Amppera – Mata Mera Demo Desak Polda NTT Tetapkan Tersangka Awololong

0
660

NTTsatu.com — KUPANG — Puluhan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Rakyat Lembata (Amppera-Kupang) dan Front Mahasiswa Lembata Makassar Merakyat (Front Mata Mera) melakukan aksi demonstrasi di Markas Polda NTT, Selasa, 11 Agustus 2020.

Mereka menuntut dan mendesak Polda NTT untuk segera menetapkan tersangka kasus dugaan korupsi dalam mega proyek destinasi wisata (Jembatan titian, kolam apung, restoran apung, pusat, kuliner dan fasilitas lainnya di pulau siput Awololong, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sejak kasus ini dinaikkan ke tahap penyidikan, sampai dengan saat ini Polda NTT belum menetapkan tersangka kasus Awololong.

Dijelaskan bahwa, pada tanggal 20 Mei 2020, telah terbit Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP). Empat hari kemudian sejak SP2HP terbit, Polda NTT mengeluarkan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP).

Namun, lambannya proses penyidikan yang dilakukan oleh penyidik Tipidkor Polda NTT, hingga kini belum ada penetapan tersangka kasus yang menelan anggaran Rp. 6.892.900.000 itu.

Tarik ulur proses penyidikan, Amppera dan Front Mata Mera bahkan menuding Polda NTT “kongkalikong” dengan pihak terduga demi mengendapkan kasus Awololong atau melindungi aktor intelektual dugaan korupsi Awololong di Lembata.

Kekesalan Amppera dan Front Mata Mera memuncak ketika Kapolda NTT Irjen Pol Drs. Hamidin, SIK hari ini melaksanakan kunjungan kerja di Kabupaten Lembata tanpa ada kejelasan hukum kasus Awololong.

Amppera dan Front Mata Mera menilai Kapolda NTT, Irjen Pol. Drs. Hamidin, S.I.K gagal dalam mengungkap kasus Awololong.

Padahal, secara kasat mata dan bukti-bukti yang telah dikantongi oleh Amppera dan Front Mata Mera, proyek senilai Rp. 6 . 892.900.000 itu telah terjadi realisasi anggaran 85% namun fisik 0%.

Bagi Amppera dan Front Mata Mera, sepertinya penegakkan hukum dan keadilan telah mati di Kabupaten Lembata. Tampak mereka membawa keranda peti mati, poster-poster berisi tulisan kritis.

Selain berorasi, diisi pula dengan pembacaan puisi, yel-yel dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

Berikut pernyataan sikap Amppera dan Front Mata Mera:

Pertama, mendesak Polda NTT segera menetapkan tersangka kasus dugaan korupsi dalam mega proyek destinasi wisata (Jembatan titian, kolam apung, restoran apung, pusat kuliner dan fasilitas lainnya) di pulau siput Awololong Lembata.

Kedua, mendesak Kapolri Jenderal Idham Azis untuk memberi atensi khusus terhadap Polda NTT serta mengevaluasi kinerja Polda NTT atas lambannya mengusut tuntas kasus Awololong.

Ketiga, mendesak Bareskrim Mabes POLRI dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan supervisi secara ketat kinerja Polda NTT dalam mengusut tuntas kasus Awololong.

Keempat, apabila tuntutan ini tidak dipenuhi, Amppera dan Front Mata Mera akan melakukan konsolidasi massa besar-besaran, selanjutnya, akan berkemah dan menginap di Markas Polda NTT melakukan aksi demonstrasi berhari-hari hingga kasus Awololong harus diusut tuntas.

Pernyataan sikap Amppera Kupang dan Front Mata Mera diserahkan secara simbolis oleh perwakilan dari Front Mata Mera Supriadi Lamadike ke perwakilan Polda NTT dari unsur Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda NTT di depan pintu gerbang Polda NTT.

Pernyataan sikap dari Amppera Kupang dan Front Mata Mera akan diteruskan ke Presiden RI, Kapolri, Kajagung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kapolda NTT, Kejati NTT, Propam Polda NTT, serta lembaga negara lainnya untuk memberi atensi khusus dan pengawasan secara ketat proses hukum Awololong. (*/bp)

Komentar ANDA?