news flash

Tiba Meka, Tarian Penyambutan Tamu di Manggarai

Maret 3rd, 2016 | by Bonne Pukan

KALAU di Flores Timur dan Lembata ada tarian Hedung, di Manggarai juga ada tarian Tiba Meka. Tarian ini sama artinya yakni suguhan yang diberikan kepada tamu yang datang, atau lazm disebut sebagai tarian penyambutan tamu baru yang datang ke daerah kita.

Kalau kita menyaksikan atraksi awal dari tari Tiba Meka mungkin kita akan dihantui rasa takut takut. Pasalnya, si penari pria  disebut Pemaka menggunakan Sundang parang panjang dan tajam  ala Manggarai  menyambut tamu dengan gagah berani bergerak indah dengan irama gemuruh  memotong   tiga kali kurang lebih 2 meter di depan tamu lalu dilajutkan dengan hentakan dan teriakan gerakan membabat  disamping kiri dan kanan tamu.

Setelah itu para penari putri dengan lenggak-lenggok diiringi musik tradisional maju ke depan Wisi Loce   gerakan membentangkan tikar, dilanjutkan dengan Paneng Cepa  gerakan indah memberikan sirih pinang kepada tamu, lalu dengan penuh riang dan gembira penari melakukan Congkas Sae  gerakan tari etnik Manggarai diiringi irama Ndundake  lantunan musik gong dan gendang.

Dengan keindahan gerak-gerik para penari sungguh memukau mata setiap orang yang menyaksikan suguhan ini. Tari kreasi yang pertama kali di rintis  oleh Sanggar Lawe Lenggong 20an tahun lalu kini dikenal oleh para generasi penerus pencinta budaya Manggarai di beberapa Sanggar budaya.

Berdasarkan tradisi Tiba Meka merupakan tarian menyambut tamu agung disetiap Kampung di Manggarai. Tarian ini dikemas dari tradisi asli adat budaya masyarakat ketika menerima tamu dengan hati bersih dan suci.

Tarian ini diperagakan untuk menyambut tamu agung yang datang mengunjungi kampung-kampung  di Manggarai. Sesuai etimologisnya, ”Tiba” artinya  terima atau penerimaan dan “Meka” adalah tamu.

Diceritakan para tokoh adat, konon kata mereka, ketika Masyarakat Manggarai  menyambut para misionaris datang mewartakan kabar gembira menyebarluaskan agama Katolik di Manggarai ratusan tahun lalu, ritus ini terus dipertahankan di Manggarai ketika menyambut tamu agung seperti Uskup, Para imam  yang baru ditabis, dan Pejabat penting kerajaan, daerah dan Negara.

Dengan perkembangan zaman, susunan sesuai tradisi asli Manggarai pelan-pelan pudar. Beberapa urutannya tidak lagi natural dimana ada bagian tertentu dari ritus ini perlahan sudah mulai hilang. Misalnya penggunaan sundang jarang dilakukan oleh masyarakat ketika menyambut tamu agung. Kadang masyarakat menggunakan Kope Banjar (Parang Biasa), Ndeki (salah satu perlengkapan tarian Caci) ataupun kris.

“Karena kelangkaan Sundang sekarang lebih banyak masyarakat menggunakan kris pusaka.“ kata Lasarus Tamat Pembina dan pelatih Seni tari Sanggar Cahir Nai yang juga mantan anggota Sanggar Lawe Lenggong dan staf mengajar  di SMPN 1 Kota Ruteng  kepada NTTsatu.com.

Lasarus, Pelatih dan Juri perlombaan Seni tari Tradisonal pada beberapa event festival budaya Manggarai  menguraikan,  tarian kreasi Tiba Meka  didesign dari tradisi asli orang Manggarai diantaranya adalah Wur Poti, Tuak Curu, Ronda, Danding, Manuk Kapu, Wisi Loce dan Paneng Cepa,

Wur  Poti “ Pemaka” penari pria mengusir menggunakan kris pada bagian sekitar 2 meter dari sisi  depan dan kiri dan kanan ketika tamu agung  sudah berada di gerbang menuju kampung. Tuak Curu moke penjemputan yang disuguhkan bagi para tamu, setelah itu para tamu diarak oleh masyarakat kampung menuju Mbaru Gendang rumah adat dengan perarakan dengan regu “ronda’’ untuk bergembira bersama dengan tamu. Tarian tradisional dengan formasi dua baris diringi lantunan lagu dan sebuah gong kecil mempunyai makna bahwa warga menyambut tamu dengan hati riang gembira.

