Atraksi Maut De Colores Gegerkan Ribuan Penonton di Ruteng

0
3179
Foto: Tubuh anggota De Colores yang digilas sepeda motor trail tidak mengalami sedikitpun cacat

NTTsatu.com – RUTENG – Atraksi maut kelompok  De Colores dalam rangka HUT sumpah pemuda di lapangan Motang Rua kota Ruteng ibu kota Kabupaten Manggarai gegerkan ribuan penonton. Atraksi  ini digelar setelah upacara bendera Hut Sumpah Pemuda, Sabtu,  28 Oktober 2017.

Dalam Atraksi mendebarkan itu. Anggota De Colores mempertunjukan kemampuan Inner Power atau tenaga dalam  ketika mereka diserang. Mereka diserang dari berbagai arah menggunakan kayu atau benda lainnya, namun mereka tidak  terluka.

Pertunjukan ini disaksikan Bupati Manggarai  Kamelus Deno, wakil bupati Viktor Madur, Kapolres Manggarai AKBP Marselis Sarimin dan beberapa pejabat lainya. Bahkan mereka  diberi, kesempatan secara bergilir berjalan diatas jembatan kursi dengan  alas dasar tubuh dari peserta De Colores.

Marianus, kordinator De Colores dalam komentarnya mengatakan, olah napas tenaga dalam De Colores merupakan salah satu cara dalam mempersiapkan sikap (disposisi) lahiriah dan batiniah untuk layak menerima anugerah surga dan dunia yang Tuhan telah sediakan bagi kita citra diri-Nya sendiri.

Seorang anggota De Colores dengan karunia-karunia Roh Kudus yang dimilikinya, disiapkan untuk menjadi alat Tuhan yang berdayaguna di tengah dunia.

Dia mengatakan Napas merupakan anugerah Tuhan yang paling mendasar. Setiap makhluk hidup memiliki napas yang menjadi awal dari sebuah kehidupan. Apabila mahkluk hidup tidak bernapas maka tentunya ia telah mati. Oleh karena itu, napas perlu diolah secara baik dan benar untuk lebih menjadikan kehidupan itu penuh makna.

Dijelaskan Marianus, menyadari akan eksistensi sebuah napas kehidupan, sekelompok manusia yang menamakan diri De Colores hadir untuk membuktikan dahsyatnya sebuah aliran seni pernapasan, yakni olah napas, olah iman, olah rasa, dan olah raga seni tenaga dalam De Colores.

De colores mengutamakan kekuatan napas yang diolah secara baik dan teratur. Seni pernapasan yang satu ini bukan saja mengandalkan fisik atau yang disebut dengan olahraga, namun juga menyeimbangkan dengan ketiga seni lainnya.

Pantauan NTTsatu.com traksi maut yang dilakukan De Colores  beberapa anggota De Colores wanita dengan doa dan lantunan lagu Maria  menghasilkan tenaga dalam yang bisa mengusir roh jahat ataupun penjahat yang hendak menyerang dan  tenaga extra bagi para anggota de colores.

Salah satu atraksi maut yang banyak mengundang perhatian penonton adalah  motor trail yang lari dengan kencang di atas tubuh para anggota De Colores Indonesia  membuat para penonton teriak histeris.

Atraksi yang membuat penonton  kagum tersebut  adalah  tidak ada satupun peserta yang digilas motor trail  mengalami cedera karena tenaga dalam yang mereka miliki ketika berhadapan dengan musuh.

Di akhir atraksi komunitas De Colores Indonesia memberikan kenangan berupa buku yang berjudul “Menyikap kemampuan Inner Power dan Buku Desain Jiwa”  kepada Bupati Manggarai dan beberapa pejabat lainya.

Foto: Kapolres Manggarai, AKBP Marselis Sarimin ketika diberi kesempatan untuk berjalan di atas jembatan kursi dengan alas dasar tubuh dari peserta De Colores.

Sejarah Decolores

Berdasarkan data yang dihimpun NTTsatu.com De colores merupakan sebuah seni pernapasan yang tumbuh dan lahir dari masyarakat akar rumput. Ia tumbuh di kala dunia mengalami begitu banyak kematian gratis. Manusia menjadi serigala bagi sesama, seperti yang dikatakan Thomas Hobbes, berlaku pula hingga saat ini.

Di dunia modernisasi manusia bisa mematahkan dan membunuh sesama dengan kekuatan-kekuatan gelap. Apakah ini kehendak Tuhan? Inilah hal metafisik yang tidak diterima logika namun hal ini ada di dunia. Banyak penyakit yang tidak dideteksi alat-alat medis seperti ronsen atau scan namun penyakit tetap bersarang di tubuh. Kekuatan gelap telah menutupi fungsi dan kerja dari alat medis.

De Colores berasal dari bahasa Spanyol yang memiliki arti warna-warni. Komunitas De Colores merupakan sebuah komunitas seni pernapasan yang bernaung di bawah Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (FOMI) NTT yang dibawa oleh seorang misionaris serikat sabda Allah, P Dominikus Kadju Dheo SVD.

Seni pernapasan yang bernafaskan iman Katolik ini terbuka kepada semua aliran agama lain mengingat semua umat manusia memiliki nafas yang sama yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.

De Colores sendiri lahir dari sebuah masa transisi dan konflik yang terjadi di Timor Leste pada 2001. Yaitu sebuah gerakan pertahanan iman untuk menumbuhkan iman di daerah konflik. Sejumlah pemuda pada saat itu dilatih untuk tetap setia pada gereja. Berkat kekuatan iman inilah lahir sebuah seni pernapasan, De Colores.

Kemudian aliran ini bergerak menuju Indonesia khususnya wilayah Nusa Tenggara Timur yang berdekatan dengan Timor Leste. Selain di NTT, aliran pernapasan ini telah hadir pula di pulau Jawa yakni Jakarta, Jogjakarta, Surabaya dan Malang.

Selain di Indonesia dan Timor Leste, para anggota De Colores yang umumnya para kaum muda pekerja dan mahasiswa hingga saat ini telah membuka cabang di beberapa Negara seperti Brazil, Amerika, Mexico, Spanyol, Inggris, Italia, Perancis, Fiji, Jepang, Korea Selatan, Filipina, Australia, dan Malaysia. (mus)

Komentar ANDA?