Biji Gandum jika mati, ia akan menghasilkan banyak buah

0
566

Oleh: Rm. Ambros Ladjar, Prย 

Hari Minggu Pekan V Prapaska, 17 Maret 2024*. Bacaan. Yeremia 31: 31-34 & Ibr 5: 7-9 dan Injilย  Yoh 12: 20 – 33.

Orang yang menjelang ajal biasanya membuat kita merasa penasaran karena tanpa sadar mereka mampu berkomunikasi dengan para arwah. Memang tak banyak orang tapi umumnya para ortu yang sudah uzur. Mereka sebetulnya menyadari bahwa hidup tak akan lama lagi. Hal itu adalah sebuah isyarat bahwa waktu kematian sudah semakin dekat. Kita mungkin saja tak sadar dan pikiran baru terbuka setelah lewat beberapa hari peristiwa itu terbukti.

Dalam narasi Injil, Yesus juga tahu baik sekali akan saat kematian-Nya yang semakin dekat. DIA mengisahkan kepada para murid, apa yang akan dialami-Nya. Kematian Yesus bukan akibat sakit penyakit, tapi karena hasil persekongkolan para lawan sebangsa dan penguasa Romawi saat itu. Yesus akan dibunuh dan itu sudah DIA bayangkan terlebih dahulu. Cara paling mudah untuk menghabisi lawan namun kematian Yesus itu justru berguna bagi banyak orang. Yesus ibarat biji gandum dalam injil. DIA harus jatuh ke tanah dan mati barulah dapat menghasilkan banyak buah.

Perumpamaan tentang Biji Gandum adalah sebuah alegori tentang pengorbanan dan kebangkitan yang dialami Yesus sendiri. Tuhan Yesus hendak mengajarkan kepada para murid untuk memahami arti hidup yang sebenarnya kelak. Sebab hidup di bumi cumalah sementara yang tak bisa dipertahankan. Jika memiliki orientasi demikian maka pasti orang tak cuma pasrah dan harap gampang. Apabila mau hidup bahagia maka harus terus berjuang penuh semangat. Adalah tidak terpuji jika mendapat untung dari jeripayah sesama akibat hasil konspirasi dan rekayasa kejahatan. Padahal seharusnya orang berusaha melewati susah payah dahulu baru menggapai sukses.

Surat Ibrani juga berbicara tentang penderitaan Yesus. Dalam situasi itu Yesus tak mengelak atau melarikan diri dari kenyataan. Yesus mempersembahkan Doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Allah. Tampaknya DIA begitu setia menghadapi segala derita-Nya. Oleh karena ketaatan-Nya maka Yesus mengalirkan sumber keselamatan kepada semua manusia. Kita selaku ibu, bapa, pegawai, petani, nelayan, tukang, buruh serta apapun profesinya, telah banyak bergumul dengan derita dan korban.

Bagi kebanyakan orang “kesabaran itu terasa amat pahit tapi buahnya manis”. Kenyataan mungkin saja lebih banyak orang gagal dari pada upaya menggapai sukses atau bahagia. Pada kenyataan segala upaya dan pengorbanan kita juga tidak sia-sia tapi ada nilai unggul dibaliknya. Derita, korban dan sakit hati yang dilewati orang ibarat benih yang jatuh, rusak dan mati barulah bisa menghasilkan buah yang berguna. Apakah kita cukup setia dan sabar menghadapi segala penderitaan di dalam hidup?

*Salam Seroja, Sehat Rohani dan Jasmani* di Hari Minggu buat semuanya. Jikalau ADA, Bersyukurlah. Jika TIDAK ADA, BerDOALAH. Jikalau BELUM ada, BerUSAHALAH. Jikalau masih KURANG Ber- SABARLAH. Jika LEBIH maka BerBAGI LAH. Jika CUKUP, berSUKACITALAH. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga anda dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita yang melingkupi hidupmu… Amin๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐ŸŒน๐ŸŒนโœ๏ธ๐Ÿชท๐Ÿชท๐Ÿค๐Ÿค๐ŸŽ๐Ÿ›๏ธ๐Ÿ’ฐ๐Ÿ‡๐Ÿ‡๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Pastor Paroki Katedralย 

Komentar ANDA?