Barangsiapa yang Tidak Berdosa, Lempari Perempuan itu

0
803

Oleh: Romo Ambros Ladjar, Pr

Minggu V Prapaska, 03 April 2022*.
Bac. Yesaya 43: 16-21 dan Filipi 3: 8 – 14 dan bacaan Injil Yoh 8: 1-11.

Ada kecendrungan kuat di masyarakat untuk menilai dan mengelompokan orang sesuai kemauan. Akibatnya banyak yang disudutkan dan dijadikan kelompok marginal. Sampai sekarang ini stigmatisasi orang yang terlibat G30S/ PKI masih terus ditiupkan. Akibatnya anak cucu mereka kena imbasnya. Mereka dipersulit di semua tempat untuk mencari kerja. Padahal banyak yang tahu bahwa situasi pada waktu itu sarat rekayasa. Inilah sikap tak adil, kejam dan tak manusiawi.

Di masa hidup Yesus, orang Yahudi khusus dari kalangan para imam dan kaum Farisi pun memiliki kecendrungan yang sama. Merekalah sekelompok orang yang hidup terpisah dari masyarakat lain sehingga mudah menilai orang. Karena rasa diri sebagai kaum elite maka mereka tak boleh berbaur dengan kelompok pendosa yang dianggap najis dan kotor. Bersamaan dengan itu sakit, penyakit, bencana dan kemelaratan juga dilihat sebagai akibat dosa. Sebab itu wajar mereka mendapatkan siksaan dari Tuhan. Seturut pandangan ini, dosa seperti virus covid maka ketika bergaul dengan pendosa, sudah pasti mereka akan ikut terjangkit maka tak boleh bergaul dengan mereka: Para pemungut cukai, pezinah dan penderita sakit.

Karena mereka ini dijauhi dan disingkirkan maka mereka menjadi kelompok marginal di kalangan Yahudi. Ketika Yesus datang dan bergaul dengan mereka rasanya sikap Yesus menggugat adat kebiasaan dan tradisi Yahudi itu. Karena IA bergaul dengan semua orang termasuk pendosa. Makan bersama pemungut cukai kolaborator penjajah Romawi. Tindakan Yesus ini justru mendobrak semua pengelompokan dalam tradisi Yahudi. Kelihatan Yesus sangat provokatif karena orang terpandang di kalangan Yahudi dikatai-Nya: Munafik. Yesus menjungkir balikan tradisi yang sudah mapan dan berakar.

Di dalam narasi ini kita dapat memahami semangat injil Yohanes. Ketika Yesus dihadapkan dengan kasus perempuan yang *kedapatan membuka praktek perzinahan*, target mereka dia harus dirajam. Mereka gunakan aturan Musa untuk menguji nyali Yesus. Apakah kasus seperti ini pelakunya harus dirajam atau bagaimana? Sikap Yesus pura-pura tak tahu soal. Tanpa diduga Yesus katakan: *Jikalau kalian rasa diri suci, tak ada dosa, silakan lemparkan batu kepada perempuan itu*. Semua orang yang tadinya ngotot mundur dan malu karena mereka juga sama-sama orang berdosa.

Ketika semua orang pergi, Yesus katakan kepada perempuan itu: Sayapun tak hukum anda. Pulang dan jangan ulangi dosa yang sama lagi. Yesus tak menilai orang berdasarkan salahnya. Juga IA tak persalahkan orang berdosa itu tapi IA mengajaknya agar berlaku baik di masyarakat. Pengampunan dan pemaafan sejati berarti menerima pribadi orang lain dan langkah salah yang telah dilakukan. Tuhan sesungguhnya menjadi motivator masa depan bagi siapapa pun termasuk para pendosa. Ia meretas dan mendobrak semua tembok pemisah sambil merangkul kita semua yang menjauhkan diri dari DIA.

Kita dapat menemukan jati diri yang sejati ketika kita mampu membongkar tembok-tembok pemisah yang mengurung diri. Dengan demikian kita bersatu dengan Tuhan dan sesama. Olehnya kita diajak Yesus dalam injil tadi agar membuka hati kepada siapapun. Baik yang jahat maupun yang baik hidupnya sebagaimana Allah sendiri membuka hati dan merangkul semua orang yang tercerai berai. Tuhan nengajak kita melepaskan segala kecendrungan pengelompokan, sekterianisme serta sikap diskriminatif yang tak sesuai dengan Roh dan karya-Nya.

Ketiga bacaan hari ini mengajak kita berpijak pada masa lalu guna membangun masa depan yang lebih baik. Sekiranya masa lalu kita penuh kegemilangan, maka kita tingkatkan prestasi guna membangun masa depan. Sukses masa lalu jangan terlalu juga didewakan karena semua itu ibarat roda berputar. Kita akan mudah jatuh dalam kesombongan jika meremehkan orang lain. Sebaliknya jika masa lalu kita buram atau gelap, perbaikilah sekarang guna menyongsong masa depan. Jangan terpukau juga dengan pengalaman kejatuhan di masa lalu. Sebab kita akan jadi orang yang pessimistis sehingga sulit bangun dan melangkah maju lagi.

Salam sehat di Hari Minggu V Puasa buat semuanya. *Tetap taat menjalankan Prokes*. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga kita masing-masing dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita yang melingkupi hidupmu… Amin ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐ŸŒนโœ๏ธ๐ŸŒน๐ŸŽ๐Ÿ›๏ธ๐Ÿ‡๐ŸŒฝ๐Ÿ”ฅ๐Ÿค๐Ÿค๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Pastor Paroki Katedral Kupangย 

Komentar ANDA?