Aneka Ritus di Kampung Adat Warawatung, Nagawutun, Lembata

0
1191
Foto: Tengkorak leluhur warga desa Warawatung yang disimpan di rumah adat setempat

DESA WARAWATUNG merupakan sebuah desa di sebelah selatan di Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata. Jaraknya sekitar 40 kilo meter (km) dari Lewoleba, ibu kota kabupaten Lemata. Desa ini merupakan hasil pemekaran dari desa induk Lusiduawutun dengan jumlah penduduk 297 jiwa.

Menelisik  jauh ke dalam kehidupan sosial budaya, desa ini ternyata memiliki beberapa tradisi khas  yang terus dilestarikan hingga saat ini. Kekuatan budaya yang tetap kental menjadikan desa ini sebagai sebuah desa adat.

Tercatat beberapa ritus budaya yang merupakan kekhasan desa ini yang dilakukan secara periodik dan sewakt- waktu menurut aturan adat.

1, Ga Kfaru (makan Jagung Muda)

Ritus makan jagung muda memang bukan hanya ada di desa Warawatung karena beberapa desa juga memiliki tradisi ini. Ritus makan jagung muda di desa Warawatung biasanya dilakukan setiap dua tahun sekali tetapi ada juga yang melakukannya setiap tahun.

Waktu pelaksanaan upacara ini pun tidak sembarang karena dilakukan menurut perhitungan bulan, yaitu pada hari bulan ke-3, 5, 7, 9, 11; tidak boleh lebih dari hari bulan ke 11 karena menurut kepercayaan lokal pada hari bulan tersebut mulut para leluhur sudah tertutup sehingga tidak dapat menikmati sesajian yang diberikan.  Beberapa ritus khas dalam rangkaian upacara makan jagung muda di desa Warawatung, antara lain:

           a. Para Koreng Krongot (memberi sesaji kepada tengkorak).

Koreng krongot atau tengkorak yang akan diberi sesajai ini merupakan tengkorak nenek moyang dan anggota keluarga suku yang sudah meninggal. Sesuai tradisi di desa ini setiap anggota keluarga yang sudah meninggal dalam kurun waktu tertentu (± 10 tahun) akan diambil tenggkorak kepalanya dan disimpan di tempat yang dinamakan Koker.

Pada saat upacara makan jagung muda tengkorak-  tengkorak ini akan dikeluarkan dan dimandikan (lebu pmaha) dan diminyaki dengan santan kelapa (popah orut).  Selanjutnya tengkorak ini dudupai dengan kemenyan dan kayu wangi dalam sebutan daerah kaju Kaihali.

Pendupaan ini dengan tujuan untuk menghidupkan kembali arwah orang yang meninggal sehingga dapat menikmati sesajian yang disiapkan. Setelah beberapa saat didupai tengkorak- tengkorak ini akan ditetesi dengan darah ayam jantan merah dan diberi makan dengan jenis sesaji nasi merah,hati dan jantung ayam yang sudah direbus. Prosesi ini disebut para koreng krongot dan terjadi pada pagi hari.

         b. Para Fua Furek ( Sesaji kepada batu-batu sakti)

Para fua furek atau sesaji kepada batu- batuan sakti. Ritus ini terjadi pada malam hari sebelum ketua adat dan anggota suku yang sepanjang tahun berpuasa (tidak makan jagung dan atau beras padi baru) menikmati jagung muda. Fua furek atau batu- batuan ini merupakan batu- batu sakti jelmaan nenek moyang sehingga memiliki nama- nama.

Batu- batu ini selama itu disimpan di dalam tempat khusus (lemari keramat) yang ditempatkan di pojok kanan rumah adat. Batu batuan ini kadang bisa bertambah dan berkurang, bisa hilang dan kemudian muncul kembali. Selanjutnya batu- batu ini direciki dengan darah ayam dari semua anak laki-laki suku dan kemudian diberi makan dengan nasi merah, hati dan jantung ayam yang dibakar (loma).

Setelah prosesi para fua furek ini selanjutnya ketua suku dapat menikmati jagung muda dengan acara yang dinamakan letok.

  1. Guti Smei

Guti Smei merupakan ritus pengambilan darah orang yang telah meningga secara tidak wajar, misalnya dibunuh, jatuh dari pohon atau tertabrak kendaraan. Menurut kepercayaan orang Warawatung mereka yang mati secara tidak wajar harus dibebaskan jiwanya dan yang terpenting dari itu anggota keluarga dan suku harus dibebaskan dari tuntutan darah.

Tradisi ini berangkat dari pengalaman bahwa orang yang mati secara tidak wajar jika tidak dilakukan ritus ambil darah maka pasti ada korban nyawa dari anggota keluarga atau suku.

Guti Smei ini dilakukan orang khusus atamolan yang diyakini sebagai tmulung (pemberi jalan keluar yang benar). Tmulung inilah yang akan memandu ritus pelaksanaan guti smei, mulai dari konsultasi di alam gaib dengan korban yang meninggal dan petunjuk dan persyaratan lain yang harus dibereskan agar prosesi guti smei tidak terhalang. Setelah syarat yang diamanatkan dijalankan oleh anggota keluarga, tmulung menetapkan jadwal pelaksanaan.

Singkat cerita bahwa ritus ini sukses dalam arti bermakna pembebasan bagi jiwa korban dan tuntutan darah korban jika pada malam itu tuak yang ditaruh pada pinggan/ mangkuk berubah menjadi merah seperti darah. Jika tidak maka prosesi ini gagal karena masih ada masalah yang belum diselesaikan sebagaimana arahan dari tmulung.

  1. Pili Ulej

Ritus ini merupakan tradisi untuk membersihkan hama tanaman dari kebun dan ladang petani. Yang unik dari tradisi ini bahwa ketika kebun- kebun petani dilanda hama ulat dan belalang, maka atas pembicaraan bersama penatua kampung dan tuan tanah dilakukan ritus pili ulej. Prosesi ini hanya dilakukan oleh wanita saja. Mereka akan masuk dari kebun ke kebun dan mengambil ulat dan belalang untuk dibawah ke kampung. Ulat maupun belalang yang diambil di kebun bukan semua, hanya satu atau dua ekor.

Setelah dibawah ke kampung para wanita yang membawa lalat dan belalang ini berkumpul di namang dan di sana mereka diberi makan oleh kaum lelaki yang sudah menunggu. Setelah itu, ulat dan belalang dikumpulkan dalan satu tempat anyaman (kdefak) selanjutnya ulat- ulat itu dibawa ke laut dalam sebuah perahu buatan dan dilepaskan ke lautan oleh orang khusus di kampung ini yang melakukan peran khusus ini.

Setelah ritus ini diberlakukan pantangan untuk tidak melakukan aktivitas baik di kebun maupun di laut selama tiga hari.

Dari pengalaman turun temurun bahwa setelah ritus ini dilakukan hama yang menyerang tanaman di kebun- kebun warga hilang dengan sendirinya. (Jessy/Humas Setda Lembata)

 

Komentar ANDA?