Berburu Ikan Layang dan Hiu, Nelayan Matim Melaut Hingga ke Laut Sawu

0
816
Ikan Hiu yang diburu nelayan

BORONG. NTTSatu.com – Jika Kabupaten Manggarai Barat terkenal sebagai salah satu daerah penghasil utama ‘ikan carah’ maka wilayah Kabupaten Manggarai Timur dikenal sebagai wilayah penghasil  ‘ikan layang’ dan ikan hiu.

Pada musim seperti sekarang ini yakni berkisar antara bulan Mei hingga September mendatang, kota Borong sering ‘dibanjiri’ ikan layang, demikian masyarakat setempat menyebut ikan yang panjangnya dapat mencapai 2 – 3 meter.

Selain ikan layang, wilayah perairan Manggarai Timur juga merupakan wilayah yang terkenal sebagai penghasil ikan hiu. Meskipun ikan hiu merupakan salah satu jenis ikan yang dilindungi namun bagi nelayan setempat, ikan hiu merupakan jenis ikan yang sangat diburu para nelayan lantaran harga sirip ikan hiu bisa mencapai ratusan ribu rupiah per kilogramnya.

Muhamad dan Usman, dua nelayan tradisional asal kampung Ende, Kelurahan Kota Ndora Kabupaten Manggarai Timur yang ditemui  NTTSatu.com  di dermaga Borong belum lama ini, mengatakan, jenis ikan layang dan hiu biasanya banyak ditangkap nelayan antara bulan  Mei  sampai September. Dan bulan Juli merupakan puncak penangkapan ikan layang dan hiu di wilayah ini.

Mereka mengaku untuk mendapatkan dua jenis ikan ini, para nelayan harus menempuh perjalanan jauh hingga memasuki perairan laut Sawu.

“Kami banyak menemukan ikan Layang dan Hiu di perairan laut Sawu. Kedua jenis ikan itu banyak muncul pada bulan-bulan seperti sekarang ini yakni bulan Mei  sampai September. Kalau pada bulan-bulan llainnya, ikan jenis layang dan hiu  sulit didapat,” ujar Muhamad.

Kedua nelayan tradisional ini mengaku, sarana dan prasarana yang mereka gunakan untuk menangkap kedua jenis ikan ini cukup sederhana. Mereka menggunakan motor laut dilengkapi pukat cincin. Namun kedua nelayan mengaku sering sulit menemukan dan menangkap ikan-ikan diperairan itu. Mereka menduga berkurangnya hasil tangkapan karena sejumlah oknum nelayan yang datang dari luar wilayah sering menggunakan bahan-bahan peledak  atau bom untuk menangkap ikan di wilayah itu.

Kini, sebut mereka, di sekitar perairan laut selatan Borong dan sekitarnya para nelayan semakin sulit mendapatkan ikan dan hasil tangkapan mereka mengalami penurunan drastis sejak lima sampai sepuluh tahun belakangan ini. Akibatnya, para nelayan harus menempuh jarak yang jauh untuk bisa mencari dan menangkap ikan. Para nelayan ini juga menggunakan pukat cincin untuk menangkap ikan layang dan hiu.

Penggunaan pukat cincin di beberapa wilayah memang dilarang oleh pemerintah lantaran pukat cincin berpotensi  merusak atau menghancurkan karang laut yang merupakan  tempat tinggal ikan-ikan. Selain itu, pukat cincin dilarang penggunaannya karena dapat menangkap ikan-ikan yang dilindungi karena dapat menangkap ikan-ikan yang dilindungi karena kelan. (hironimus dhale)

Komentar ANDA?