BAHASA DAN KEHIDUPAN SOSIAL.

0
229

Oleh: Dra. Christina Purwanti, M.Pd. 

Kehidupan sosial dan bahasa dapat dikatakan selalu bersifat inheren dalam artian satu berada di dalam yang lainnya. Bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sosial, dan sebuah kehidupan sosial pun dapat berjalan kalau adanya sebuah komunikasi yang berlangsung lewat bahasa. Sebuah pertanyaan dasar yang perlu dijawab adalah: Apa yang mendasari secara umum agar sebuah kehidupan sosial menjadi berkualitas?

Jawaban atas pertanyaan di atas selalu mengarah pada konten bangunan sebuah komunikasi dalam kehidupan sosial yakni, di satu pihak bagaimana menggunakan bahasa dengan perinsip yang sesuai dengan konten bahasa dan sesuai dengan konteks sosial ketika bahasa itu digunakan. Ataukah dengan kata lain, bangunan sebuah kehidupan sosial yang berkualitas, selalu saja didasarkan pada bahasa, dan ragam bahasa pun tentu berbeda sesui teks dan konteksnya dalam kondisi sosial yang mengitari seseorang. Hal ini terjadi dan berjalan secara alamiah dan menjadi gaya dan pola kesepakatan dalam realitas sosial.

Kita coba sedikit menengok sejarah sebagai kompas historis kehidupan sosial dalam konteks Negara Kesatun Republik Indonesia ( maaf penulis bukan ahli dalam bidang politik). Bahwa dalam konteks ini, Indonesia memiliki pergumulan identitas bangsa atas rujukan formal yakni peristiwa Sumpah Pemuda yang terjadi pada tanggal, 28 Oktober 1928. Ketika itu para pemuda-pemudi mendeklarasikan diri sebagai bangsa, jauh sebelum Indonesia menjadi negara ( saya meminjam istilah politiknya “nation state”), persatuan yang dikumandangkan itu, jauh sebelumnya. Jadi dalam hal ini, sudah ada perdebatan tentang bahasa apa, yang paling pas digunakan pada saat itu. Hasil kesepakatan para pemuda dan juga menjadi salah satu Ikrar Sumpah Pemuda adalah: “Kami Putra dan Putri Indonesia mengakui berbahasa satu, bahasa Indonesia. Sebagai afirmasi untuk pernyataan ini, Bapak Jokowi pun dalam salah satu pidato kenegaraan menetapkan bahwa bulan Oktober sebagai bulan bahasa.

Bahasa dan Realitas Sosial.

Indonesia dalam realitas sosialnya selalu menggunakan bahasa sebagai kompas arah untuk memeriksa raalitas sosial yang sedang berjalan sekarang ini. Eksistensi bahasa dalam hal ini bukanlah dimaknai sebagai sekedar alat komunikasi, melainkan mencetuskan sebuah kebudayaan bahkan struktur tatanan kebersamaan.

Ketika bahasa dalam kehidupan sosial sarat dengan terminologi ancaman dan juga penuh dengan segala teror, maka kultur relasi sehari-hari terasa sangat menegangkan karena bahasa yang dipraktikan dalam komunikasi penuh dengan segala kepalsuan yang terus mendominasi. Sebagai contoh bahasa hukum yang ada di Indonesia yang penuh dengan distorsi dan terdapat proses reduksi dalam bentuk bahasa. Dengan demikian terjadilah apa yang dinamakan distorsi bahasa.

Sebagai salah satu contoh tentang bahasa hukum Indonesia, sebetulnya takluk pada kaidah bahasa Indonesia. Segala aturan yang ada selalu disusun berdasarkan aturan bahasa Indonesia yang standar yang terlihat dalam penggunaan kata, kalimat, ejaan atau pun istilah dan juga bagaimana penulisan kata dan pembentukan kalimat. Bahasa hukum telah mengalami perkembangan yang hebat dan memiliki karakter khusus. Bahasa hukum harus dirumuskan secara cermat dalam sebuah konsep yang dapat dipahami secara tunggal yang khas hukum; sehingga penafsiran untuk mendapatkan kebenaran dalam hukum adalah melalui bahasa hukum itu sendiri.

Bahasa dan kehidupan sosial adalah dua varian yang selalu bersama dan tetap saling melengkapi dalam memandang setiap problem kehidupan.
Terima kasih.

=========

*) Penulis: Dosen Bahasa Indonesia, Universitas Pelita Harapan Jakarta

Komentar ANDA?