Antara Porter dan Suporter  (Menanggapi Kericuhan Suporter Perseftim)

0
851

Oleh: Robert Bala

Menanggapi aksi perusakan GOR 99 oleh suporter Perseftim, seorang netizen mengaitkan kelakuan supporter dan para porter di Pelabuhan Larantuka. Keterkaitan tentu bukan karena memiliki kesamaan kata (yang beda-beda tipis).
Tetapi hal itu mengingatkan akan akpemaksaan (terror) terhadap penumpang oleh para porter.

Apakah kesamaan ini kesamaan aksi kekerasan yang menyatukan keduanya. Porter di Larantuka terkenal dengan pemaksaan terhadap penumpang. Bila di Pelabuhan lain di NTT terkenal sangat wajar, tetapi itu tidak terjadi di Larantuka dan Waiwerang. Di sana beda hingga penumpang yang pernah mengalaminya akan merasa traumatis akan hal yang kelihatannya dibiarkan begitu saja.

Lalu apakah keduanya berkaitan erat? Tentu saja tidak. Terlalu dipaksa-paksakan untuk menghubungkan keduanya. Selain itu data itu terlalu sedikit untuk menarik kesimpulan bahwa kekerasan itu sudah menjadi ciri khas. Itu berlebihan dan tidak tepat.

Tetapi tidak berlebihan kalau aksi kekerasan kali ini menjadi pintu masuk untuk merefleksikan meluasnya kekerasan yang kali ini dilakukan oleh suporter Perseftim.

Pramuantar

Porter atau pramuantar (prambubarang) selalu identik dengan sebuah tugas mulia. Ia menjadi pengantar barang ke tempat yang diminta kepadanya. Kalau di kota besar ada ‘gosen’, maka tugas itu sangat identik.

Kalau sebagai pramupesan maka tugas itu menjadi lebih muliah lagi. Mereka seperti misionaris yang menyampaikan kabar gembira. Mereka menjadi ‘porter pesan suci’ kepada orang yang membutuhkannya.

Kalau dari sisi sepak bola, porter juga menjadi sangat identik. Orang spanyol menyebutnya ‘portero’. Orang Italia menyebutnya portiere. Orang Inggris dan Perancis menyebutnya ‘portier’ yang artinya penjaga gawang.

Mengapa nama penjaga gawang disebut portier atau portero? Mungkin karena tugasnya di garis paling akhir untuk menentukan apakah sebuah gol masuk atau tidak. Kalau ia lincah, maka bola itu bisa ditangkis dan bisa dilumat dengan manis.

Itulah maka ketika terjadi pinalti, orang bertahan akan mengharapkan sepenuhnya kepada si panjaga gawang. Orang Spanyol masih menyebut nama lain seperti ‘guarda meta’. Ia menjaga tujuan (meta) dari sebuah pertandingan. Dalam arti ini maka kita bisa sepakat bahwa memang ada keterkaitan antara porter (pelabuhan) dan porter (portero/portier/portiere) yang artinya penjaga gawang. Di sini memang terjadi upaya mencari hubungan yang terkeesan dipaksa-paksakan, tetapi minimal membuat kita sepakat bahwa ada sedikit keterkaitan.

Minimal ia mengingatkan bahwa para suporter yang hadir dalam sebuah pertandingan memiliki tugas sebagai ‘pembawa pesan’ dari daerah dia berasal. Di sini tentu kita masih bisa berdebat? Siapa yang mengutus mereka yang merusak? Mereka tidak pernah diutus. Mereka mengorganisir dirinya. Bahkan dari daerah di mana mereka berasal juga dibenci karena tindak-tanduknya meresahkan. Tetapi yang mau dikatakan, setiap tindakan tidak bisa tidak dikaitkan (kadang berlebihan) dengan asal, orang tua, dan siapapun yang ada di belakangnya.

Pesan Perdamaian

Kekerasan kini menyadarkan bahwa ia ditentang oleh siapapun. Para pencitan sepak bola yang ingin menyaksiakn pertandingan berkualitas akan sangat terganggu dengan aksi brutal yang dipertontokan. Ia tidak bisa dilakukan untuk membenarkan sesuatu apapun alasannya. Itu harga mati.

Pada sisi lain, aksi kekerasan yang terjadi pada ETMC ke-31 ini tidak bisa dibiarkan hanya karena membandingkan dengan para hologans Inggris, Ultra Sur (Real Madrid) dan Boixos Nois (anak-anak gila) dari Barcelona.

Atau kita tidak menganggap kerugian yang diakibatkan tidak seberapa karena ‘hanya pagar kayu saja le’. Kalau kita bersikap demikian maka ditakutkan, kita pun beranggapan bahwa porter pelabuhan juga sudah jadi ‘barang biasa’ dan tidak bisa dipermasalahkan.

Justru saat ini kita semua terajak bahwa kekerasan dalam model apapun mestinya tidak dibiarkan hadir di tanah Lamaholot. Mengapa? Ia bisa memberi kesan seakan kita kalah terhadap beberapa orang saja yang menjadi penebar teror.

Sebenarnya pembiaran ini bisa saja telah menjadi preseden buruk dan bisa saja telah menjadi contoh yang menginspirasi aksi kekerasan. Di Lembata, aksi pembunuhan bahkan dalam keluarga menjadi kasus yang terjadi. Malah ada yang masih misterius kematiannya. Pembunuhan yang terjadi beberapa saat lalu di Solor, seorang suami membunuh istrinya juga berita yang barusan terjadi. Dan di Adonara masih menyimpan trauma yang tidak pernah habis-habisnya. Artinya kekerasan itu menyata di tanah Lamaholot.

Karenanya, ETMC ke-31 yang bukan secara kebetulan terjadi di Lembata mestinya menjadi momen refleksi untuk menciptakan perdamaian. Itulah komitmen bersama yang mestinya terus dijaga. Dalam arti ini kita semua mengutuk aksi vandalisme untuk mengajarkan bahwa setiap aksi di lapangan (baik pemain maupun penonton) adalah ekspresi diri kita. Kita semua menjadi portier pesan perdamaian.

Tidak hanya itu. Permainan sepak bola yang identik dengan kaki mengingatkan bahwa tidak ada gunanya mengimpikan kemenangan (harus menang) kalau kita tidak merefleksikan peran kaki yang selalu berada di bawah dan membumi. Ia tidak melupakan jejak langkah yang dilalui karena tahu, tanpa berada melekat dengan bumi, seseorang akan lupa daratan dan bisa berakibat fatal.

Pesan itu sebenarnya sudah disampaikan Ronaldinho, pemain yang lahir dari ‘favela’ alias daerah kumuh di Brazil. Ia katakan: saya belajar tentang kehidupan dari sepak bola yang menggunakan kaki. Ia ajarkan, kesukesan akan diraih setiap orang yang tidak pernah lupa jejak yang pernah dilalui. Dalam arti ini, sepak bola mestinya akrab dengan misi yang membumi. Minimal mengajak agar semua (tidak saja pemain) mengambil bagian dalam misi ini. Pengalaman pahit para suporter Flotim dan porter di pelabuhan Larantuka mestinya sentilan agar kita semua mengambil peran sebagai ‘porter’ (pembawa) perdamaian.

========

Robert Bala. Penulis buku INSPIRASI HIDUP (Pengalaman Kecil Sarat Makna), Penerbit Kanisius Jogyakarta.

Komentar ANDA?