Anak Korban Kerasan Harus Diperhatikan Serius

0
255
????????????????????????????????????

KUPANG. NTTsatu.com – Anak-anak  yang mengalami kekerasan perlu mendapat perhatian serus karena mereka telah mengalami guncangan jiwa yang cukup hebat akbat kekerasan tersebut. Mereka perlu dlindungi dan berikan kasih sayang.

Demikian kata Kepala bidang Kesejahteraan Keluarga, pada Dinas Kesehatan Kota Kupang, Ngura Suarnawa saat memaparkan meteri soal peranan Dinkes dalam penanganan kekerasan anak pada acara Workshop Pengembangan draft SOP penanganan kekerasan seksual  anak yang diselenggarakan oleh Lembaga Rumah Perempuan Kupang.

Peserta workshop yang digelar, Selasa, 3 November 2015 itu antara lain dari kepolisian yakni Polres Kupang Kota, semua Polsek se-Kota Kupang, Dinas kesehatan, Puskesmas, Dinas PPO Kota Kupang ,dan Pemberdayaan Perempuan dan anak Kota Kupang serta utusan pelajar dari sejulah sekolah di Kota Kupang.

Ia mengatakan, anak-anak korban kekerasan itu harus dilindungi, diberikan kasih sayang dengan sistim penerapan pola asuh yang tepat dari keluarga, sekolah dan lingkungan sekitarnya agar bisa  meningkatkan kualitas hidup anak.

“Prinsip penanganan kasus kekerasan yakni melindungi korban dari pelaku dan dari upaya bunuh diri, melaporkan kekerasan kepada pihak berwenang dengan persetujuan koban ,kecuali bila terdapat ancaman pembunuhan, acaman pada anak dibawah umur atau wajib laporan lain,” katanya.

Sementara Direktris Lembaga Rumah Perempuan Kupang, Libby Sinlaeloe Ratuarat mengatakan, persoalan kekerasan seksual anak merupakan kasus yang saat ini semakin marak terjadi di Kota Kupang dan sekitarnya,

Data pendampingan Rumah perempuan Kupang menunjukkan untuk tahun 2014 terdapat 49 kasus kekerasan seksual anak yang didampingi dan 13 orang dinataranya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

“Kekerasan seksual anak yang terjadi dipicu oleh berbagai faktor antara lain maraknya video porno, kurangnya pendidikan seks dini bagi anak, pemahaman yang keliru bahwa anak adalah hak milik sehingga bebas melakukan apa saja kepada mereka, dan minimnya pemahaman dan respon masyarakat dan penyediaan layanan yang ada tentang isu kekerasan seksual,” tuturnya.

Untuk itu,kata Libby, dalam mengatasi persoalan tersebut diperlukan suatu komitmen bersama dalam penyediaan layanan secara keroyokan dari berbagai pihak yani kesehatan, kepolisian, guru dan LSM dan pihak-pihak terkait lainnya.

“Komitmen bersama yang dimasudkan harus diwujudkan dengan melakukan pengembangan draft SOP penanganan kekerasan seksual. Melalui SOP ini dapat dipastikan anak menjadi korban akan ditangani secara komprehensif sehingga dapat memberikan perlindungan bagi anak tersebut,” katanya.

====

Foto : Penyampaian Materi saat Workshop

Komentar ANDA?