AKU berkata kepadamu: Bangunlah!

0
290

Oleh: Rm. Ambros Ladjar, Pr

*Hari Minggu Pekan XIII Masa Biasa, 30 Juni 2024*. Bacaan. Kebij 1: 13-15, 2: 23-24 dan 2Kor 8: 7,9, 13- dan Injil  Mk 5: 21-43.

Rasa percaya diri merupakan sebuah daya kekuatan besar sebab dengan potensi yang dimiliki orang dapat memenangkan sebuah ajang kompetisi bergengsi atau pertempuran hebat. Sudah banyak orang yang terbukti sukses karena memiliki daya kekuatan batin dari dalam dirinya. Seseorang yang memiliki positive thingking yang kuat di dalam dirinya akan yakin bahwa dengan kemampuannya ia berani membuka relasi komunikasi, tanggung jawab serta harga dirinya. Rasa percaya diri serupa sangat diperlukan untuk meniti jalan hidup.

Ada dua kisah Injil yang mirip dalam narasi Markus terkait “sakit dan penyakit”. *Pertama* adalah kisah anak Yairus yang sudah berumur 12 tahun. Gadis kecil ini menderita sakit dan hampir mati maka ayahnya dengan berani datang untuk mencari pertolongan pada Yesus biarpun dia itu kepala rumah ibadat. Logikanya bahwa dia sendiri itu kelompok elite Yahudi yang selalu berbeda pandangan dengan Yesus tapi baginya tak ada jalan lain lagi, selain *datang kepada Yesus* dengan rendah hati. Ia justru tersungkur di depan kaki Yesus seraya meminta pertolongan Yesus maka anaknya yang sekarat hampir mati itu bisa selamat.

*Kedua* di dalam perjalanan ada lagi seorang perempuan yang sudah 12 th menderita pendarahan. Segala cara dan daya sudah diupayakan tapi tak membuahkan hasil malah semakin memburuk keadaannya. Sebab itu ketika ia tahu cerita tentang Yesus, dia beranikan diri menyentuh jubah Yesus dari belakang. Dia yakin, *asal saja kujamah jubah-Nya*, aku akan sembuh. Sangat heran karena pada saat itu pula perdarahannya berhenti dan dia rasa sudah sembuh dari sakit. Kedua kisah ini menunjukan, betapa besar iman yang diperlukan agar orang bisa mengalami kesembuhan rohani-jasmani.

Terlepas dari dua kisah penyembuhan yang dilakukan Yesus tadi tampak juga ada sisi kontradiksinya. Sebab ada orang yang menyaksikan peristiwa penyembuhan itu merasa aneh ketika Yesus mengatakan bahwa “anak itu tidak mati tapi tidur” sambil menertawakan Yesus. Di situ sesungguhnya mereka tak percaya dan menunjukan bahwa perbuatan baik Yesus tak langsung ditanggapi dengan sikap iman. Tawaran akan sesuatu yang baik belum tentu menarik maka membuat orang bersikap wait and see, tarik ulur untuk bisa percaya.

Sikap Yairus yang sudah terkontaminasi oleh ambisi kelompok penguasa Yahudi, harus rela dirobah demi anaknya. Sebab itu maka dia rela tanggalkan arogansi kuasanya demi keselamatan nyawa anak. Baik Yairus maupun perempuan yang sakit pendarahan memiliki iman yang jadi contoh buat kita pada zaman kini. Iman membutuhkan ketabahan dan kesetiaan serta usaha dari kita. Dengan iman itu barulah kita bisa meraih apa yang didambakan.

Pada kenyataan kita cepat merasa bosan dan menyerah kalah. Padahal buah suatu kesetiaan adalah mujizat “kesembuhan”. Dari setiap pengalaman yang sudah gagal kadang kita tak mau berusaha lagi karena sudah buang energi, materi dan biaya. Padahal sekuranya kita beriman dan berharap maka pasti ada jalan dan tak akan sia-sia segala usaha kita. Itu artinya kita perlu tinggalkan segala bentuk harga diri yang berlebihan. Sanggupkah kita hilangkan sikap superioritas di depan mata Yesus agar bisa bangun kembali?

*Salam Seroja, Sehat Rohani dan jasmani* di Hari Minggu buat semuanya. Jikalau ADA, Bersyukurlah. Jika TIDAK ADA, BerDOALAH. Jikalau BELUM ada, BerUSAHALAH. Jikalau masih KURANG Ber- SABARLAH. Jika LEBIH maka BerBAGI LAH. Jika CUKUP, berSUKACITALAH. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga anda dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita yang melingkupi hidupmu… Amin🙏🙏🙏🌹🌹✝️🪷🪷🤝🤝🎁🛍️💰🍇🍇🇮🇩🇮🇩

Pastor Paroki Katedral Kupang

Komentar ANDA?