AIDS Bunuh 241 Warga Belu

0
139
Foto: Ilustrasi

ATAMBUA, NTTsau.com – Hingga Maret 2016, tercatat 241 orang Belu meninggal karena HIV/AIDS. Total penderita 914 orang terdiri dari HIV 376 orang dan AIDS 576 orang. Dari jumlah ini, 241 orang meninggal dunia.
Demikian data yang disampaikan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Belu saat rapat kerja bersama Wakil Bupati (Wabup) Belu, JT Ose Luan, di ruang kerja Wabup Belu, Kamis (38/4/2016). Hadir, Kadis Kesehatan, Theresia Saik, dari RSU Atambua, Blandina Ebu Loko, dari Klinik VCT dr. Theo Maubere, dari PMI, Bona Bowe dan Staf KPA, Marsel Siga.
Sekretaris KPA Belu, Manek Rofinus kepada Wabup Ose Luan menyampaikan, data 914 penderita HIV/AIDS merupakan akumulasi dari tahun 2004 hingga Maret 2016.
Berdasarkan data yang ada, lanjutnya, menunjukkan tren penurunan jumlah kasus yang terjadi. Pada tahun 2012 sempat mencapai 143 orang lalu menurun menjadi 92 kasus di tahun 2013, naik menjadi 104 kasus tahun 2014, kemudian turun lagi 95 kasus di tahun 2015. Pada Maret 2016 terjadi 38 kasus.
“Yang meninggal 241 orang atau 26 persen, 348 atau 38 persen mengidap HIV dan 325 orang atau 36 persen AIDS,” jelasnya.
Berdasarkan data yang diperoleh, jika dirincikan dari 12 kecamatan di Belu maka ada enam kecamatan dengan kasus HIV/AIDS terbanyak, yakni Atambua Selatan 125 kasus, Atambua Barat 126 kasus, Kakuluk Mesak 113 kasus, Kota Atambua, 100 kasus, Tasifeto Timur 95 kasus dan Tasifeto Barat 84 kasus.
Jika berdasarkan usia maka paling banyak penderita berusia produktif 20 tahun sampai 49 tahun sebanyak 778 orang. Enam puluh persen penderita laki-laki.
“Data ini mengindikasikan laki-laki lebih banyak sebagai penderita dan berpotensi menyebarkannya karena laki-laki tinggi pergerakannya,” ujarnya.
KPA selama ini selalu bersama SKPD terkait melakukan sosialisasi dan kegiatan bersifat promotif dan kuratif.
Rofinus mengeluhkan alokasi anggaran dari tahun ke tahun terus berkurang dari Rp 300 juta tahun 2012 menjadi Rp 128 juta tahun 2016. KPA juga tidak punya kendaraan operasional serta kurang tenaga terlatih HIV di rumah sakit dan puskesmas.
Menanggapi hal ini, Wabup Belu, JT Ose Luan mengatakan, HIV/AIDS sama dengan narkoba merusak generasi bangsa. Hal ini terlihat dari banyaknya penderita berusia produktif.
“Soal anggaran karena sudah ditetapkan maka mungkin diperubahan. Atau nanti tahun depan bisa dinaikkan Rp 300 juta atau lebih,” jelasnya.
Menurutnya, jika anggaran masih bergabung dengan Dinas Kesehatan maka tahun 2017 akan ditambah anggarannya khusus untuk sosialisasi karena HIV/AIDS membutuhkan pemahaman masyarakat. (poskupang.com)

Komentar ANDA?