AWOLOLO, SITUS SEJARAH DAN BUDAYA LEMBATA

0
5567

Jadikan Cagar Budaya Yang Dilindungi dengan Perda

Oleh: Thomas  Ataladjar

 “Ao Ao kenali kawok oo. Utim mato likat tawa lekem megali kawok ooo ooo”. (” Hai anjing, makhluk hina. Sehari-hari hanya berbaring melingkari tungku dapur. Kemaluanmu kau letakan dekat alas tungku untuk  mengais abu  dapur “)

Demikian penggalan syair yang dilantunkan seekor anjing jantan yang ikut bertandak ria dalam perhelatan besar di Awololo, beberapa saat sebelum bencana air laut pasang dahsyat menerjang dan menenggelamkan Negeri Awololo.

Menurut kisah tutur, suatu saat dulu kala, di Awololo diadakan perhelatan besar. Pesta itu berlangsung siang dan malam hari selama berhari-hari. Seluruh penduduk Awololo terlibat dalam pesta meriah tersebut. Aneka tarian adat digelar seperti hamang, tandak, sole oha  dan tarian  tradisional lainnya ikut memeriahkan pesta rakyat ini.

Pada suatu malam pesta ini mencapai puncak kemeriahannya dengan menggelar  tarian hamang yang telah membentuk beberapa lingkaran. Syair dan pantun  muncul silih berganti dari peserta  tari hamang. Irama hentakan kaki-kaki penari serta bunyi gemerencing  giring-giring (kemorong) di kaki, kian bikin penari kian bersemangat. Semua orang  seperti “mabuk” pesta, seperti mau “cungkil matahari” beberapa kali.

Tiba-tiba entah dari mana datangnya, mucullah seekor anjing jantan  yang besar berlari kian kemari, seperti mabuk mengelilingi lingkaran tarian hamang bagian dalam tersebut. Tingkah anjing ini sungguh sangat mengganggu para penari, yang lagi asyik berpantun ria dalam  irama gerak tari hamang yang menghentak-hentak. Anjing itu  di tendang kian kemari agar bisa lari keluar dari dalam lingkaran tarian tersebut. Namun semakin kesakitan lantaran tendangan dan sepakan kaki penari, ulah anjing itu semakin menjadi-jadi. Seorang  dari penari tersebut lalu meludahi anjing tersebut sambil memakinya :” Kalau kau mau ikut menari bersama kami, siapkan dirimu dulu baru masuk ke mari “.

Pada suatu malam pesta ini mencapai puncak kemeriahannya dengan menggelar  tarian hamang yang telah membentuk beberapa lingkaran. Syair dan pantun  muncul silih berganti dari peserta  tari hamang. Irama hentakan kaki-kaki penari serta bunyi gemerencing  giring-giring (kemorong) di kaki, kian bikin penari kian bersemangat. Semua orang  seperti “mabuk” pesta, seperti mau “cungkil matahari” beberapa kali.

Mendengar dirinya dicaci maki, anjing itu serta merta ngeloyor keluar dari dalam lingkaran tarian tersebut. Ia berlari menuju sebuah rumah penduduk terdekat, masuk dan mengambil sebuah alas periuk (keneran) yang dianyam dari daun lontar, langsung dipakainya di kepalanya sebagai pengganti topi ( kenobo koli lolo). Dengan topi kolinya, anjing itu lalu kembali berlari masuk  ke tengah-tengah lingkaran tarian hamang yang kian meriah tersebut.

Sambil mengikuti gerak tari hamang, anjing itu tiba-tiba  ikut melantunkan syair sebagai berikut :“Ao ao kenali kawok o. Utim mato likat tawa lekem megali kawok oooooooooo Lau lau bera aka,   jae jae bera nau ”.  (Hai anjing, makhluk hina. Sehari-hari hanya berbaring melingkari tungku dapur. Kemaluanmu kau letakan dekat alas tungku untuk  mengais abu  dapur. Yang dari jauh segera datang bergabung “).

