“Bal-Bal-Bal Baleo”, Waka-Wakanya Lembata.. (Wawancara dengan Maksimus Genapan Tukan, Komponis lagu Baleo)

0
3246

Oleh: Wilhelmus Leuweheq

Perhelatan ETMC 2022 di Kabupaten Lembata sedang di klimaks pertandingan. 3 hari lagi akan berakhir . Sejarah telah tercatat dengan tinta keringat dan air mata di tanah ini. Ada monumen yang tetap kokoh berdiri dan menjadi saksi seperti GOR 99. Ada trophy ETMC yang akan digenggam sang juara dan diperebutkan lagi musim berikutnya. Ada berjuta kenangan yang ada di hati dan ingatan serta yang terus menempel pada dinding-dinding media sosial.

Kalau kita jujur maka di antara banyak hal yang terkesan, lagu “Baleo” menjadi begitu populer. Mendengar lagu itu, gelora pemburu ikan raksaa itu diekspresikan oleh penontong yang segera dialirkan ke para pemain untuk terus maju. Karena lagu itu begitu isnpiratif, maka sebelum ETMC ini berakhir, pagi ini (Senin 26/9) saya (Wilem Leuweheq) mengadakan percakapan lepas dengan si komponis: Maksimus Genapan Tukan.

Saya mengawali pembicaraan ‘ngalor-ngidul’ dengan menanyakan lagu Baleo yang dinyanyikan saat pembukaan ETMC. Selanjutnya setelahnya, lagu itu begitu menjadi ciri khas yang dinyanyikan pendukung Persebata.

Terhadap pertanyaan ini, Maksi merendah mengatakan bahwa saat melihat banyak orang posting di medsos, ia berencana untuk memberikan komentar. Tetapi Maksi yang pegawai di Dinas Pertanian Lembata itu berpikir akan lebih baik komentarnya akan diberikan setelah ajang ETMC berakhir.

Bagi Maksi yang merupakan adik kandung Grady Tukan (komponis lagu Lembata Helero) itu mengatakan saat awal membuat lagu itu ia rasa biasa saja. Namun setelah babak demi babak pertandingan hingga Persebata mencapai final, dinamika pertandingan, eforia kemenangan, insiden kekerasan, lambaian tangan Tim yang pulang awal membawa kesan indah tentang kebaikan Lembata. Saya mulai merasa bahwa ternyata beberapa harapan yang muncul pada awal membuat lagu ini sedang menjadi kenyataan

Lalu bagaimana awalnya sehingga pegawai yang lebih suka berada di kebun pembibitan itu membuat lagu itu? Terhadap pertanyaan ini Maksi menjawab dengan sangat jelas: “Almarhum Bapa Bupati Yentji Sunur meminta membuat lagu untuk ETMC di Lembata. Ini adalah gagasan dari Almarhum sehingga menjadi yang pertama dalam sejarah pagelaran ETMC, di mana Tuan Rumah memiliki Theme Song ETMC.”

Lebih lanjut, Maksi berucap, tanpa gagasan dari almarhum, tidak ada lagu Baleo yang bergema saat ini. Saya dihubungi pegawai dari Dinas Pemuda dan Olahraga. Tidak salah pa Didi dan Pa Astin. Berdasarkan informasi ini saya lalu membuat sebuah lagu. Namun lagu pertama ini kemudian tidak digunakan.

Permintaan ini segera ditindaklanjuti Maksi. Tetapi lagu pertama itu rupanya belum begitu kuat nuansanya. Karena itu, saat. Jalan Salib di Bukit Doa pada April 2021, Kadis Porabud, bupati Lembata pak Eliaser Yentji Sunur yang didampingi oleh Kadis Porabud, Pak Markus Waleng memanggil. Hanya ada kalimat singkat dair pak Yentji agar “buat lagu yang begitu orang dengar langsung semangat. Seperti Waka Waka saat piala Dunia Tahun 2010. Lagu yang gampang dinyanyikan dan Jangan banyak kata supaya mudah diulang tetapi padat isinya”.

Lalu Beliau bertanya apa ungkapan atau seruan orang Lembata yang maknanya memberi semangat. Saya mengatakan bahwa yang saya pikirkan adalah seruan Baleo. Beliau setujuh. Maka konsep lagu pertama saya tinggalkan dan membuat lagu baru seperti yang sekarang kita nyanyikan.

Bal dan Baleo

Pembicaraan dengan Maksi kelihatan makin mendalam terutama ketika saya mencoba mengorek lebih jauh tentang arti Baleo.

Maksi merasa sangat terinspirasi dengan seruan orang Lamalera ketika melihat ada ikan Paus yang lewat di perairan mereka. Seruan dimulai oleh orang pertama yang melihat dan dilanjutkan oleh orang lain yang mendengarnya.

Seruan ini juga sekaligus menjadi ajakan bagi para Lamafa untuk memulai perburuhannya. Lebih dari sekedar ajakan, seruan ini membangkitkan semangat yang menggebu karena ikan Paus yang lewat adalah rejeki, nafkah, berkat dan kehidupan mereka. Karena itulah perburuhan diawali dengan ritual adat dan agama.

Tetapi mengapa ada seruan ‘bal-bal-bal’ dalam baleo, demikian tanya saya. Maksi lalu membuka satu rahasia yang sangat menakjubkan. “Bal Bal Bal Bal ..Baleo. Kata Bal Bal Bal di tengah ini apakah hanya merupakan penggalan dari Baleo atau memiliki referensi lain Bal ini rujukannya ke bola. Karena konteksnya adalah ETMC yang adalah pertandingan Sepak Bola.

Kata ‘bal-bal’ adalah nama yang sangat populer untuk bola. Anak-anak di Lembata menyebut “bal” untuk bola. Sebutan itu begitu memasyarakat dan sangat dekat dengan anak-anak Lembata.

Terhadap arti yang begitu kuat, saya lalu sadar bahwa Baleo dalam lagu ini boleh berarti pertama tama seruan bahwa kita sedang bertanding sepak bola dalam rangka ETMC. Itulah seruan ‘bal’.

Selanjutnya Seruan ini menjadi ajakan bagi para Lamafa (pemain) untuk meladeni laga demi laga. Seruan ini membangkitkan semangat dan daya juang yang tinggi dengan memaksimalkan strategi, skill dan stamina fisik maupun mental.

Seruan ini mengobarkan tekad kemenangan karena pada bola ada masa depan para Lamafa muda, pada bola ada eforia kegembiraan dan kebahagiaan. Pada bola ada juga kepahitan, duka dan air mata. Pada Bola ada Harga Diri yang harus dipertahankan. Prinsip Fair Play pada bola pun sesungguhnya sudah terakomodir dalam rutual adat dan agama mengawali perburuhan.

Terhadap interpretasi ini, Maksi hanya membalas dari ujung telepon: “Iya, seperti itulah bayangan saya saat menulis lagu dan syair BALEO.”Terima kasih Om Maksi Tukan untuk sharing ini.

Penulis: Wilhelmus Leuweheq, warga Lembata

Komentar ANDA?