Minggu, 22 September 2019

news flash

Valdi Pratama, Bisnis dan Edukasi Pengolahan Kopi Petani

September 12th, 2019 | by Bonne Pukan
Valdi Pratama, Bisnis dan Edukasi Pengolahan Kopi Petani
Ekbis
0

NTTsatu.com – BAJAWA –  Sosok pengusaha muda Valdi Pratama, adalah salah satu penguasaha yang kini bergerak di bisnis kopi. Tak hanya menekuni bisnis kopi, Valdi kini juga aktif melakukan edukasi di bidang pertanian hingga pengolahan kopi di daerah.

“Kopi yang baik itu, kita tidak bisa melihat dari varietasnya (jenis), ketinggian, atau dimana kopi itu ditanam. Tapi bagaimana masyarakat yang mengolahnya. Jika (masyarakatnya) tahu cara mengolah kopi dengan benar, maka itu kopi pasti bagus,” kata Valdi saat ditemui di perkebunan kopi warga di Kampung Ekoheto, Desa Persiapan Mukufoka, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Meski saat ini tinggal di Denpasar Bali, namun Valdi kini sering bolak-balik ke Pulau Flores, khususnya ke daerah Bajawa, untuk menemui para petani kopi. Selain membeli kopi arabika hasil kebun petani di daerah tersebut, Valdi juga aktif memberi edukasi kepada para petani mulai proses tanam, peremajaan tanamam kopi, hingga pengolahan kopi yang baik pasca panen.

“Percuma saja varietas (kopi) bagus tapi cara pengolahannya belum maksimal atau bagus. Karena kopi yang baik itu konsisten dalam pengolahan, dan itu mempengaruhi rasanya,” jelas pria lulusan Business and Management Studies, di University of Sussex, Inggris.

Potensi besar kopi dari wilayah Bajawa ini diakui oleh Valdi, tidak kalah dengan kualitas kopi lainnya di Indonesia seperti kopi dari Aceh, Toraja, dan kopi dari daeerah lainnya di Indonesia.

Meski diakui berkualitas, namun potensi besar kopi di tempat ini diakui belum digarap maksimal. Di musim panen, masih banyak sekali kopi yang terbuang sia sia karena terkendala tenaga kerja petik kopi dan infrastruktur jalan yang tidak memadai.

“Potensinya luar biasa, rata-rata di sini petani sumber utama penghasilannya adalah kopi dengan kualitas kopi yang tidak kalah dari tempat lain bahkan jauh lebih baik karena tanahnya subur dan jarang menggunakan pupuk kimia sehingga tidak terkontiminasi. Satu petani punya dua hingga tiga kebun kopi, satu kebun petani bisa hasilkan 3 ton gelondongan cherry merah (buah kopi),” ujar Valdi.

Petani desa ini, sebut Valdi, memiliki kebun kopi yang kurang terawat karena akses jalan yang susah dilalui. Jalan yang belum diaspal membuat biaya angkut kopi menjadi kendala tersendiri.

“Alangkah baiknya jika dibantu akses jalan agar gaung kopi mereka terdengar di seluruh pelosok negeri. Mereka di sini benar-benar kaya kopi yang bagus, hanya akses jalan yang kurang. Di musism panen banyak kopi tersisa atau terbuang karena kurangnya tenaga kerja untuk petik kopi. Karena medan yang sulit, akhirnya orang pergi ke dataran yang lebih rendah, padahal di sini potensinya luar biasa,” ujarnya. (*/bp)

Komentar ANDA?