Besok, Bedah Buku Lamafa Sebuah Novel Karya Fince Bataona

0
804
Foto: Fince Bataona, penulis buka Lamafa Sebuah Novel Karya

NTTsatu.com – LEWOLEBA – Menurut rencana, besok,  Selasa (22/8) akan digelar bedah buku Lamafa sebuah Novel karya Fince Bataona, jurnalis senior yang bertugas di Lembata.

Bedah buku Lamafa sebuah Novel ini menghadirkan narasumber Pater Charles Beraf, SVD yang akan membedah tinjauan fikosofis tradisi Leva dalam novel Lamafa, Dr Lanny Koroh akan membedah dari sisi novel Lamafa perjuangan perlindungan budaya lokal Leva, Akeksander Take Ofong dari sisi novel Lamafa sastra dalan perjuangan mengubah kebijakan publik, dan Paulus Sinakai akan membedah novel Lamafa mengurai tradisi Leva dalam gelombang perubahan sosial budaya dan modernisasi.

Bedah buku Lamafa sebuah Novel direncanakan dibuka dengan pidato pengantar Wakil Bupati Lembata Dr Thomas Ola Langodai di aula Kopdit Ankara mengangkat novel Lamafa dalam bingkai mewujudkan Lembata sebagai Kabupaten Literasi.

Fince Bataona, penulis buku Lamafa sebuah Novel kepada wartawan, Senin (21/8) mengatakan, isi buku ini bercerita tentang Lamalera hidup dan kehidupan mereka yang ditopang dari keseharian mereka menangkap ikan paus.

Selama ini, jelasnya, sebagai seorang jurnalis ia sudah sering menulis tentang Lamalera. Tetapi, selama ini mengangkat kegelisahan terkait konservasi. Para nelayan Lamalera menangis ketika disosialisasikan UU yang melarang penangkapan jenis-jenis ikan yang tak boleh ditangkap.

“Sebagai orang Lamalera saya ikut menangis dan ingin selalu ada dengan mereka,” katanya.

Diakuinya, dengan menulis dalam bentuk novel, ia ingin lebih menyentuh hati para pemimpin agar tidak melihat aktivitas masyarakat nelayan Lamalera dengan nafsu tetapi dengan hati.

Proses menulis buku ini sudah berjalan cukup lama sejak dua tahun lalu. Bahkan kadang file sempat hilang dan setelah melihat penderitaan warga Lamalera yang dijerat hukum karena aktivitas mereka maka mulai tergerak untuk menulis. Menyusun membutuhkan waktu yang cukup dan tenang. Sehingga, kadang baru menulis ketika seisi rumah tidur atau sedang tak berada di rumah.

Foto: Cover depan Buku Lamafa Sebuah Novel Karya Fince Bataona

“Saya menulis novel ini dengan sepenuh jiwa karena saya ikut merasakan apa yang dirasakan dan kegelisahan para nelayan Lamalera,” kata Fince.

Sementara Pater Charles Beraf dalam testimoninya tentang Lamafa sebuah Novel mengatakan, novel tersebut meminjam kata-kata filosof Nietzche ditulis dengan darah, berangkat dari pengalaman ‘mati hidup’ orang-orang Lamalera yang sama sekali tidak tunduk pada apa yang oleh banyak orang diaebut sebagai ‘takdir’, melainkan yang selalu nelihat perjuangan mati hidup sebagai bagian yang tak bisa ditolak. Ema (ibu), tokoh dalam novel tidak hanya secara lurus merepsentasikan figur para perempuan tangguh Lamalera, tetapi juga menunjukkan betapa spirit dan komitmen seorang lelaki Lamalera tak bisa begitu saja pupus oleh perkara-perkara sentinental sifatnya.

“Petaka kematian suaminya di laut malah menjadikan Ema sekaligus sebagai bapa ywng mewariskan spirit dan komitmeb serupa kepada anak-anaknya dan ibu yang menjalankan hal ikhwal hidup secara total meski dalan keadaan yang paling sulit,” kata Beraf.

Novel itu, hematnya, tidak hanya mengaduk-aduk perasaan tentang kekerasan hidup di Lamalera, tetapi juga merekam tentang pentingnya korban dan perjuangan yang barangkali sedang terancam dilupakan di tengah derap kemajuan yang menggampangkan.

Sementara Aloysius Geneser Tapoona, seirang Lamafa mengatakan, Lamafa melakukan tugas yang sakral. Saat memegang tempuling, Lamafa menggenggam harapan hidup tidak hanya keluarganya, tetapi seluruh kampung. “Dia (Lamafa) adalah kehidupan,” tutupnya. (rin/bp)

Komentar ANDA?