Berpikir Kritis dalam Berbahasa

0
1114

Oleh:  Hanna Suteja, S. Pd., M. Hum

Dalam komunikasi seseorang mengemukakan perasaan, gagasan atau pemikiran yang hendak disampaikan. Gagasan tersebut tentulah harus direalisasikan dalam bentuk bahasa baik lisan maupun tulisan agar pendengar atau pembacanya dapat mengerti apa yang hendak disampaikan. Secara umum setiap orang dapat melakukan hal ini. Namun demikian, proses komunikasi yang nampak mudah ternyata tidaklah selalu mudah dalam realisasinya. Seseorang memerlukan kemampuan berbahasa untuk menyampaikan isi hati dan pikirannya. Mengapa kemampuan berbahasa diperlukan? Ketika seseorang menyampaikan perasaan/pikirannya dengan tidak tepat, penerimanya dapat mengartikannya secara keliru atau menanggapinya secara kurang tepat. Akibatnya komunikasi menjadi kurang lancar dan tidak sesuai seperti yang diharapkan.
Selain kemampuan bahasa kemampuan berpikir kritis juga diperlukan ketika menyampaikan maupun menerima sebuah gagasan. Dalam hubungannya dengan pengajaran dan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, sering pembelajar dan pengajar terjebak pada unsur bahasanya saja. Dalam hal ini penekanan seringkali diberikan pada penguasaan gramatika dengan aturan-aturannya. Dengan model pengajaran seperti ini pemelajar tidak diajak berpikir pentingnya kelogisan dan relevansi gagasan mereka dalam kalimat atau ujaran yang mereka buat. Pengajar dan pemelajar merasa cukup ketika kalimat dan ujaran yang dihasilkan sudah benar menurut gramatika bahasa target. Tidaklah mengherankan praktek pembelajaran bahasa dengan menekankan aspek gramatika saja membuat pelajaran bahasa Inggris menjadi momok bagi sebagian besar pemelajar. Selama mengajar penulis tidak jarang mendapati kalimat-kalimat yang tidak logis ketika memeriksa tulisan-tulisan mahasiswa baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Penulis cenderung berpikir bahwa masalah ini bukan sekedar kurangnya penguasaan bahasa. Jika mereka menulis dalam bahasa asing, bahasa Inggris, ada anggapan bahwa masalah mereka adalah kurangnya penguasaan bahasa tsb. Bagaimana dengan mereka yang menulis dalam bahasa ibu, bahasa Indonesia? Letak masalahnya mungkin ada pada cara berpikir. Untuk memikirkan isi pesan dan bagaimana menyampaikannya secara efektif tentu saja diperlukan pikiran yang kritis dan bukan sekedar “rule-oriented”. Semua pengetahuan bahasa memang digunakan dalam merangkai kalimat atau ujaran. Namun untuk menentukan pilihan kata dan susunannya agar runtut dan logis tidak hanya mengikuti gramatika yang benar tetapi juga sesuai konteks dan apa yang hendak dicapai; semuanya itu memerlukan pemikiran yang kritis.
Apa itu berpikir kritis? Kebanyakan orang berpikir negatif ketika mendengar kata kritis karena selalu dikaitkan dengan kritik. Secara etimologi kata kritik terkait dengan kata Yunani krinein yang berarti memilah dan dalam bahasa Inggrisnya criterion yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kriteria yang berarti tolok ukur. Fisher (2019) mendefinisikan berpikir kritis sebagai suatu ketrampilan di mana seseorang secara aktif melakukan interpretasi dan evaluasi dalam pengamatannya ketika melakukan komunikasi, bertukar informasi, dan berargumentasi. Ketrampilan ini tentu tidak hanya digunakan di dunia akademik melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Jadi apa hubungan pembelajaran bahasa dengan berpikir kritis? Dalam hal ini bahasa adalah sarana yang digunakan dalam berkomunikasi, bertukar informasi, dan beragumentasi. Selain mengikuti kaidah bahasa seorang pengguna bahasa perlu memikirkan pesan yang hendak disampaikan. Fisher & Scriven (2011) menyebutnya sebagai metakognisi yaitu thinking of our own thinking. Artinya sebelum sebuah gagasan diungkapkan, penggagasnya perlu secara aktif mengolah dan mengevaluasi pikirannya sendiri. Proses serupa tentunya juga berlaku bagi penerima gagasan agar tidak langsung menerima apa saja yang didengar atau dibaca. Di tengah maraknya hoaks dan retorika yang menyesatkan kita perlu mencermati penggunaan bahasa dalam penyampaian informasi dan gagasan baik di media massa maupun dalam percakapan sehari-hari. Bahasa dapat digunakan dalam kerangka tujuan positif ataupun dimanipulasi sedemikian rupa untuk tujuan negatif. Apalagi saat ini di era digital setiap orang dengan gawai pintarnya dapat mengunggah apa saja di media sosial dan menanggapinya dengan mudah, cepat dan mungkin tanpa berpikir panjang. Tidak jarang kita mendengar komentar-komentar yang menyesatkan dan perundungan verbal yang diunggah di media sosial juga berdampak serius di dunia nyata. Di tengah keadaan yang demikian sangatlah mengkhawatirkan jika seseorang tidak memikirkan terlebih dahulu gagasannya secara kritis sebelum mengunggah atau menanggapinya. Silang pendapat adalah sesuatu yang wajar dalam komunikasi baik secara fisik maupun digital. Namun, yang perlu dicermati adalah bagaimana memikirkan dahulu pesan yang akan disampaikan, bagaimana menyampaikannya dan meresponnya secara tepat dan kritis.
Pendeknya dalam berkomunikasi kita perlu menyadari bahwa gagasan yang diusung perlu dipikirkan baik-baik sebelum diutarakan secara verbal melalui bahasa apapun baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Samuel Jackson mengatakan Language is the dress of thought. Bahasa adalah sarana yang membalut gagasan yang ingin disampaikan agar dapat dimengerti oleh diri sendiri maupun orang lain. Kemampuan menguasai bahasa memang penting; jika kemampuan ini dilengkapi dengan pikiran yang kritis, komunikasi akan menjadi lebih efektif dalam mencapai tujuannya.

Penulis adalah : Dosen Bahasa Inggris Universitas Pelita Harapan, Jakarta

Komentar ANDA?