Seluruh peserta hamang sontak  hening sesaat mendengarkan syair yag keluar dari mulut seekor anjing, hewan yang tak berakal budi itu. Seluruh peserta mendadak takjub penuh ketakutan. Karena hal itu seharusnya tak boleh terjadi.  Awololo mendadak gempar dan panik. Dan pada saat bersamaan muncul deruh angin dan gelombang air pasang yang dahsyat melanda seluruh  Awololo. Awololo tenggelam  tersapu air laut. Banyak penduduk terkubur ke dasar laut. Sebagian  lagi mampu nenyelamatkan diri dengan sampan dengan secukupnya barang yang dibawanya. Mereka mengungsi berpencar ke berbagai tempat mencari tempat  tinggalnya  yang baru.

 

Sebagian Orang Atadei, Leluhurnya Pengungsi  Dari Awololo

 Setelah terjadi bencana tenggelamnya Awololo, sebahagian yang selamat bisa menggapai daratan, mulai mencari tempat hunian baru. Ada sebahagian dari pengungsi ini berlayar menggunakan  perahu mengarungi Laut Flores menuju ke arah timur laut. Mereka singgah sejenak di Wairian, di Kedang, namun tidak ingin menetap di sana. Mereka terus berlayar menuju  arah  tenggara  dan akhirnya   berlabuh di Tanjung Noni dan Poho, namun di sini juga mereka belum merasa aman. Mereka terus berlayar ke arah selatan menggunakan  dua  buah perahu bernama  ‘”Tena Tobilolo “  dan “ Wato Tena“.

Namun setibanya di sebuah tanjung, kedua perahu ini terhempas ombak dan hancur di batu karang. Kondisi tempat itu sungguh menyeramkan. Mau menuju  ke darat langsung berhadapan dengan tebing terjal yang tidak dapat didaki. Sedangkan balik ke arah laut, berhadapan langsung hempasan ganas gelombang  laut Sawu yang menakutkan, datang silih berganti. Di antara mereka yang terdampar di situ ada  yang bernama Ata dan Watolite. Sedangkan suku-suku yang ikut  dalam rombongan pengungsi ini antara lain suku Tukan, Nunang, Bungan, Kolin, Tapun, Telupun, Nadin, Puor, Hakeng (Sakeng),  Mudaj, Ladjar  dan Malun.

Di tanjung itu terdapat sebuah gua namanya “Wikliang”. Karena tidak ada jalan lain untuk meluputkan diri dari hempasan gelombang laut maka, orang dari Suku Tukan memberanikan diri  mencoba memasuki gua Wikliang, menelusuri  terowongan yang terdapat dalam gua tersebut. Mereka akhirnya berhasil mencapai pintu keluar dari terowongan gua, persis  di atas sebuah puncak bukit yang tinggi dan terjal yang bernama Watupogo. Karena keberhasilannya tersebut maka Suku Tukan kemudian menjadi tuan tanah daerah ini.

 

Tanjung Atadei Top of Form

Setelah orang Suku Tukan mencapai puncak bukit, maka akhirnya orang mulai berbondong-bondong masuk ke dalam gua tersebut melewati terowongan menuju puncak. Di dalam rombongan ini terdapat seorang ibu dari suku Bungan yang sedang hamil tua. Konon orang dari suku Bungan ini bau badannya harum dan lehernya berwarna merah. Saat ibu yang tengah hamil tua ini mencapai pintu terowongan di puncak bukit Watupogo, ternyata lubang keluarnya  terlalu sempit buatnya. Untuk keluar lubangnya sempit, sementara untuk  kembali tidak bisa karena padatnya orang dalam terowongan yang mengikutinya dari belakang. Karena udara panas  dalam gua yang sempit itu maka akhirnya  semua yang  berada di dalam gua menemui ajal karena lemas dan kehabisan udara.

Menurut kisah, yang masih berada di luar gua dan terowongan adalah Ata dan Watolite. Menyaksikan kecelakaan besar yang menimpah sebagian rombongan pengungsi Awololo ini, keduanya sangat bingung dan ketakutan, tak tahu mau buat apa. Keduanya hanya pasrahkan diri pada kemurahan alam. Karena tidak ada lagi yang dapat mereka makan akhirnya  keduanya mati kelaparan. Ata meninggal dalam keadaan berdiri. Kemudian keduanya berubah  menjadi batu. Batu yang tingginya mencapai 3 meter dan lebar badannya  satu meter lebih tegak berdiri 3 meter dari tebing. Ata Dei, Ata yang lagi berdiri. Di dekat batu Atadei ini tegak Watolite Dari batu ini maka muncul nama Tanjung  Atadei, bahkan Kecamatan Atadei yang dikenal hingga saat ini. Dan penghuni kawasan Tanjung Atadei ini juga disebut  sebagai Orang Atadei…….Orang yang selalu berdiri….tidak duduk, tidak tidur.

