Kamis, 18 Oktober 2018

news flash

Tuntut Keadilan, Warga Lusitada Gelar Ritus Adat di Kantor PN Maumere

April 23rd, 2018 | by Bonne Pukan
Tuntut Keadilan, Warga Lusitada Gelar Ritus Adat di Kantor PN Maumere
Hukrim
0

NTTsatu.com – MAUMERE – Sekitar 80 warga masyarakat Dusun Lusitada Desa Lusitada Kecamatan Nita mendatangi Kantor Pengadilan Negeri Maumere di Jalan Ahmad Yani Maumere, Senin (23/4). Mereka menuntut keadilan atas tanah perkampungan yang mereka diami selama ini. Warga menggelar aksi damai dengan melakukan ritus adat di halaman kantor tersebut.

Tanah perkampungan tersebut sudah mereka tempati secara turun-temurun selama empat generasi. Namun pada tahun 2014 lalu tanah ini kemudian menjadi objek sengketa. Sebanyak 25 kepala keluarga di kampung itu terseret menjadi tergugat.

Di tingkat Pengadilan Negeri Maumere, perkara perdata ini dimenangkan tergugat. PN Maumere menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya dalam perkara tersebut. Penggugat lalu memenangkan perkara ini di tingkat Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung. Dalam putusannya, MA menyebutkan tanah perkampungan tersebut adalah milik penggugat.

Dengan keputusan MA, maka tanah perkampungan tersebut harus dikosongkan. Kondisi inilah yang mengakibatkan para tergugat mendatangi PN Maumere untuk meminta keadilan. Bahkan mereka sudah nekad untuk tidak akan luar dati tanah perkampungan meski akan dilakukan eksekusi.

Warga Dusun Lusitada ini tiba di Kantor PN Maumere pada pukul 10.03 Wita. Mereka langsung menggelar ritus adat untuk menyampaikan pesan bahwa mereka berhak atas tanah perkampungan tersebut. Karena itu mereka menolak dengan tegas keputusan MA. Usai menggelar ritus adat, tiga perwakilan tergugat masing-masing Adriansu Mai, Theodorus Tana, dan Kristoforus Saren beraudiensi dengan Ketua PN Maumere Rahmat Sanjaya.

Adrianus Mai, salah seorang tergugat menjelaskan tanah yang menjadi objek sengketa adalah merupakan tanah perkampungan yang sudah mereka tempati selama empat generasi. Dia menduga ada upaya-upaya pembohongan yang dilakukan sehingga penggugat bisa memenangkan perakra ini pada tingkat Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung.

“Waktu sidang di Pengadilan Negeri, ahli waris penjual sudah menyampaikan keterangan di bawah sumpah bahwa bapaknya tidak pernah menjual tanah ini kepada penggugat. Semua bukti surat beli tanah dibantah. Malah dia menerangkan bahwa bukti-bukti jual beli yang diajukan penggugat adalah palsu,” terang Adrianus Mai.

Karena itu Adrianus Mai mengaku heran ketika justeru penggugat menang perkara perdata ini di tingkat Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung. Keputusan Pengadilan Tinggi dan Mahlamah Agung, katanya, sangat tidak adil telah mencederai para pergugat.
Ketua Pengadilan Negeri Maumere Rahmat Sanjaya menjelaskan bahwa perkara perdata ini sudah final sesuai keputusan Mahkamah Agung.

Pengadilan Negeri Maumere akan melaksakan perintah Mahkamah Agung. Kepada para tergugat, Rahmat Sanjaya mengatakan masih ada upaya hukum lain yang bisa dilakukan yakni dengan mengajukan peninjauan kembali (PK).
Usai melakukan aksi damai di Kantor Pengadilan Negeri Maumere, para tergugat mendatangi Kantor Bupati Sikka di Jalan Ahmad Yani. Mereka menyampaikan hal yang sama kepada Pelaksana Tugas Bupati Sikka Paolus Nong Susar. Seteah itu mereka bertemu anggota DPRD Sikka di Jalan Eltari. DPRD Sikka langsung menggelar rapat dengar pendapat yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Sikka Donatus David. W (vic)

 

Foto: Warga Dusun Lusitada Desa Lusitada Kecamatan Nita mencari keadilan dengan menggelar ritus adat di halaman Kantor Pengadilan Negeri Maumere, Senin (23/4);

Komentar ANDA?