Rabu, 12 Desember 2018

news flash

Seribu Lilin dari Lembata Untuk Para Buruh Migran

Februari 25th, 2018 | by Bonne Pukan
Seribu Lilin dari Lembata Untuk Para Buruh Migran
Sosbud
0
Foto: Inilah aksi solidaritas seribu lilin dari umat Katolik Paroki Kristus Raja, Wangatoa, Lewoleba, Lembata untuk kaum buruh migran, Minggu, 25 Pebruari 2018 malam ini.

NTTsatu.com – LEWOLEBA  – Berbagai peristiwa yang dialami kaum buruh migran asal Indonesia di sejumlah negara menggugah nurani banyak pihak untuk mendoakan mereka. Ratusan umat Katolik di Paroki Kristus Raja, Wangatoa, Lewoleba, Lembata, NTT, menggelar doa bersama dan memasang seribu lilin untuk para migran, Minggu, 25 Pebruari 2018 malam ini.

Elias Making    alias Yogi Making yang memandu cara ini mengakui, kegiatan malam ini merupakan seb uah kegiatan dalam rangkaian Aksi Puasa Pembangunan (APP) untuk mendoakan kaum buru migran yang sering mengalami perlakukan kurang manusiawi oleh majikan mereka hingga ada yang harus tewas di tangan majikan.

Yogi menjelaskan, Pastor Paroki Kristus Raja Wangatoa, Romo Wens Herin memimpin kegiatan ini sebagai sebuah dukungan besar kepada kaum migan.

Dalam renungan malam ini, Romo Wens Herin mengatakan, tentang pentingnya kesetia kawanan sesaa manusia terhadap nasib hidup sesamanya.

“Malam ini seribu lilin mengingatkan bahwa kita telah menempatkan diri secara sadar, bahwa kita terpanggil,  bahwa gereja sebagai iman, harapan dan kasih sebagai keselamatan. Kita tidak bisa hanya menjadi penonton tapi kita membuka jendela solidaritas terhadap para migran, perantau saudara-saudara kita dengan segala kesulitan yang mereka hadapi bahkan menjadi korban,” kata Romo Wens.

Foto: Inilah aksi solidaritas seribu lilin dari umat Katolik Paroki Kristus Raja, Wangatoa, Lewoleba, Lembata untuk kaum buruh migran, Minggu, 25 Pebruari 2018 malam ini. (Foto: Fince Bataona)

Dia mengatakan, nyala 100 Lilin malam ini sebagai bentuk doa solidaritas atas kesetia kawanan Umat Paroki Kristus Raja Wangatoa terhadap para perantau, buruh migran. Kesetia kawanan yang juga menjadi tema APP 2018 yang diterjemahkan dalam doa sebagai bentuk solidaritas.

“Cahaya lilin yang kecil ini, menjadi terang dunia dan menyampaikan pada semua bahwa, kita juga setia kawan,” katanya.

Romo Wens, juga mengingatkan kepada umat bahwa gereja tidak bisa membatasi dan melarang setiap orang untuk pergi bekerja di luar negeri. Namun gereja mengingatkan, bila ada umat yang berniat kerja ke luar negri harus mengikuti prosedur dan aturan yang berlaku tentang tenaga kerja sehingga keselamatnya bisa diperhatikan dengan baik ketika berada di luar negeri.

Yogi menjelaskan, ratusan umat hadir dan ikut ambil bagian dalam doa untuk para buruh migran.

Mereka larut dalam doa yang kemudian diisi dengan pembacaan puisi tentang migran yang harus kehilangan nyawa, di tanah rantau. (*/bp)

 

Komentar ANDA?