Minggu, 1 Desember 2019

news flash

Tidak ada Lahan Tidur, yang Tidur Cuma Manusia

Agustus 13th, 2019 | by Bonne Pukan
Tidak ada Lahan Tidur, yang Tidur Cuma Manusia
Ekbis
0

NTTsatu.com – ĹEMBATA –  Bupati Lembata Eliazer Yentje Sunur menegaskan, tidak ada lahan tidur di Lemabata. Tetapi yang sedang tidur itu adalah warga Lembata yang malas.

“Sesungguhnya tidak ada Lahan Tidur di Tanah Lembata. Justru yang tidur adalah kita manusia-nya. Artinya, Sumber Daya Manusia (Petani) kita tidak memanfaatkan lahan kering yang ada menjadi produktif. Kita masih tidur. Tidak heran, jika kebanyakan orang Bima yang memanfaatkan lahan untuk usaha tanam bawang, Cabai, Tomat dan aneka sayuran lainnya. Karena itu kita harus kreatif dan inovatif melihat peluang yang ada untuk dimanfaatkan secara produktiif. Lahan kering justeru dimanfaatkan menghasilkan bawang merah , tomat dan cabai (Tecabang) dan aneka sayuran mencapai ratusan ton,” ungkap Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur.

Ungkapan bupati itu meluncur saat diwawancarai wartawan seusai panen Bawang Merah di Desa Waijarang, Kecamatan Nubatukan, jumat, (2/8) lalu. Berikut petikan wawancara Yan Matarau, Juru Warta Dinas Kominfo Kabupaten Lembata berikut ini. Petikannya.

Wartawan : Panenan ini sudah sekian kalinya, dan mencapai 0,4 hetar dengan hasil panen 3 ton upaya apa yang di digunakan sehingga berhasil ?

Bupati : ia, ini namanya ekspansi lahan, dalam rangka kita mewujudkan Tecabangh, untuk para petani cabai dan bawang, dan inikan sudah menyebar di seluruh desa. Dan yang berada disini memotivasi para petani lain, selama mereka giat dan selama mereka mau bekerja dan berinovasi sehingga bisa berproduktif. Tidak ada satupun lahan yang tidak berproduktif. Lahan ini bukan lahan tidur, kita saja yang tidur Lahankan selalu berdiri tegak. Untuk itu kita mulai bagunkan dengan motivasi tadi,sehingga produktifitas petani dibarengi dengan produksi yang bagus, kemudian ekspansi lahan untuk meningkatkan lagi volume pruduksi mereka. Ini kontiunitas artinya berjalan terus.

Wartawan : Pengelaman ditahun 2018, apakah ada ketergantungan dan penurunan bawang untuk Kabupaten Lembata..?

Bupati : kita lihat trennya dari tahun 2016 masih ketergantungan luar biasa,di 2017 juga masih. Kita coba membuat gebrakan diawal tahun 2018, kita coba mau menurunkan sedikit ketergantungan kita dengan bawang dari luar/ impor. Ternyata itu surplus jadinya. Begitu surplus ketergantungan kita tidak. Karena kita masih siapkan bibit. Sehingga tahun ini melalui Dinas Pertanian, dilakukan kebun bibit sebagai persiapan. Supaya kita tidak belanja lagi keluar tapi kita belanja didalam kita sendiri dalam rangka meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Untuk ketergantungan bibit itu masih, sekarang mulai lewat Dinas Pertanian mulai lakukan itu. Ini kalau ditanam sekarang mungkin Agustus, ada musim tanam bibit yang sekian tidak lagi kita impor lagi dari luar. Kita sudah bisa siap bibit bawangh sendiri.

Wartawan : Sedangkan untuk petani local sendiri berapa jumlahnya..?

Bupati: Saya lihat didesa-desa petani local sudah mulai masuk mengelolah kebun desa, kebun-kebun milik pribadi mereka itusemua sudah mulai paham bagaimana menanam bawang, akan tetapi masih harus focus lagi. Untuk sementara ini kita masih bersama teman-teman orang bima yang ada di lembata ini. karena mereka jagonya disitu untuk itu kita mulai meedukasikan, sekarang sudah didesa-desa kita lihat para petani sudah mulai garap ini bawang yang ada.

Wartawan : Ada Transfer Ilmu kepada para petani lokal…?

Bupati : Gebrakan ini juga menjadi bentuk edukasi bagi petani baik dalam bentuk informasi dan teknologi. Teknologi bukan berarti mesin tetapi manusianya kita anggap sebagai suatu teknologi. Karena dia mentranfer secara tidak langsung. Pertama, dia memberikan semangat kepada masyarakat local kepada para petani yang ada. Kedua, memotivasi bahwa ayo kita bisa atau berbuat sesuatu. Ketiga. keterampilan yang ada ditranfer kepada petani petani kita yang ada yang belum pemahaman masalah-masalah penanaman bawang ini.