Demikian salah satu versi kisah terjadinya peristiwa tragis tenggelamnya Awololo dan Batu Atadei, yang disarikan dari tulisan Bapak Guru Bernardus Bala Ladjar berjudul  “Atadei Dalam Namanya”, yang ditulis di Kalikasa,  Februari 1994. Tulisan guru dan budayawan asal Atadei ini dibuat setelah mewawancarai 9 orang nara sumber  yakni  Aloy Baha Ladjar ( 71 tahun)  Frans  Gala Koban (71 tahun), Leo Boli Ladjar ( 61 tahun), Pelile Nunang (75 tahun), Nama Nunang (70 tahun), Pelea Koban ( 75 tahun), Pade Baun   ( 80 tahun), Blido Kriki (80 tahun) dan Yos Benolo Koban (60 tahun) saat itu.

Kisah Bencana Awololo pernah penulis  turunkan dalam bab 4 buku “ Lame Lusi Lako, Dari Tanah Nuba Nara Menuju Tanah Misi”, dengan judul :”Awololo, Negeri Makmur Ditelan Bencana” yang terbit tahun 2015.

Suku lain di Atadei yang menurut kisah tutur juga berasal dari Awololo antara lain Suku Amanuban dan  Suku Karangora.  Suku Ata Ujan  yang ada di Bakan, Kali kasa, Kolilerek serta Udak juga ada pendapat  bahwa  mereka berasal dari pelarian bencana Awololo; namun ada juga yang mengatakan Suku Ata Ujan berasal dari Seram Goran dan Lepan Batan.

Dalam buku “Orang Ataili, Rekonstruksi Jejak-Jejak Yang Tercecer” karya  Pastor Pasionis Patrisius Duan Witin ditulis  bahwa leluhur Orang Ataili adalah migran yang berasal dari Seran-Gorang Abo Muar menuju Lepan Batan dan Pulau Rusa. Saat terjadi bencana Lepan Batan, sebahagiaannya terdampar di Kmeru Wutun  seperti Suku Ataili ( Ilin), Uden Bnatulolo Suku Bakior (Bakin), Suku Ampolen (Polen) dan Suku Taumor  ( Taum) dan Lerek.

Gelombang migran kedua datang dari utara setelah peristiwa Awololong tenggelam. Hal ini diketahui dari syair dan lagu Abajole. Mereka yang lari dari Awololo itu antara lain  suku Witin, Buran, Ingan, Kepitan, Patin. Saat mereka tiba di Ataili, ternyata di sana sudah ada penduduk yang datang dari Lepan Batan.

Suku Tapoona di Lamalera punya kisah tutur  bahwa leluhurnya    Beda Vulo Vutun adalah pelarian dari Awololo. Ia kemudian kawin dengan Peni Belan Lolon dan tinggal di Lamamanu, kemudian turun ke Lamalera dan membentuk Suku Tapoona. (Napak Tilas Jejak Leluhur dan….…..berdirilah Ata Ile Lodo oleh Thomas Ataladjar, Suara Lembata Agustus 1999 hal.16-19).

Dari catatan di atas tampak jelas bahwa sebahagian suku yag menghuni kawasan Atadei dan sekitarnya, adalah pelarian  dari Awololo.

Mengapa terjadi bencana Awololo? Menurut kisah, karena di Awololo yang sebelumnya makmur, tenang dan damai, perlahan orang mulai  lupa akan norma adat dan nubanara yang diwariskan nenek  moyangnya. Banyak aturan adat  telah dilanggar. Petuah nenek moyang tak lagi diindahkan. Mereka  tak lagi mempedulikan resiko besar yang harus ditanggung bila melanggar aturan adat  nenek moyang yang berlaku dan tidak lagi menghormati orang tua dan leluhurnya.

