Minggu, 22 September 2019

news flash

Sentuh dan Mencintai Papua Sebagai Orang Papua

Agustus 31st, 2019 | by Bonne Pukan
Sentuh dan Mencintai Papua Sebagai Orang Papua
Sosbud
0

Pater Tuan Kopong,  MSF kembali menulis sentuhan kasihnya tentang Papua dan Papua Barat hingga hari ini, Sabtu, 31 Agustus 2019. Mari ikutilah tulisan berikut ini yang kami sajikan lengkap

Setiap kali, pintu kamarnya diketuk ia selalu ketakutan dan ingin lari. Dalam bayang-bayang dan pikirannya ia sedang dicari oleh para polisi dan TNI”. Bahkan ketika diantar dari Manila menuju Indonesia bayangan itu selalu ada sehingga menimbulkan ketakutan. Ya, depresi yang dialami teman itu, cerita salah seorang teman saya yang mengantarnya ke Indonesia.

Walah hanya satu orang tapi paling tidak memberikan sedikit pencerahan dan ruang atas peristiwa Papua hari-hari ini dan memberikan jalan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di Papua.

Demonstrasi hari ini bagi saya, bukan sekedar ujaran rasisme yang terjadi di Surabaya bagi teman-teman Papua, tapi ada sebuah tumpukan depresi yang sudah lama dialami dan hari-hari ini mereka tumpahkan dalam berbagai bentuk demonstrasi. Rasisme hanyalah sebuah efek yang membuat mereka “terbakar” untuk mengeluarkan tumpukan depresi yang sudah lama menyandera kehidupan mereka.

Saya yakin 100 % bahwa Papua tetap NKRI. Namun tidak berarti penyelesaian kasus di Papua dilakukan dengan cara Indonesia atau cara pemerintah yang meneropong Papua dari segi politik. Bagi saya, menyelesaikan kasus Papua harus menyentuh dan mencintai mereka sebagai orang Papua. Dalam arti ini masuk melalui budaya.

Pemerintah Indonesia harus juga mengakui bahwa untuk wilayah Indonesia Timur, Papua tidak berbeda jauh dengan masyarakat NTT yang melihat peran para imam dan uskup masih sangat penting dan didengarkan dalam menghadapi setiap persoalan termasuk konflik di tengah masyarakat.

Budaya penghargaan dan penghormatan terhadap peran para imam dan uskup termasuk peran tokoh-tokoh adat yang kemudian harus dimaksimalkan untuk memulai sebuah gerakan menyentuh dan mencintai saudara-saudari kita Papua sebagai orang Papua.

Selama ini kita ribut soal politik ekonomi yang memicu konflik dan kasus di Papua tapi kita lupa bahwa masih ada satu kekuatan yang bisa dijadikan sebagai jalan untuk menyelesaikan konflik Papua yaitu memaksimalkan peran para uskup, imam dan tokoh-tokoh adat.

Maka saya sekedar mengusulkan bahwa pemerintah segera duduk bersama dengan para imam asli Papua yang selama ini membela hak-hak asasi manusia, yang suaranya masih bisa didengarkan termasuk dengan para uskup di seluruh Papua dan tokoh-tokoh adat untuk berbicara, berceritera tentang orang Papua (kita bisa dengarkan lewat youtube pengakuan akan peran besar alm. Yang Mulia Mgr. Jhon Philip Saklil-Uskup Timika).

Papua kaya, tidak miskin. Tetapi pandangan kita tentang Papua selalu berhubungan dengan soal ekonomi. Namun hampir tidak. Menyentuh situasi dan suasana hati mereka yang sudah sekian lama tersandera oleh depresi karena peristiwa-peristiwa represif masa lalu.

Para imam, para uskup bersama tokoh-tokoh adat yang kemudian diutus ke propinsi-propinsi di mana saudara-saudari kita Papua mengecam pendidikan untuk duduk bersama mendengarkan cerita dan harapan mereka, juga dengan suma masyarakat di Papua.

Hasil dari cerita persaudaraan itu yang kemudian dijadikan sebagai bahan untuk menemukan solusi terbaik menyelesaikan konflik Papua. Dan sayapun yakin bahwa kelompok kriminal bersenjatapun masih bisa diajak bicara ketika ketiga komponen: para imam, para uskup dan tokoh-tokoh adat diberi ruang maksimal untuk memainkan peran mereka melalui adat dan budaya Papua.

——-

Manila: Agosto-31-2019
Pater Tuan Kopong MSF

Komentar ANDA?