BANALITAS POLITIK DAN BOLA: Sebuah Catatan.

0
956

Oleh: Thomas Tokan Pureklolon

Dalam arena perpolitikan bisa dilihat secara terang-benderang mana yang masuk dalam political science dan mana yang termasuk dalam political action. Kedua arena ini dalam praktiknya pada segenap fakta sosial bisa terjadi secara hitam-putih, bisa terjadi secara mix dalam artian berada dalam satu wadah prakvtik perpolitikan antara science dan action. Namun tidak jarang juga ada yang memandangnya, bahwa dalam praktik politik selalu saja terlihat abu-abu atau samar-samar tentang kedua bidang tersebut.

Sebuah jawaban normatif yang selalu menjadi perhatian bersama dalam fakta sosial adalah dunia politik selalu berada pada rana abu-abu dalam praktiknya karena terlalu memperhitungkan banyak kebutuhan ( needs ) dan banyak kepentingan ( wants ). Atas jawaban yang normatif seperti itu, saya punya jawaban bahwa tidak semua orang berpikir bahwa antara needs dan wants selalu saja ada ruang yang dinamakan kelangkaan ( scarcity). Ruang kelangkaan ini disusupi masuk secara tak diprediksi sebelumnya yakni sesuatu yang terjadi di luar semua regulasi yang ditetapkan seperti konstitusi, hukum, Inilah yang dinamakan banalitas ( baca: banalitas politik) atau kejahatan politik.

Banalitas politik ini terjadi di luar perhitungan sebelumnya dan terus terjadi dalam setiap segmen kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat pada lapisan bawah ( stratum-lower class ), (meminjam istilahnya, Ibu Dr. Naniek Setijadi, Dekan FISIP UPH ). Banalitas politik ini terus menyeruap dengan polanya yang khas dalam fakta sosial karena dibungkus dengan kebutuhan dan keinginan yang terlihat serasi yakni adanya keserasian antara yang normatif kebutuhan dasar yang punya prospek masa depan, dan keinginan sesaat yang harus terpenuhi saat ini juga secara absolut ( hic et nuch ). Hal ini hampir terus terjadi dan hampir tak bisa dielakan.

Perilaku banal, yang bisa dianalis selanjudnya adalah bahwa banalitas pilitik dapat terjadi seperti itu karena hadirnya manusia sebagai korban konstruksi pikirannya sendiri ( meminjam istilahnya, Prof Budi Hardiman, Prof Filsafat FISIP, UPH ). Setiap manusia adalah otonom dan autentik terhadap apa yang ada dalan pikiranya yang mampu dia perkatakan ( bahasa kata-kata ) dan apa yang ada dalam perilakunya yang mampu dia peragakan ( bahasa perbuatan ). Bahasa kata-kata dan bahasa perbuatan itulah selalu hadir dalam setiap penilaian yang bisa menjadi acuan utama dalam setiap perilaku manusia.

Sebagai afirmasi bahwa “betul,” terdapat “banyak orang sakit dan anom” dalam menghadapi berbagai fakta sosial yang terjadi dalam di lapangan dan tidak terampilnya berbagai upaya dalam penyikapannya, karena berbagai alasan seperti kekurangan pengetahuan tentang Undang-Undang, Hukum dan Etika yang berasal dari berbagai strata kehidupan dalam masyarakat yang nota benenya adalah dominasi kelas bawah.
Afirmasi ini akan kita dapat jawabannya secara oke, ketika kita memperoleh data secara benar tentang peristiwa banalitas bolamaniak, yang tengah terjadi pada hari kemarin.

Mungkin sebagai awasan awalnya adalah perkuat dan perketatnya regulasi serta terus meningkatnya etika kehidupan bersama ( baca: etika politik ). Hal lainnya adalah RIP  bagi yang pergi menghadap sang pencipta atas tindakan banal pada fakta sosial ini.

Hal lain yang perlu jadi refleksi selanjudnya adalah: Manusia sebagai korban konstruksi pikirannya sendiri dengan memperebutkan bola ( benda bulat itu ) cuma benda menggelinding.

Sebagai penutup catatan ini, sebuah pertanyaan epistemologis dengan memperhatikan nilai kegunaannya, yang diajukan oleh Ibu Dr. Hetty, Dosen Senior HI, FISIP UPH:
Harus Stop dan Stop dengan konsekuensinya adalah: “Untuk apa bermain bola, menghasilkan kematian.”
Kita pun boleh menjawabnya secara epistemologis juga…✍✍

========

Penulis: Dr. Thomas Tokan Pureklolon: Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Pelita Harapan.

Komentar ANDA?