Bisnis ‘Tipu-Tipu’

0
1522

Oleh: Robert Bala

Seorang sahabat dari Kupang menanyakan kepada saya sebuah perusahaan investasi online. Katanya kini anggotanya mencapai 700 orang (itu hanya di Kupang) hanya dalam kurun waktu 3 bulan. Banyak orang yang tergiur, apalagi promotornya orang yang cukup punya pengaruh, demikian dia menjelaskan. ‘Wouw, luar biasa’, demikian saya menimpalinya.

Awalnya, saya agak ragu-ragu apa maksudnya menanyakan hal itu. Kemudian ia baru sampaikan dua alasan. Pertama, karena bisnis itu (katanya) berasal dari Spanyol. Ia yakin, saya bisa mencari kebenaran bisnis itu di Spanyol dan negara berbahasa Spanyol lainnya di Amerika Selatan.

Selain itu ia tahu bahwa saya pernah membongkar bisnis ‘tipu-tipu’ di Larantuka: Mitra Tiara. ‘Koperasi’ itu bahkan diperkirakan saat itu sudah ‘beromzet, 1,7 triliun rupiah. Hanya dalam sebulan, bisnis ‘tipu-tipu’ itu terbongkar. Apakah bisnis yang lagi ‘laris’ di Kupang (dan mungkin sudah menyebar ke beberapa ibu kota kabupaten di NTT) itu bukan bisnis tipu-tipu?

Tentu tidak mudah menjawabnya. Kemamapuan dalam bisang finansial pun tidak bisa diandalkan untuk membangun argument yang jitu. Tetapi saya hanya bisa gunakan akal sehat dalam memahami hal yang pelik seperti ini

Lincah Berbual

Untuk menentukan apakah sebuah tawasan bisnis itu dipercaya atau tidak, sesungguhnya kerap kali susah. Lebih lagi, aneka bisnis baru, kerap hadir dengan teknik cukup ‘lincah berbual’. Secara ‘Public Speaking’ mereka sudah menguasai ‘Frequent Questions’ berupa pertanyaan malah keraguan yang selalu diajukan oleh calon yang mau bergabung.

Bagaimana memperoleh anggota, apa keuntungan, serta apakah bisnis seperti itu bodong atau tidak. Pertanyaan terakhir ini biasanya lebih ‘ngeri-ngeri sedap’. Bisnis investasi (bodong) biasanya sudah tersiapkan dengan sebuah autokritik. Multy Marketing Level (MML) yang sebelumnya diakui memiliki kelemahan. Belajar dari kelemahan itu maka bisnis yang terbaru ini sudah mengantisipasinya.

Yang lebih menarik, promosi biasanya menghadirkan bukti yang memukau. Mereka tampilkan foto, barang, ada kesaksian. Apakah kesaksian itu benar? Ya, memang benar. Yang jadi pertanyaan, apakah keuntungan atau lebih tepat keberuntungan itu diperoleh dari hasil investasi ataukah bonus oleh karena telah ‘menggaet’ anggota baru? Artinya, semakin banyak anggota, maka orang yang berada di atanya akan mendapatkan berapa persen dari anggota baru. Jelaslah kalau begini. Sebuah struktur yang kian menguntungkan kalau anggota baru semakin banyak yang direkrut.

‘Keberhasilan’ inilah yang kemudian dipromosikan dan dibesar-besarkan. Lebih lagi kalau orang yang memberi kesaksian termasuk anggota-anggota awal. Itu akan menjadi lebih berpengaruh kalau mereka adalah orang-orang berpengaruh: dalam agama atau masyarakat. Tak heran kesaksian mereka akan cepat mendapatkan sambutan. Anggota baru akan berdatangan dengan sendirinya.

Promosi itu tidak berhenti di situ. Untuk menambah pelanggan kerap diadakan seminar dengan pembicara bukan orang sembarangan. Di belakang nama orang itu terdapat rangkaian gelar termasuk para doktor (tapi doktor juga manusia). Kalau doctor ‘beneren’ tidak ada masalah. Tetapi banyak orang yang bahkan diragukan atau sekadar disapa meski ia sendiri tahu bahwa hanya gagah-gagahan, sama seperti orang menyapa ‘bos’ meski ia bukan bos.

Ada model promosi yang lebih mengerikan. Sejak awal mereka menggambarkan kepada anggota bahwa keuntungan yang terjadi (kalau memang benar-benar terwujud) maka hasil yang diperoleh luar biasa. Tetapi juga (biasanya sudah digambarkan dari awal), bisa saja ada tidak ada keuntungan sama sekali malah dana yang diinvestasikan hilang. Artinya sejak awal, nasabahnay sebenarnya sudah tersiapkan secara mental bahwa itu tidak bedanya dengan ‘berjudi’. Kalau untung, ya syukur. Tetapi kalau tidak, maka ada kesialan. Jadi tanya, berapa banyak investasi seperti itu yang mendatangkan keuntungan? Berapa banyak model investasi yang bertahan sampai 10 tahun? Biasanya umurnya 3 – 5 tahun. Itu sudah jangka waktu yang lama. Yang lain biasanya hanya seumur jagung.

