Minggu, 21 Oktober 2018

news flash

Pastor Asal Waibalun, Larantuka, Terpilih jadi Superior General SVD

Juli 7th, 2018 | by Bonne Pukan
Pastor Asal Waibalun, Larantuka, Terpilih jadi Superior General SVD
Sosbud
0
Foto: Pastor Paul Budi Kleden yang terpilih jadi Superior Geneval SVD tanggal 4 Juli 2018 lalu

NTTsatu.com – KUPANG – Pastor Paul Budi Kleden SVD, asal Waibalun, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) terpilih menjadi superior jenderal atau pemimpin umum Serikat Sabda Allah/Societas Verbi Divini (SVD) di seluruh dunia. Ia akan memimpin kongregasi itu selama 6 tahun hingga 2024, terhitung sejak ia terpilih pada Rabu, 4 Juli 2018.

Pastor Paul menjadi superior jenderal ke-12 dalam sejarah SVD, kongregasi yang didirikan oleh Santo Arnoldus Janssen, imam diosesan asal Jerman  tahun 1875. Ia menggantikan pendahulunya, imam asal Jerman, Heinz Kulueke. Ia juga tercatat sebagai orang kedua dari Asia yang menduduki jabatan itu, di mana yang pertama berasal dari Filipina.

 

 

Pastor Paul lahir pada 16 November 1965 di Waibalun-Larantuka, Flores Timur, yang dikenal sebagai gerbang masuknya Agama Katolik di Flores. Ia merupakan anak kelima dari almarhum Bapak Petrus Sina Kleden dan Ibu Dorotea Sea Halan. Pastor Paul memiliki dua saudara laki-laki dan empat saudara perempuan.

Pendidikan formalnya dimulai dari SDK Waibalun, lalu ke Seminari Menengah San Dominggo, Hokeng, di dekat kota Larantuka. Ia bergabung dengan SVD  tahun 1985, lalu menyelesaikan studi filsafat di Sekolah Tinggi Fisafat Katolik (STFK) Ledalero.

Studi teologi kemudian ditempuhnya di Austria dan kemudian ditahbisan menjadi imam di negara tersebut pada 15 Mei 1993. Selama tiga tahun pasca tahbis, ia bekerja di Swiss sebagai pastor kapelan di dua paroki, di Steinhausen dan kemudian di Auw.

Pada 1996-2000, ia menjalani studi doktoral bidang teologi sistematik di Albert Ludwig’s University, Freiburg, Jerman.

Pulang studi, ia mengabdi di alma maternya STFK Ledalero dan mengampu sejumlah mata kuliah di program sarjana, termasuk eklesiologi, teodicea dan postmodernisme, juga teologi politik di program magister.

Ia menduduki posisi anggota dewan provinsi SVD Ende pada 2005-2008 dan wakil provinsial selama satu tahun pada periode ini.

Pada 2011, ia diangkat menjadi direktur program pasca sarjana di Ledalero. Namun, posisi itu kemudian ia tinggalkan setelah setahun kemudian, ia pindah ke Roma, karena dipilih menjadi anggota dewan jenderal SVD.

 

Paul yang Cerdas dan Ramah

Kabar pemilihannya sebagai superior jenderal memunculkan beragam reaksi dari rekan-rekannya, juga mantan mahasiswanya.

Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko OFM, teman kelas Pastor Paul selama kuliah doktor menyebut, penunjukkan itu bukan sesuatu yang mengejutkan, “mengingat kemampuan yang dia miliki.”

“Ia (memiliki) banyak talenta, tekun, pandai, juga suka mencari ide-ide yang baru,” ungkap uskup yang ditahbiskan 23 september 2017 lalu itu.

Ia mengaku dibimbing oleh profesor yang sama dengan Pastor Paul saat kuliah. Pada 2010, keduanya juga sempat sama-sama menjadi editor untuk buku Dialektika Sekularisasi, yang menampilkan diskusi antara Filsuf Jerman, Jurgen Habermas dan Joseph Ratzinger (Paus Emeritus Benediktus XVI), lalu masing-masing menulis tanggapan terhadap keduanya.

