Polisi Akan Tetap Selidiki Dugaan Kecurangan UN di Lembata

0
18

KUPANG. NTTsatu – Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lembata, Zakarias Paun menegaskan, dugaan kecurangan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Lewoleba, Kabupaten Lembata akan tetap diselidiki oleh pihak kepolisian setempat.

“Kasus yang dipublikasikan media massa itu telah mengundang perhatian Kapolda NTT sehingga dia meminta Polres Lembata untuk menindaklanjutinya hingga tuntas. Dan saya selaku Kepala Dinas menyambut baik niat itu karena kita sudah punya komitmen untuk menyelengarakan pendidikan di Lembata dengan hati nurani yang jujur,” kata Zakarias Paun kapada NTTsatu.com di Kupang, Senin, 11 Mei 2015.

Menurut Zakaria Paun, ketika berita dugaan kecurangan pelaksanaan UN di Lewoleba Lembata yang dipublikasikan media tertentu, pihak kepolisian langsung turun tangan. Penanganan cepat oleh aparat kepolisian setempat karena lembaga ini juga masuk dalam kepanitiaan UN di Lembata.

“Dokumen UN SMP itu setelah tiba di Lewoleba langsung diamankan di Mapolres Lembata. Karena itu ketika mencuat pembertaan soal kecurangan UN itu, pihak kepolisian langsung turun tangan karena mereka juga bagian dari kepanitiaan UN di Kabupaten Lembata. Apalagi menurut Kapolres, Kapolda NTT sudah memerintahkan agar kasus ini ditangani hingga tuntas,” katanya.

Dia menjelaskan, ketika pemberitaan tentang dugaan kecurangan pelaksanaan UN di SMPN 2 Nubatukan Lewoleba, pihak kepolisian bergerak cepat mencari informasi. Beberapa orang sudah dipanggil dan dimintai keterangan. Mereka antara lain guru yang meceriterakan kepada wartawan, seorang siswa dan Kepala sekolahnya. Dan hasil pemeriksaan, mereka mengaku tidak pernah mengatakan seperti itu kepada wartawan.

“Kapolres bilang kasus ini harus ditangani serius karena terkesan sangat tendensius. Kita selama ini berjuang keras agar tidak boleh ada kecurangan, apalagi pada pelaksanaan UN tingkat SMA yang lalu, Lembata justru menjadi salah satu kabupaten di Indonesia yang dinilai Kementerian Dikbud RI sebagai kabupaten terjujur dalam pelaksanaan UN tersebut,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Zakarias Paun menegaskan, tidak ada kecurangan yang terjadi di Lembata ketika pelaksanaan UN tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang dilaksanakan mulai hari Senin, 04 Mei 2015.

Dia kemudian menegaskan, isu itu akan ditindak lanjuti dengan meminta bantuan polisi untuk mengusutnya. Dan jika terbukti bahwa ada sekolah yang melakukan kecurangan saat pelaksanaan UN, dia tidak akan segan-segan untuk menindak kepala sekolahnya.

Untuk diketahui, media online floresbangkit.com, beberapa waktu lalu memberitakan, UN tingkat SMP di Kabupaten Lembata ternyata diwarnai kecurangan, salah satu guru SMP mengaku diadukan kepala sekolah karena menolak ajakan “kerjasama” untuk bocorkan soal UN. Pengakuan itu dibenarkan juga oleh salah satu siswa di SMP Negeri II Nubatukan.

Di temui di salah satu sudut kota Lewoleba, Selasa (5/5/2015) guru jujur itu mengatakan, pengawas ujian diajak kolusi untuk mengedarkan kunci jawaban yang sebelumnya dikerjakan oleh guru mata pelajaran pada sekolah yang bersangkutan. Menurutnya jika guru berbuat curang hanya untuk mengejar prestrise, maka dunia pendidikan gagal dalam mendidik murid selama selama tiga tahun.

Dia menyebutkan, pada saat soal UN dibawa ke sekolah dan masuk ke ruang sekretariat, para guru di sekolah tersebut mencopot satu lembar soal, kemudian dikerjakan guru mata pelajaran untuk selanjutnya diberikan kepada siswa yang sudah siap di ruangan kelas untuk mengikuti UN.

“Kalau guru mengajarkan berbuat curang hanya demi mengejar prestise, maka saya nilai ada kegagalan selama 3 tahun kita mendidik anak. Jadi saat menjadi pengawas UN, saya menyatakan menolak permintaan pihak sekolah untuk mengedarkan kunci jawaban yang sudah dikerjakan guru mata pelajaran. Ini hampir terjadi di semua sekolah. Teman-teman pengawas saya yang lain juga menyaksikan hal ini,” tandas sang guru yang meminta namanya tidak dikorankan.

Sikap tegas sang guru untuk menolak ajakan “kerjasama” membuat kepala sekolah pada tempat dia mengawas kecewa, lalu mengadukan guru tersebut ke UPTD.

Tak beda dengan guru, informasi bocoran kunci jawaban juga diakui salah satu murid peserta UN di SMP Negeri II Nubatukan. Ditemui usai mengikuti UN hari kedua Selasa (5/5/2015), sang murid membenarkan jika dalam ujian hari pertama dan hari kedua dia menerima edaran lembaran jawaban.

“Kami dapat kunci jawaban sejak hari pertama UN Bahasa Indonesia dan hari kedua UN matapelajaran Matematika. Saya terima kertas yang sudah ada kunci jawaban dari teman-teman. Setelah selesai sekolah teman-teman bilang kunci jawaban ini dititipkan guru untuk kami peserta UN,” ujar Siswa peserta UN yang enggan menyebutkan namanya. (bop)

 

 

Komentar ANDA?