Setelah sampai di  dalam rumah adat, tamu dipersilahkan duduk kemudan disambut dengan Manuk Kapu. Sebuah ritus penyambutan tamu dengan ayam jantan putih melambangkan bahwa warga kampung menerima tamu dengan hati bersih sebersih buluh ayam jantan tersebut.

Para tamu duduk diatas tikar indah lalu  dilanjutkan dengan paneng cepa. Kaum ibu menyuguhkan sirih pinang yang menunjukkan sebuah kebersamaan, kekeluargaan terhadap tamu yang datang. Setelah itu para tamu bercanda bersama tokoh adat sambil minum kopi ala Manggarai dan makanan tradisional seperti Sombu, boko, depek yang semua bahan dasarnya dari jagung. Depek dari jagung muda ditumbuk lalu dibungkus dengan kulit jagung dan dikukus.

Berdasarkan rangkaian tradisi asli inilah, puluhan tahun lalu Lasarus bersama anggota Sanggar Lawe Lenggong lainya merancang Tari Tiba Meka yang  sudah berlanglang buana di beberapa areal pentasan dan bahkan tari ini sudah banyak dikenal oleh beberapa Sanggar Budaya di Manggarai.

***

Adapun nilai yang perlu ditanamkan bagi gernerasi penerus dalam tarian ini adalalah Wur Poti  ketika menyambut tamu di gerbang pintu masuk kampung bahwa Warga mengusir roh jahat yang dibawa serta  tamu dalam perjalananya,

Manuk kapu dengan menggunakan ayam jantan putih melambangkan bahwa warga kampung menyambut tamu dengan hati yang suci seputih bulu ayam jantan dan paneng cepa melambangkan kekeluargaan, kekerabatan dan kebersamaan dalam lingkungan masyarakat yang merupakan tradisi dari leluhur.

Dengan tidak menghilangkan gera-gerak dasar etnik Manggarai seperti gerak “Congka Sae “, ”Danding dan “Ndu Ndake” Tarian yang berawal dari ritus menyambut tamu, dikreasikan dalam tarian nan indah.

 

Busana  dan asesoris Adat Manggarai

Dalam tarian penari menggunakan asesoris dan busana adat Manggarai baik itu penari putri maupun putra pria. Ini menunjukkan kekahsan masyarakat Manggarai di mata tetamu yang datang.

Dituturkan Lasarus Seniman yang sudah berlanglangbuana selama 23 tahun di bidang seni tari Manggarai, penari putri memakai “Mbero”, pakaian busana adat untuk wanita, kain tenun ikat songke Manggarai, selendang motif songke dan “Bali-Belo” yang merupakan mahkota kecantikan bagi wanita Manggarai.

Kaum pria mengenakan baju putih lengan panjang, celana panjang bewarna putih juga memakai tenun ikat songke, dengan asesoris “Selepe” ikat pinggang adat Manggarai dilampini selendang curuk pada bagian  pinggang. Sapu Curuk atau Destar adalah  asesoris kepala bagi pria, dan Tubi Rapa anyaman tradisional sebagai assoris bagian dagu  melambangkan kejantanan pria Manggarai.

 

Gerakan Butuh Latihan Serius

Antonius Johan (18) salah seorang penari dari Sanggar wela Rowang pernah mementaskan tari ini ketika menghibur para turis yang bertandang ke Sanggarnya.

Menurutnya tarian tidak begitu sulit hanya butuh kosentrasi berlatih dengan mendengarkan apa yang arahkan oleh pelatih atau pembina tari.

“Kalau kita tekun dan disiplin pasti dengan gerak yang indah kita bisa menari,” katanya.

Gerakan memotong dengan menggunakan “Ndeki” tidak begitu sulit hanya saja sedikit butuh kosentrasi. Sementara tari ritus Congka Sae dengan irama ‘’Ndu Ndake “yang begitu cepat, penari diharapkan bergerak sesuai irama music. “Memang indah sih, tetapi juga sangat melelahkan,” ungkapnya.

Johan sangat senang ketika belajar tari tradisional karena menurutnya siapa lagi kalau bukan pemuda Manggarai yang bisa meneruskan tari budaya kepada generasi penerus pada masa yang akan datang. (Hironimus Dale)

=====

Keterangan Foto: Grup Tari  Ronda Sanggar Wela Rowang (Dokumentasi Sanggar)

Komentar ANDA?