Florianus Geong, salah satu mantan mahasiswanya yang kini bekerja sebagai aktivis di Papua menggambarkan bagaimana Pastor Paul sangat dekat dengan mereka, tidak hanya di bangku kuliah.

“Ia selalu memotivasi dan rendah hati mendengarkan keluhan serta berdiskusi dengan para mahasiswa. Kamarnya tak pernah sepi, selalu ramai oleh mahasiswa yang datang berdiskusi atau meminjam buku, juga hanya untuk menghabiskan jagung titi,” lanjut Flori.

Ia menyebut Pastor Paul sebagai pastor teladan. “Hidupnya adalah contoh yang patut ditiru.”

Mantan murid lainnya, Gusti Adi Tetiro, mengatakan, terpilihnya Pastor Paul adalah sesuatu yang ”tepat, cerdas dan bijak” bagi SVD.

“Ia orang yang pintar dan baik, yang selalu bisa menyapa orang dari berbagai latar belakang dan golongan, baik pejabat, petinggi gereja, masyarakat adat, hingga anak muda,” katanya.

Pastor Otto Gusti Madung, rekan dosennya di STFK Ledalero menyebut Pastor Paul sebagai “teolog yang cerdas” dan mengakui kekhasannya yang sangat dekat dengan mahasiswa.

“Ia mengenal semua mahasiswanya dengan namanya. Bayangkan, dari sekitar 800-an mahasiswa kuliah di Ledalero, ia mengenal mereka semua,” katanya.

 

Teologi Terlibat

Di STFK Ledalero, salah satu hal yang dianggap sebagai warisan penting Pastor Paul adalah apa yang disebut dengan teologi terlibat, gagasan yang dituangkannya dalam buku berjudul sama pada 2003.

Dalam salah satu tulisannya, ia memadatkan konsep itu dengan penjelasan berikut: menjadi seorang teolog berarti menjadi bagian dari upaya untuk melawan kondisi yang tidak manusiawi dan membangun masyarakat yang adil dan damai.

Menurut Pastor Otto, dengan persepektifnya itu, Pastor Paul “tidak berteologi di menara gading kampus, tetapi terlibat dalam advokasi untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat pinggiran.”

Pastor Otto mengingat bagaimana Pastor Paul terlibat aktif dalam kasus advokasi seorang pembantu yang dihamili seorang bupati di Flores, juga membela para petani di Colol, Kabupaten Manggarai yang ditembak mati pada 2004 karena menentang kebijakan pejabat lokal.

Ia mengatakan, Pastor Paul senantiasa membangun teologinya dalam dialektika dengan ilmu-ilmu sekular dan persoalan-persoalan sosial, baik politik, pendidikan, kebijakan publik, hak hak asasi manusia, gender, hingga korupsi.

Pastor Avent Saur SVD, imam yang menjadi perintis kelompok pemerhati penderita ganggung jiwa menyebut “teologi terlibat” itu sebagai gagasan “yang cerdas dan progresif” karena memberi dasar penting bagi keberpihakan Gereja atau misionaris SVD dalam masalah-masalah sosial.”

 

Foto: Logo SVD (Sosietas Verbi Divini atau Serikat Sanda Allah

Harapan

Dengan tugasnya yang dipercayakan kepadanya kini, Pastor Paul memimpin lebih dari 6.000 anggota SVD yang tersebar di seluruh dunia.

Gusti Adi Tetiro berharap, semoga di bawah kepemimpinannya, SVD bisa selalu keluar dari ghetto dan membawa inspirasi angin perubahan bagi gerakan sosial politik dunia dan lokal di tempat mereka bermisi.

Pastor Avent menyatakan harapan serupa, agar Pastor Paul mencetus kebijakan-kebijakan misioner untuk tak jemu-jemunya terlibat secara serius dalam persoalan-persoalan sosial dunia.

Hal demikian, kata dia, penting “agar kenyamanan posisi religius dan kesunyian di balik tembok biara tidak diakrabi sebagai strata sosial dan kesejahteraan ekonomi yang hampa.

“Tetapi, itu terutama sebagai wadah untuk mewujudkan iman yang benar-benar terlibat,” katanya. (bonne pukan dari berbagai sumber)

Komentar ANDA?