AMARA Desak Gubernur NTT Cabut Izin Eksplorasi Tambang di Matim

0
312

NTTsatu.com — KUPANG —  Aliansi Mahasiswa Manggarai Raya (AMARA) di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) meminta Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mencabut izin eksplorasi tambang batu gamping di Luwuk, Desa Satar Panda, Kecamatan Lambaleda Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

Hal ini disampaikan jjuru bicara AMARA, Jefry Nyoman aaat dialog bersama DPRD NTT pada Senin 29 Juni 2020.

Alasan Menurit Jefry, Kita minta gubernur segera mencabut izin eksplorasi tambang di Matim karena telah merusak dan menhancurkan peradaban masyarakat di desa setempat,” ujar salah satu demonstran AMPERA, Jefry Nyoman saat berdialog bersama DPRD NTT pada 29 Juni 2020.

Permintaan agar Gubernur Laiskodat mencabut izin eksplorasi tambang, menurut AMARA sangat beralasan dikarenakan beberapa alasan diantaranya, tambang dapat menghilangkan peradaban budaya bagi masyarakat di lokasi tambang.

“Etnis budaya di Matim itu memberikan warisan budaya solidaritas dan keberdamaan,” ujar Koordinator Lapangan AMARA, Jefry Nyoman Saat berdialog bersama DPRD NTT, Senin 29 Juni 2020.

Selain itu, keahadiran tambang dapat menyebabkan konflik horisontal karena adanya pro dan kontra di masyarakat terhadap kehadiran tambang di Matim.

Bupati Matim, Andre Agas, kata AMARA telah memanipulasi dan intimidasi warga desa di lingkar tambang. Pasalnya, Bupati telah mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintah Matim akan merelokasi warga.

“Bupati memaksa warga menerima investor tanpa memberikan sosialisasi kepada warga. Ada intimidasi dari pemerintah,” ungkap Jefry.

Catatan merah perusahan tambang. Perusahan itu, kata AMARA telah melakukan pertambangan sebelumnya di Matim dan menyisahkan kerusakan ekologis.

“Ada lubang besar yang ditinggalkan perusahan menyebabkan kerusakan ekologis. Tambang itu tidak mensejahterakan. Yang ada janga menghancurkan,” tegasnya.

AMPERA, kata Jefry berharap dewan segera membuat keputusan politik untuk meminta pemerintah segera mencabut izin eksplorasi tambang di Matim.

“Tambang menghancurkan kaum tani yang telah sejahtera di tanah sendiri namun sekarang investor telah melakukan eksplotasi besar-besaran. Janji manis investor adalah kecelakaan,” ujarnya. (gan/bp)

Komentar ANDA?