Andre Koreh Puji Satker Jalan Wilayah IV NTT

0
310

KUPANG. NTTsatu – Kerja keras Satuan Kerja (Satker) Jalan Wilyah IV yang berhasil menggusur material longsoran di ruas jajan trans Flores Ende – Maumere di KM 17 arah Timur Kota Ende mendapat pujian dari Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Andre Koreh. Dia berharap kerja keras seperti ini harus tetap dipertahankan ke depannya.

“Saya bangga dengan kerja keras mereka, karena itu kita patut mengapresiasi kerja keras mereka itu sehingga transportasi dan roda perekonomian di daerah itu tidak terganggu dalam waktu yang lama,” kata Andre usai pembukaan seminar bertajuk Teknologi Perkerasan Jalan yang diselenggarakan oleh PT Gaya Makmur Surabaya bekerjasama dengan LPJK dan Gapensi NTT di Kupang, Kamis (19/3).

Andre mengakui, di ruas jalan antara Ende – Maumere terdapat sejumlah titik rawan longsor  yang memerlukan perhatian serius dan harus diwaspadai setiap tahun ketika musim hujan tiba. Daerah-daera itu memang sangat rawan dengan longsoran.

Dia menyebutkan, titik rawan yang harus tetap diwaspadai antara KM 10 –KM 20, kemudian Detusoko – Moni, Moni – Wolowaru dan Wolowaru – Watuneso. Di sekitar lokasi tersebut perlu disiagakan alat berat, sehingga ketika terjadi longsoran langsung dibersihkan.

“Sejauh ini yang masih rawan longsor terdapat di ruas jalan antara KM 14 – KM 20. Ketika musim hujan, lokasi tersebut selalu menjadi perhatian, karena jika hujan dengan intensitas tinggi bisa menimbulkan longsoran hebat,” ujarnya.

Dia menuturkan, upaya yang dilakukan Satker Jalan Wilayah IV NTT  sudah sangat maksimal sehingga  dalam waktu seminggu sudah bisa dilewati kendaraan bermotor. Ini di luar perkiraan sebelumnya, lantaran beratnya medan di lokasi longsoran.

Ditanya, apakah perlu dicarikan lokasi alternatif mengingat ruas jalan yang ada rawan longsor, Andre mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil kajian Litbang Jalan Kementerian Pekerjaan Umum, yang sudah melakukan penelitian di Ende beberapa waktu lalu.

“Untuk mencari lokasi alternatif boleh-boleh saja. Tetapi kita harus menunggu rekomendasi Litbang Jalan, karena lembaga ini yang paham soal struktur jalan dan kondisi sekitarnya. Bagaimana hasilnya nanti, tentu akan ditindaklanjuti,” katanya. (bop)

Komentar ANDA?