90 Warga Lembata Meninggal Karena AIDS

0
214

NTTsatu.com – LEWOLEBA – Salam kurun waktu tiga tahun lebhi (2014 hingga 2017), tercatatn sudah sebanyak 90 orang warga Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia karena AIDS sejak 2013 hingga tahun 2017.

Rofinus Laba Lasar, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Lembata di ruang kerjanya, Kamis (24/8) mengatakan, kasus HIV/AIDS di Lembata mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Selama periode 2013-2015, KPAD berhasil mengidentifikasi 193 kasus HIV/AIDS. Sementara pada tahun 2016 terdapat sebanyak 204 kasus. Dan pada tahun 2017 naik menjadi 238 kasus.

“Sampai Agustus tahun ini kita sudah berhasil identifikasi 19 orang pengidap HIV/AIDS dan satu orang sudah meninggal dunia dan yang sedang didampingi saat ini yakni 21 ODHA (orang dengan HIV/AIDS) dan 26 orang terpapar HIV,” jelasnya.

Ia mengakui masih ada penderita HIV yang rutin mengonsumsi obat, namun ada pula yang tidak mengonsumsi obat karena kurang terbuka tentang penyakit yang dideritanya.

“Ada yang setelah obat yang diterima habis, tak lagi berkoordinasi dengan KPAD untuk mendapatkan obat,” ujarnya.

KPAD, terang Lasar, terus melakukan sosialisasi dengan menyasar kelompok anak sekolah, karang taruna, dan ibu rumah tangga saat posyandu termasuk ke jelompok kategorial dan keagamaan. KPAD juga diberi ruang saat kursus persiapan perkawinan di gereja untuk memberikan pemahaman kepada pasangan yang akan menikah.

Pihaknya juga terus mendorong warga masyarakat untuk memeriksakan diri lebih dini terutama bagi pasangan yang hendak menikah agar sudah saling tahu kondisi kesehatan masing-masing sebelum menikah. Sehingga, jangan sampai setelah menikah baru tahu kondisi kesehatan pasangan dan menjadi alasan untuk bercerai.

Ia juga mengatakan, walau sosialisasi terus dilakukan dan KPAD terus mendorong masyarakat untuk memeriksakan diri ke Klinik VCT RSUD Lewoleba yang buka setiap Selasa dan Sabtu, namun kesadaran maayarakat untuk memeriksakan diri masih sangat rendah. Padahal, sudah sejak tahun lalu RSUD Lewoleba jadi rumah sakit rujukan penderita AIDS.

“Kita tidak bisa terlalu paksa. Kalau dipaksakan nanti mereka bilang kasih kami uang untuk bayar oto. Kasih kami uang untuk beli makan di jalan. Jadi kita hanya bisa imbau,” kata Lasar.

Yuliana Baha, pegiatan kesehatan di Lewoleba mengatakan, Lewoleba saat ini sudah menjadi kota yang terbuka. Sejumlah kapal besar setiap minggu masuk dan keluar Lewoleba dan membuka ruang masuknya orang-orang dari luar. Walau tak mencurigai orang dari luar yamg masuk di Lewoleba, namun dengan semakin terbuka maka akan pula terjadi hal-hal yang tak dinginkan masuk termasuk penyebaran penyakit HIV/AIDS.

Karena itu, lanjutnya, diperlukan pendidikan dan pendampingan terutama kepada generasi muda agar tak terjerumus dalam pergaulan bebad dan seks pranikah. Peran tokoh agama dan tokoh masyarakat  pun sangat diperlukan dalam menangkal penyebaran virus mematikan tersebut. (rin)

Komentar ANDA?