Mencermati Model

Bagaimana agar orang tidak cepat tepengaruh pada bisnis bodong yang dipenuhi ‘tipu-tipu?’ Tentu harus diperhatikan ‘model’ promosinya yang tidak terlalu banyak berubah seperti digambarkan di atas. Namun agar lebih diperdalam, maka dapat diperhatikan dalam beberapa model berikut ini:

Pertama, perlu dicurigai perusahaan investasi berkembang begitu pesat dalam waktu relatif singkat. Sistem MML yang harus menggandakan anggota dengan kelipatan 4 misalnya sangat memungkinkan penambahan anggota. Awalnya 4 menjadi 16 (4×4), 64 (16×4), 256 (64×4) 1024 (256×4) dan seterusnya. Model penambahan spektaukler sampai 700 seperti yang terjadi di Kupang bisa menjadi alasan untuk mencurigai kebenaran investasi tersebut.

Kedua, menghasilkan keuntungan yang besar bagi yang telah sukses mendapatkan anggota baru. Fakta ini memang tidak bisa disangkal. Sebagai “MML”, semakin banyak anggota yang direkrut, semakin tinggi pula keuntungan yang diterima.

Di banyak kota besar, keberuntungan itu lalu dipertontonkan di jala lewat pawai. Mereka menghadirkan ke publik tentang kendaraan (motor, mobil) yang sudah diterima. Ia merupakan model promosi yang ‘aduhai’. Tetapi kita boleh bertanya: dairi mana asal hadiah itu? Apakah dari keuntungan pengembangannya atau ia sebenarnya hadiah dari dana yang sudah dikumpulkan?

Kalau kita jujur, asalnya hampir bisa dipastikan dari prosentasi jumlah tabungan anggota. Ia beruntung telah menggandakan jumlah orang. Dalam arti ini, demo atau pawai atas keberhasilan sebuah investasi dengan nama apapun mestinya jadi celah untuk mencurigai dan bukan langsung mempercayai begitu saja.

Tentu dengan mengatakan seperti itu menggeneralisir semua model usaha. Ada juga model usaha yang baik. Tetapi sebaik apapun investasi, orang perlu menganalisisnya. Banyak sekali tulisan di internet yang bisa dikonfirmasi. Kalau digunakan bahasa asing,maka ada model ‘terjemahan’ yang bisa menghadirkan pemahaman garis besar. Dari situ kita bisa memperoleh data.

Untuk perusahaan yang katanya dari Spanyol yang disinggung di depan. Ketika terkonfirmasi di media Spanyol, sejak Februari 2020 telah diklaim sebagai penipuan. Hal seperti itu diungkapkan oleh pemerintah Paraguay setahun sebelumnya. Sudah diklaim terjadi penipuan. Sayangnya, di Indonesia masih dipromosikan di Februari 2021.

Ketiga, perlu dipertanyakan tentang model investasi riil yang telah dialokasikan sebagai modal usaha. Pada model pengumpulan dana tabungan untuk investasi seperti ini memang bisa diterima ketika ruang lingkupnya kecil. Orang langsung melihat sebuah model bangunan fisik atau pabrik nyata yang menjelaskan tentang proses ekonomi yang tengah dilaksanakan.

Proses tabungan seperti ini akhirnya bisa melaksanakan sebuah mekanisme kontrol karena ada barang nyata yang tengah dikerjakan. Seseorang yang berinvestasi pun semakin yakin bahwa prospek yang akan diperoleh pun menjanjikan.

Kenyataan ini akan menjadi sulit jenis investasi yang katanya ad aitu terdapat di negara lain. Bahkan jenis investasi dalam negeri saja diragukan (seperti yang pernah ditunjukkan dengan Mitra Tiara di Larantuka dengan membangun Hotel (yang katanya) bintang 5 di Larantuka. Mungkin saja ia bisa bangun, tetapi orang yang masih punya akal sehat akan bertanya, siapa yang akan mengiap di hotel terlalu mewah itu? Kalau ada, berapa orang?

Jadi jelas bahwa ketika ruang lingkup itu terlalu luas, kontrol itu bersifat nyaris ada. Di sana bisa dipastikan bahwa kemungkinan untuk dikategorikan bisnis ‘tipu-tipu’ cukup besar.

Keempat, perlu dicek tentang pembuktian dalam kenyataan. Hampir bisa dipastikan bahwa belum ada bisnis dengan sistem MML yang bisa bertahan lama dan memberikan hasil yang memuaskan. Sebagian besar untuk tidak mengatakan semuanya akhirnya gagal setelah periode waktu tertentu.

Dalam kaitan dengan bisnis yang katanya mulai dari negara Spanyol itu, agar memenuhi harapan teman tersebut, saya mendapatkan informasi yang cukup membuat saya terkejut. Tiga kata berikut cukup dominan sebagai kesimpulan akhir terhadap model investasi seperti ini: advertencia (peringatan), fraude (penipuan), mentira (kebohongan).

Hal ini tentu tidak menjadi kesimpulan akhir, seakan-akan semua jenis tabungan itu ‘bodong’ atau ‘tipu-tipu’. Tentu saja ada yang baik hal mana bisa merontokkan argumentasi di atas. Tetapi bila fakta belum menghadirkan contoh akan investasi yang berakhir sukses, maka sebelum benar-benar masuk dan terlibat dalam satu investasi, kita perlu gunakan’keraguan’ kita. Hanya dengan demikian kita bisa mencek, apakah perusahaan itu memang berniat luhur atau sekadar bisnis tipu-tipu?

Kalau bisa menjawab pertanyaan ini maka kita punya alasan yang kuat untuk menjadi anggota dan mencari anggota baru atau mengatakan ‘cukup sampai di sini saja’.

========

Robert Bala. Pengalaman ‘membongkar’ Investasi Bodong Mitra Tiara Larantuka 2014.

Komentar ANDA?