Selasa, 11 Desember 2018

news flash

Pius Rengka Bicara Terkait “Perang Pikiran: Pattyona dan BK

Oktober 9th, 2018 | by Bonne Pukan
Pius Rengka Bicara Terkait “Perang Pikiran: Pattyona dan BK
Polkam
0

NTTsatu.com -KUPANG – Saling berbalas surat terbuka antara Petrus Bala Pattyona dan Benny K. Harman (BKH) terkait kasus Ratna Sarumpeat mengundang pengamat politik di NTT, Pius Rengka membeberikan pemikirannya.

 

Berikut ini dikutib secara lengkap apa kata mantan wartawan dan dosen ini.

Saya menduga, para sahabat saya yang saling hujat menghujat dan terkesan sampai pada level membenci, yang tampak dalam teks di facebook ini atas kasus Ratna Sarumpaet, disebabkan oleh sedikitnya tiga hal.

Pertama: Karena masing-masing kita telah terbimbing oleh sikap blocking yang jelas atas pilihan Presiden tahun 2019. Akibatnya, tatkala ada pihak lain yang berpikir berbeda dengan block yang kita punya, segera kita geram dan nyaris kurang arif dalam menuangkan pikiran atau cermatan kita.

Kedua: Karena masing-masing kita terbimbing juga oleh pilihan-pilihan aktor ideal kita yang non presidensial, sehingga tawuran ide kita sesunguhnya memantulkan pilihan kita pada anggota legislatif tahun 2019 nanti.

Ketiga : Ini sedikit beraroma hukum lingkungan, yaitu bahwa kita mudah berang dan mendidih, karena memang lingkungan alam kita kian krisis. Hutan kian punah, akibatnya burung-burung telah pergi entah ke mana. Akibat ikutannya ialah suara alam tidak lagi memfungsikan gena otak kita, sehingga naluri marah jauh lebih menonjol dibanding naluri keindahan perbedaan itu.

Karena itu saran saya, setiap kita menanam pohon 16 Buni (sejumlah partai yang kompetisi dalam Pemilu 2019) agar kehadiran pohon Buni mengundang burung-burung bersuara merdu dan bernyanyi setiap senja sehingga fungsi musik alam di otak kita bekerja normal lagi. Begitulah. . (bp)

======
Foto : Pius Rengka

NTTsatu.com -KUPANG – Saling berbalas surat terbuka antara Petrus Bala Pattyona dan Benny K. Harman (BKH) terkait kasus Ratna Sarumpeat mengundang pengamat politik di NTT, Pius Rengka membeberikan pemikirannya.

Berikut ini dikutib secara lengkap apa kata mantan wartawan dan dosen ini.

Saya menduga, para sahabat saya yang saling hujat menghujat dan terkesan sampai pada level membenci, yang tampak dalam teks di facebook ini atas kasus Ratna Sarumpaet, disebabkan oleh sedikitnya tiga hal.

Pertama: Karena masing-masing kita telah terbimbing oleh sikap blocking yang jelas atas pilihan Presiden tahun 2019. Akibatnya, tatkala ada pihak lain yang berpikir berbeda dengan block yang kita punya, segera kita geram dan nyaris kurang arif dalam menuangkan pikiran atau cermatan kita.

Kedua: Karena masing-masing kita terbimbing juga oleh pilihan-pilihan aktor ideal kita yang non presidensial, sehingga tawuran ide kita sesunguhnya memantulkan pilihan kita pada anggota legislatif tahun 2019 nanti.

Ketiga : Ini sedikit beraroma hukum lingkungan, yaitu bahwa kita mudah berang dan mendidih, karena memang lingkungan alam kita kian krisis. Hutan kian punah, akibatnya burung-burung telah pergi entah ke mana. Akibat ikutannya ialah suara alam tidak lagi memfungsikan gena otak kita, sehingga naluri marah jauh lebih menonjol dibanding naluri keindahan perbedaan itu.

Karena itu saran saya, setiap kita menanam pohon 16 Buni (sejumlah partai yang kompetisi dalam Pemilu 2019) agar kehadiran pohon Buni mengundang burung-burung bersuara merdu dan bernyanyi setiap senja sehingga fungsi musik alam di otak kita bekerja normal lagi. Begitulah. . (bp)

======
Foto : Pius Rengka

Komentar ANDA?