Semula  mereka  menyembah Lera Wulan Tana Ekan sebagai “tuhan”nya, dengan rajin memberikan sesajian serta mengadakan upacara khusus kepada Nubanara untuk menghormatinya. Antara lain dengan memotong hewan  seperti babi , kambing atau ayam. Darah hewan tersebut  direciki pada Nuba Nara sementara bagian paling utama dari  daging hewan  itu yakni bagian hati dan jantung dipersembahkan kepada Nuba Nara bersama tuak dan sirih pinang. Menurut keyakinan mereka, bila mereka lupa akan Nubanara, maka ia akan marah dan mereka akan beroleh bencana, malapetaka, serta terjangkit berbagai jenis penyakit bahkan kematian.

Kepercayaan kepada “agama asli” leluhur ini, kini masih dapat kita saksikan  bahkan tetap lakukan lewat aneka ritual adat dan budaya, yang sekaligus menjadi kearifan lokal di Tanah Lembata umumnya dan Atadei khususnya.

 

Awololo, Kerajaan dan Negeri Gema Ripah Loh Jinawi.

Berdasarkan cerita tutu marin, penduduk Lembata sebahagian besar berasal dari dua pulau yakni Lepan dan Batan atau Keroko Puken  yang terletak di sebelah ujung timur Kedang. Suatu saat terjadi bencana air pasang besar yang menenggelamkan kedua pulau tersebut. Sebahagian besar tak berhasil menyelamatkan diri, sebahagian lain mengungsi ke pulau-pulau terdekat termasuk sebahagian terdampar di Awololo.

Menurut kisah, Awololo merupakan sebuah negeri yang besar, makmur dan berpenduduk banyak. Bahkan  menurut Antropolog Sosial DR.Chris Boro Tokan,SH,MH Awololon ini dulu merupakan sebuah kerajaan. Dalam artikel Kompas.com Senin 9 Januari 2012 berjudul  “ Mencontoh Tradisi Kerukunan Beragama Orang Lamaholot”, tulisan  Laurensius Molan,  Chris Boro Tokan antara ain menyatakan bahwa   di pulau Adonara pernah berdiri kerajaan Molo Ging, kerajaan Wotan Ulu Mado, kerajaan Libu Kilha, kerajaan Lamahala, Terong dan  kerajaan Lian Lolon yang merupakan cikal bakal Adonara.

Selain itu menurut Dosen Luarbiasa di bidang hukum dan Perubahan Sosial Fakultas Pasca Sarjana Bidang Ilmu Hukum Universitas Nusa Cendana Kupang ini, ada Kerajaan Awololon di Pulau Pasir dekat Lewoleba, serta kerajaan Lamakera dan Lohayong di Solor.

Sambil menantikan penelitian lebih lanjut tentang adanya kerajaan di lokasi yang kini bernama Awololo oleh para  pakar, satu hal yang pasti adalah bahwa Awlolo ini dulu merupakan sebuah negeri besar, bukan sekedar sebuah kampung.

Buktinya, dari berbagai kisah “Kar Pana” atau pengungsian yang terjadi setelah peristiwa bencana melanda Awololo tersebut, tercatat begitu banyak suku yang menurut kisah tutur sukunya, mereka pengungsi dari Awololo, termasuk sejumlah besar suku di Atadei dan tempat lain.

Pulau kecil Awololo ini memang sangat dikenal melalui legenda sebagai tempat kediaman sebagian suku yang kemudian  menjadi penduduk Lembata.  Kisahnya boleh jadi memiliki versi yang cenderung berbeda satu sama lain. Namun di balik kisah itu terdapat kemiripan dan persamaan. Ada negeri namanya Awololo. Ada pesta dan perhelatan besar yang diramaikan dengan tandak dan hamang. Ada sosok anjing. Dan ada bencana air laut pasang dahsyat yang menenggelamkan Awololo dan ada kisah  pengungsian massal yang membawa serta budaya leluhurnya dari Awololo. Dan satu hal yang juga patut dicatat adalah bahwa  bencana yang menewaskan banyak jiwa ini, menjadikan Awololo sebagai sebuah pekuburan massal leluhur.

