BPS: Rasio Gini Sikka Turun 0,342 Pada Tahun 2022

0
130

NTTSATU.COM — MAUMERE — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sikka Kristanto Setyo Utomo SST,MSi menyampaikan, bahwa Gini Rasio atau tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk kabupaten Sikka yang diukur pada Maret 2022 tercatat sebesar 0,342.

Angka ini menurun 0,019 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio bulan maret 2021 sebesar 0,361, dan menurun 0,023 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio bulan Maret 2020 sebesar 0,384,” kata Kristanto dalam keterangannya kepada nttsatu .com, diruangan kerja Kantor BPS Sikka Kamis, 19/01/2023) siang.

Selain Gini Ratio, menurut Kepala BPS Sikka Kristanto, ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran Bank Dunia.

Berdasarkan ukuran ini tingkat ketimpangan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya dibawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 12–17 persen, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada diatas 17 persen.

Lebih lanjut Kepala BPS Sikka menjelaskan , perubahan tingkat ketimpangan penduduk sangat dipengaruhi oleh besarnya variasi perubahan pengeluaran antar kelompok penduduk. Apabila perubahan pengeluaran penduduk kelompok bawah lebih cepat dibandingkan dengan penduduk kelompok atas maupun menengah maka ketimpangan pengeluaran akan membaik.

Kristanto juga menjelaskan Gini ratio di ukur dengan nilai 0 sampai dengan 1 menunjukan tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk dimana semakin mengdekati angka 1 berati pengeluaran penduduk semakin timpang kalau makin dekat dengan angka nol maka tidak ada jelas kristanto

Penurunan gini ratio atau ketimpangan pengeluaran dalam masyarakat kabupaten Sikka menurut Kristanto disebabkan oleh penurunan angka penduduk miskin pada Maret 2022 karena dalam data yang ada BPS Sikka mencatat presentase penduduk miskin di Nian Tanah pada Maret 2022 sebesar12,61 atau turun sebesar 0.74 dibandingkanpada Maret tahun 2021 yang sebesar13,35

Selain angka kemiskinan indeks kedalaman kemisknana (P1) yang merupakan ukuran rata rat kesenjangan pengeluara masing –masing penduduk terhadap garis kemiskinan maupun indeks keparahan kemiskinan (P2) menggambarkan tingkat kesenjangan pengeluaragan diantara penduduk miskin juga menurun

Indeks kedalaman pada 2022 mencapai 1,80% Begitu juga Indeks keparahan dari 1,40% di medio yang sama. Artinya, semakin menurunnya indeks P1 ini, semakin dekat rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. Begitu juga dengan menurun P2 ini maka semakin menurun ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.

“Indeks gini ratio atau ketimpangan pengeluaran kita dalam kurun waktu 3 tahun terakhir selalu mengalami penurunan tingkat ketimpangan y akni pada tahun 2020 gini rationya sebesar 0,384 pada tahun 2021 kwmbali menuurn dengan giniratio sebesar 0,361 sedangkan pada tahun 2022 menurun menjdi 0,342 Artinya apa, kualitas pertumbuhan ekonomi kita sudah mengarah pada jalur yang tepat atau on the back untuk menuju pemerataan pengeluaran ,” kata Kristanto  (ino.)

Komentar ANDA?