Selasa, 21 Mei 2019

news flash

Tahun 2014 Enam Balita Gizi Buruk Meninggal

Maret 12th, 2015 | by Bonne Pukan
Tahun 2014 Enam Balita Gizi Buruk Meninggal
Kesehatan
0

KUPANG. NTTsatu – Selama tahun 2014, dari total balita yang ditimbang sebanyak 361.696 anak di seluruh wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tercatat enam anak dibawah lima tahun (Balita) di Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal akibat menderita gizi buruk.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT Stef Bria Seran pada acara Workshop penguatan Jurnalis untuk advokasi di bidang kesehatan Ibu dan anak, Rabu, 11 Maret 2015 mengakui, sebanyak enam balita di seluruh NTT meninggal dunia akibat gizi buruk sepanjang tahun 2014.
Dikatakannya, selama tahun 204 total bayi yang ditimbang di semua Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) terdata sebanyak 361.696 anak. Dari jumlah itu sebanyak 310.497 gizi normal, 27.327 yang gizinya bermasalah, dengan jumlah gizi kurang sebanyak 23.963 anak. Sedangkan jumlah anak gizi buruk sebanyak 3.351 orang, 13 anak diantaranya dengan kelainan klinis, dan enam diantaranya meninggal.
Data ini lanjut Stefanus Bria Seran, menunjukan bahwa kasus gizi buruk di NTT masih ditemukan, karena kurang diperhatikannya pola makan anak. Karena itu, dia membantah, jika ada balita dengan gizi buruk, maka Dinas Kesehatan yang disalahkan.
“Jangan kami saja yang disalahkan, jika ada balita gizi buruk. Masalah gizi itu justru harus diperhatikan oleh keluarga atau orang tua bayi itu sendiri,” katanya.
Karena, katanya, semua pihak harus bertanggungjawab dengan adanya gizi buruk di daerah ini, seperti Dinas Pertanian yang harus menyiapkan makanan bergizi bagi anak. Namun, diakuinya masih tingginya angka gizi buruk di NTT, karena faktor kemiskinan.
“Masyarakat miskin sulit beli makanan yang sehat untuk anak mereka itulah yang menjadi masalah pokok terjadinya masalah gizi bayi/anak hingga ke gizi buruk,” tegasnya.
Dia mengatakan untuk menekan angka gizi buruk, maka anak dengan gizi bermasalah harus ditangani secara dini, karena jika tidak tertangani akan menjadi gizi kurang dan gizi buruk yang berujung pada kematian.
“Penanganan harus dimulai sejak dianggap anak gizi bermasalah. Jangan tunggu sudah gizi buruk baru mau ditangani,” tegasnya. (Iki)

Komentar ANDA?