27 Alat Pengolah Coklat Menganggur di Gudang SIC

0
804
Foto: Sejumlah alat pengolah coklat yang berada di Gudang Sikka Innovation Center (SIC) Maumere, Selasa (2/1)

NTTsatu.com – MAUMERE – Ada pemandangan yang baru di Gedung Sikka Innovation Center (SIC) milik Pemkab Sikka. Di sana terdapat 27 alat pengolah coklat untuk memulai kerja produksi. Sayangnya alat-alat produksi tersebut sementara ini menganggur saja karena tidak didukung biaya produksi yang maksimal.

Duapuluh tujuh alat produksi ini berada di Gedung SIC sejak akhir November 2017 lalu, terdiri dari 9 alat produksi hulu dan 18 alat produksi hilir. Pengadaannya menggunakan dana APBD 2017 senilai Rp 1.089.000.000, yang didatangkan oleh Institute Coffee Cacao Resources Indonesia (ICCRI) Jember.

ICCRI Jember tidak saja terlibat pada pengadaan alat-alat produksi, tapi mereka juga langsung datang ke Maumere untuk memberikan pelatihan kepada 5 tenaga operator dan tenaga teknis yang direkrut Unit Pelaksana Teknis SIC. Mereka yang direkrut ini adalah dari 10 orang yang sebelumnya pernah terlibat untuk kegiatan produksi VCO.

Kepala UPT SIC, Okto Suban Pulo yang ditemui di Gudang SIC, Selasa (2/1), menjelaskan alat-alat produksi itu berfungsi untuk memproduksi kakao menjadi barang setengah jadi dan barang jadi.

Selama beberapa hari ini mereka sudah melakukan uji coba dengan menggunakan bahan-bahan lokal dari Kabupaten Sikka. Buah kakao diambil dari beberapa kecamatan produksi kakao seperti di Nita dan Hewokloang.

Okto Suban Pulo sempat memperlihatkan hasil uji coba berupa batangan coklat yang siap dikonsumsi. Coklat itu rasanya enak sekali, tidak kalah dengan produksi coklat lain yang biasa ditemukan di pasaran. Coklat tanpa kemasan dan belum punya branding ini, jika serius diproduksi diperkirakan bisa memberikan angin segar atas SIC yang selama ini sering menjadi kontroversial.

Menurut Okto Suban Pulo, alat-alat produksi ini untuk sementara belum bisa difungsikan. Pihaknya masih menunggu kegiatan grand opening yang rencananya dilakukan Bupati sikka Yoseph Ansar Rera. Grand opening itu sendiri belum dijadwalkan, karena sementara ini masih ada pembenahan pada salah satu ruangan SIC yang kelak dijadikan ruang produksi.

Informnasi yang dihimpun media ini, untuk tahun anggaran 2018 SIC memperoleh alokasi dana kurang lebih Rp 200 juta. Dana ini diperkirakan sangat tidak memungkinkan untuk kerja produksi pengolahan coklat. Bahkan untuk belanja bahan-bahan baku seperti kakao, susu, gula pasir dan bahan adiktif lainnya pun tidak cukup. Belum lagi untuk membiayai listrik dan fasilitas Gudang SIC, termasuk pemeliharaan alat-alat produksi.

Dengan minimnya dukungan dana, diperkirakan kerja produksi akan sangat terhambat, terkendala, dan tidak lancar. Itu artinya alat-alat produksi ini akan menganggur saja, dan lama-kelamaan bisa jadi mubazir.

Masih ada masalah lain yakni terkait 5 tenaga operator dan tenaga teknis yang tidak terencana biayanya pada tahun anggran 2018 ini. Kelima tenaga ini dikontrak untuk dua bulan hingga Januari 2018. Setelah jatuh tempo, praktis harus ada kontrak lanjutan, tetapi alokasi dana untuk membiayai kontrakan tidak tertampung pada DPA SIC.

Okto Suban Pulo mengakui adanya sejumlah kendala yang bakal dihadapi saat kerja produksi. Selama ini dia sudah berupaya memikirkan solusi untuk mengeliminir kendala-kendala yang akan dihadapinya. Namun sampai sekarang belum ada jalan keluar untuk mengatasinya.

Dia meyakinkan pengolahan coklat bakal menjadi prospek yang fenomenal untuk Kabupaten Sikka. Untuk itu dia mengharapkan intervensi dana yang bisa mendukung kerja produksi. Okto Suban Pulo mengaku siap memberikan presentasi jika diperlukan pihak-pihak yang mau bekerjasama. (vic)

Komentar ANDA?