 

Negeri  Leluhur yang Indah

Bila hendak landing di bandara Wunopito, penumpang bisa menikmati dengan mata telanjang betapa indahnya Awololo dari Susi Air atau Trans Nusa. Awololo   terletak sekitar 1,5 km di depan pantai Lewoleba Ibu Kota Kabupaten Lembata. Awololo dapat dicapai dengan perahu  bermotor sekitar 10 menit atau kurang lebih 25 menit dengan sampan dari pantai Lewoleba  (Kampung Bajo – Rayuan Kelapa).

Awololo merupakan sebuah pulau kecil yang indah dan berpasir putih, merupakan beting penghalang yang sebahagian besar masih berada di bawah permukaan laut. Awololo berupa  gundukan pasir putih sepanjang kurang lebih 600 meter dengan garis tengah sekitar 25 meter, dan populer juga dengan nama  Pulau Siput.

Awololo berada pada ketinggian 50 cm di atas permukaan laut dan dihuni oleh ribuan kemang dan siput. Perairan dangkal di sekitarnya merupakan paparan koloni terumbu karang dan berbagai  jenis ikan aneka warna. Awololo memiliki dua keunikan khas . Pertama  bahwa  pulau ini hanya muncul sempurna pada saat terjadi surut. Kedua Awololo dihuni oleh ribuan bahkan jutaan siput menjadikannya sebagai  sumber penghasil siput yang tidak pernah  ada habis walaupun terus diambil entah dari mana datangnya. Pengunjung dapat memperoleh siput / kerang dengan cara  cukup mengorek atau menggali pasir sedalam 5 cm sampai 10 cm. Lewat kegiatan mencari siput ke Awololo ini, muncullah “budaya berkarang” yang berangsung hingga sekarang, sebagai salah satu mata pencaharian warga, “hadiah” leluhurnya.

 

Jadikan Awololo Cagar  Budaya Yang Perlu dilindungi

Berdasarkan semua catatan di atas, dapat disimpulkan bahwa Awololo sesungguhnya adalah sebuah situs Sejarah dan Budaya. Ia merupakan tempat banyak suku di Lembata berasal. Awololo bukan sekedar sebuah mitos, legenda apalagi  cerita khayalan. Kisah Awololo adalah kisah sejarah yang diturunkan dari generasi ke generasi lewat cerita tutur. Ia sudah masuk ranah sejarah, karena mengisahkan fakta-fakta sejarah. Tena Lagadoni saja sebagai alat angkut pengungsi dari Awololo ke Atadei, bahkan selalu dipentaskan dalam tarian baik saat menghantar tamu penting baik awam maupun klerus. Berbagai aneka ritus adat dan budaya  yang dibawa pengungsi dari Awololo dan dijalankan secara turun temurun hingga sekarang, membuktikan fakta sejarah itu sendiri.

Awololo sudah dapat dikategorikan sebagai cagar budaya. Cagar budaya adalah daerah yang kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya dilindungi UU dari bahaya kepunahan. Menurut UU No11 Tahun 2010 ,cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar budaya, Struktur Cagar Budaya,Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat di darat dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya, karena memiliki nilai penting bagi sejarah, lmu pengetahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan,melalui proses penetapan.

Dan bila kita sepakat bahwa Awololo itu bekas kerajaan leluhur kita. Bekas asal usul nenek moyang kita. Pernah dihuni masyarakatnya yang memiliki kebudayaan yang tinggi  dengan berlimpah kearifan lokal yang ada di dalamnya yang diwariskan hingga saat ini, pantas kalau Awololo patut dilindung dan dilestarikan. Bukan Dari situs sejarah dan budaya diubah menjadi destinasi wisata kuliner atau hiburan, misalnya. Karena kehilangan Awololo, akan merupakan kehilangan sebagian sisi sejarah dan budaya Lembata penting  yang kita miliki.

Sementara untuk melindunginya dari kepunahan atau sejenisnya, tidak perlu proses yang ribet dan sulit–sulit amat. Cukup buatkan Perda khusus yang menetapkan bahwa Awololo merupakan kawasan cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Dengan demikian Awololo cukup dijadikan destinasi wisata sejarah dan budaya tempat orang melakukan penelitian lebih jauh dan lebih mendalam tentang Tanah Lembata, yang penuh dengan harta karun budaya dan sejarahnya.Semoga.

 

*) Penulis,  Anak Kampung Waiwejak,tinggal di Bogor)

Komentar ANDA?