Wartawan: Apakah di Kabupaten Lembata ada juga yang menanam bawang putih…?

Bupati : ada, ini di Desa Baolangu dan Desa Kolilerek. Mudah-mudahan diwaktu dekat ini kita juga panen di sana. Bawang Putih juga permintaan di pasaran luar biasa, ini pasar lokal saja kita belum bisa memenuhi semuanya. Kita ada surplus tapi masih beredar di dalam kita. Tapi kita coba untuk jual ke Kabupaten Flores Timur dan kabupaten lain sudah mulai. Bawang Lembata masuk kabupaten lain, tentu akan menekan harga bawang di kabupaten itu sendiri. Jadi impeknya sudah ada, pada hal awal kita produksi untuk kebutuhan kita. Pada saat kita mulai eksport. Maka, kita akan berbicara tentang kualitas bawang itulah daya saing.

Wartawan : Apakah dari hasil pertanian memberikan distribusi paling besar untuk PAD Kabupaten Lembata…?

Bupati : sektor pertanian ini kan sektor primer, yang menjadi sektor utama untuk meningkatkan pendapatan. Sekarang kalau primer ini banyak tapi kalau sekunder dan tersier tidak didukung maka barang kita akan lari keluar. Kita boleh tanam tapi tidak ada nilai tambah, harga pasar berlaku. Kalau begitu ini juga naik, tapi kalau sekunder ini naik dalam bentuk apa, dalam bentuk olahan, ada kuliner banyak aktifitas ini kalau dengan industrisasi pertanian ini naik. Aktifitas ekonomi masyarakat inikan jalan. Baik sector primer,sekunder maupun tersier. Dan kalau ini terlalu tinggi di primer kita ini peyumbang implasi. Karena kita mainnya tidak produktif artinya ada barang tetapi nilai tambahnya tidak ada orang ambil jual keluar. Kalau orang ambil jual keluar surplusnya luar biasa. Ya kalau begitu ini jalan sekundernya juga harus jalan. Yang dipikir sekarang, bagaimana Dinas Pertanian meningkatkan primer yakni bawang, dan sekundernya berpikir bagaimana industrisasinya. Dengan kata lain, pasarnya ada dimana di tersier, aktifitas ekonomi masyarakat dimana petani jalan, pedangang jalan semua jalan. Ini yang mempunyai pengaruh pada korelasi dengan anggaran kita mau naikan pruduktifitas lewat ekspansi lahan. Kita meningkatkan produktifitas lewat peningkatan kualitas produksi. Tapi yang di sini pun kita terus kelola barang ini jadi ini dan lain sebagainya dan itu harus bisa berjalan.

Wartawan: Sekarang inikan lagi mengejar target PAD khusus untuk Dinas Pertanian itu berapa jumlahnya diprediksi di tahun 2019….?

Bupati : ini langsung pada dinas terkait/,dinas yang punya target, 2 miliar lebih. Itu masih yang biasa-biasa saja dalam skema kerja mereka. Itu kalau kita pacu lagi untuk menghasilkan yang luar biasa. Apa yang harus dipacu. Kita butuh alat atau mesin pertanian, supaya apa ekspansi lahan itu berjalan. Ada tidak sumur-sumur bor. Itu juga memacu semuanya. Begitu target 2 miliar. itu bisa diapakan atau tidak. Kita perlu ini, mesin pertanian, kita butuh air untuk komsumsi airnya pada bawang. Itu yang kita maksud dengan intervensi anggaran. Supaya memenuhi target PAD yang tadi. Petani bawang di Lembata selalu optimis, jika kita mulai dengan serius tentu menghasilkan hasil yang baik pula. Jadi jangan pernah kalah dengan alam. Tetapi kita harus berekayasa dengan alam untuk menjadikan sesuatu demi kesejahteraan kita. Mari kita bekerja bersama, bergandeng tangan sukseskan Tecabang agar kita bisa dinikmati oleh kita semua.

Para Pekerja yang mengkelolah lahan bawang?
Para pekerja yang mengelolah bawang di Waijarang ini, adalah Kelompok Tani Kumaleu, berjumlah 4 orang pekerja yang diketuhai oleh bapak Rudi Ismail. Dalam jangka waktu 60 hari bawang akan di panen. Dalam satu hektar Lahan bisa menghasilkan 8-9 Ton hasil panenan bawang. Jenis bawang yang ditanam adalah jenis bawang lokal. Bibit 100 kg maka akan menghasilkan 900 kg bawang merah/60 hari.

Tomat juga di tanam di area ini, menghasilkan 35 juga dengan ukuran lahan 3 Hektar. Hasil bawang di sini (Kabupaten Lembata), menurut Bupati Sunur, kualitasnya lebih bagus dibandingkan dengan hasil produksi di Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. (Yan Moruk /Karel Burin, Dinas Kominfo Lembata).

Komentar ANDA?