami dari Maria Fransisca Djogo dengan sepasang putera dan putri mereka Alfredo Sebastianus Soi serta Justina Yosefa Mamo Soi terus menanjak naik.

Lelaki dengan filosofi hidupnya “fortiter in re, suaviter in mondo” (tegas menuntaskan masalah, ramah dalam penyelesaiannya) mulai banting stir menjadi politisi. Sejak awal periode reformasi, saat ia diajak oleh Akbar Tandjung untuk menjadi seorang politisi di bawah bendera partai Golkar dia pun terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan NTT 1 yang meliputi Flores, Lembata dan Alor.

Dua periode Yosef menjadi anggota DPR RI dari Fraksi Golongan Karya (2004-2019 dan 2009-2014. Selama dua periode dia tergabung sebagai anggota komisi V yang menggeluti bidang Perhubungan, Telekomunikasi, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal.

Josef memiliki banyak pengalaman di bidang organisasi. Ia sempat menjadi sekertaris DPC PKMRI mulai tahun 1974 hingga tahun 1976. Ia juga pernah menjadi ketua umum Koordinator Mahasiswa Universitas Atmajaya mulai tahun 1977 hingga tahun 1979.

Selepas kuliah, ia menjadi wakil ketua umum di HILLSI di Jakarta mulai tahun 1992 hingga tahun 2007. Ia juga tercatat sebagai pengurus DPP Partai Golkar dari tahun 1998 hingga pada tahun 2005. Setelah itu ia menjadi Pokja DPP Partai Golkar (sejak 2005).

Ose akhirnya bersama calon gubernur Viktor Laiskodat memenangkan pertarungan politik lima tahunan di bumi Flobamorata ini dalam Pilkada langsung tanggak 27 Juni 2018 lalu. Meski KPU NTT selaku penyelenggara Pilkada belum menetapkan hasilnya, namun dari hasil perhitungan cepat sudah menunjukkan kalau pasangan Victory-Joss akan memimpin NTT periode 2018-20123. Salve om Ose.  (bonne pukan,  dari berbagai sumber)

Komentar ANDA?