Bruder Koen, SVD Bangun Gedung Gereja, Dermaga, Hingga Mesjid dan Manusia “Tukang Bangunan”

0
1214
Foto: Bruder Koen yang lahir dengan nama asli Willibrordus Bernardus Engelbertus Thuis

Oleh : Thomas Ataladjar

 

Entah sudah berapa puluh atau ratus ribu kapal dan perahu yang pernah lego jangkar dan berlabuh di dermaga Larantuka, termasuk pada perayaan Semana Santa tahun 2018 ini. Penumpang kapal laut pasti membludak di dermaga pelabuhan Larantuka.  Juga dermaga Waiwerang, Pamakayo dan Waidoko.

Di era 1960-1970-an, dermaga-dermaga ini begitu akrab dengan siswa seminari  San Dominggo Hokeng. Kapal Motor misi seperti Arnoldus, Siti Nirmala, St.Theresia dan Kapal AMA, sering mampir untuk mengambil  atau menurunkan seminaris  asal Adonara, Solor atau Larantuka.

Saat masuk  seminari Hokeng tahun ajaran 1964/1965, gereja seminari yang berkatakombe, baru saja mulai dibangun. Jauh sebelumnya, pada  19 Maret 1953 ia mulai membangun gedung SMA Katolik Syuradikara di Ende. Siapakah sosok di balik pembangunan dermaga dan gedung SMA Syuradikara dan gedung gereja Seminari  Hokeng yang megah itu? Insinyurkah dia ? Cuma  itukah karya monumental hasil  sentuhan tangan dingin  “tukang kayu”  dari Didam ini ?

Nama lengkapnya Willibrordus Bernardus Engelbertus Thuis. Putra pasangan Johanes B.A.Thuis dan Theodora Johanna Heinink. Lahir di Didam, Belanda  5 Juli 1907. Pada 11 November 1923 ia masuk  rumah pendidikan misionaris di Uden, setelah  tiga setengah tahun sekolah di Hoogere  Burgerschool (HBS) di Roermond. Dua tahun kemudian 6 Mei 1925, ia jalani masa novisiat. Dan tanggal 6 Mei 1928 ia ucapkan kaul untuk pertama kali. Sejak itu ia menyandang nama Bruder Coendradus yang akhirnya akrab disapa dengan nama Bruder Coen. Kita di  Nagi (Larantuka) menyapanya Bruder Kun.

Kemudian di bawah bimbingan Bruder Bonaventura,  ia belajar jadi tukang di bengkel kayu Rumah Misi sebagai bekalnya sebagai misionaris ke tanah misi, Flores, di Kepulauan Sunda Kecil. Pada 5 Agustus 1931, Bruder Coen meninggalkan Belanda dan tiba di Ende 25 September 1931. Setelah terlebih dahulu belajar bahasa Melayu, sejak November 1931 ia ditempatkan di Ende. Di pertukangan Ende, ia belajar praktek pada Bruder Lambertus. Pada 6 Mei 1934 ia ikrarkan kaul kekal di Ende.

Sejak 1 Januari 1935, Bruder Coen ditugaskan di Larantuka. Selain memimpin asrama dan mengatur kegiatan Bengkel Misi Larantuka, Bruder Coen juga masih memimpin pembangunan di luar bengkel. Tahun 1936 ia selesaikan gedung gereja di Lite, Adonara bersama bruder Coloman.

Tahun 1942, bersama sejumlah misionaris, mereka ditawan di Camp Jepang di Sulawesi. Setelah bebas ia kembali ke Larantuka. Tahun 1948 Bruder Coen cuti  pulang kampung ke Belanda.

Sekembalinya dari Belanda ia ditugaskan di Ende. Dalam kurun waktu 1949-1955, bruder Coen kembali bertugas di Ende, memimpin pembangunan kembali Katedral Ende yang rusak akibat pengeboman Sekutu. Ia juga membangun asrama percetakan. Pada 19 Maret 1953, pekerjaan membangun gedung SMA Katolik  Syuradikara dimulai di bawah pengawasan Br.Coendradus dan Br,Marselus Pitang, salah seorang dari tiga bruder SVD angkatan pertama yang ahli bangunan bagian kayu.

Pada 6 Mei 1953  ia merayakan pesta perak kaulnya. Dan pada tanggal 1 September 1953, walaupun baru bagian-bagian yang pokok dari bangunan selesai, namun sekolah itu diresmikan dan kegiatan belajar mengajar mulai berjalan. Pembangunan lanjutan dilakukan sesudah peresmian.

 

Pimpin Ambacthschool dan Bengkel Misi Larantuka

Pada tahun 1955 Bruder Coen kembali ke Larantuka, memimpin sekolah pertukangan (Ambacthschool),  menangani Bengkel Misi, asrama dan pembangunan saran lainnya.

Perlu dicatat bahwa Bengkel Misi di Larantuka mempunyai sejarah yang cukup panjang. Bruder-bruder Jesuit telah mulai membuka  bengkel itu pada paruh abad 19. Di sini anak-anak tamatan sekolah dasar mengasah ketrampilannya bertukang. Pada tahun 1912, sudah ada satu kursus bangunan dan besi yang dikelola oleh bruder Jesuit.

Setelah misionaris SVD mengambil alih misi Kepulauan Sunda Kecil dari tangan misionaris Jesuit, tukang lulusan mulai Larantuka menyebar ke bagian barat Flores, Sumba dan Timor, membangun banyak gedung  yang dapat disaksikan hingga kini. Ternyata misi katolik tidak hanya memikirkan pendidikan umum seperti sekolah-sekolah Dasar dan lanjutan, tapi juga sekolah keterampilan dan kursus seperti pertukangan, rumah tangga dan kesehatan.

Sebelum perang dunia kedua, sekolah pertukangan ini hanya berlangsung selama 3 tahun, setelah perang menjadi empat tahun dan yang lulus diberi ijazah. Bagi siswa yang berbakat khusus, diberi kesempatan mengikuti kursus selama  dua tahun lagi. Setelah lulus, selain diberi ijasah juga diberi aat-alat pertukangan lengkap.

Bruder Coen sangat professional di bidangnya. Selama menjadi misionaris, Bruder Coen telah mendirikan tidak kurang dari 33 buah gereja dan kapela. Juga sebuah dok kecil untuk perawatan motor laut dan perahu di depan biara SSpS di  Balela, Larantuka.  Juga membangun Sebuah dermaga laut 500 meter di Larantuka. Selama tujuh bulan  orang harus menyelam sampai ke kedalaman enam meter untuk mengecor beton dan ternyata…… berhasil. Ia juga yang membangun dermaga di Waiwerang, Pamakayo dan Waidoko.

Tidak itu saja.Bruder Coen  juga mendirikan dirikan rumah sekolah untuk Sekolah Dasar dan Lanjutan, Rumah Sakit, poliklinik, gedung seminari, rumah biara untuk suster dan frater, bak-bak penampungan air, gedung kantor pemerintah, kantor polisi, gedung DPRD, bahkan sebuah mesjid untuk umat Islam di kota Larantuka. Untuk kepentingan karyawannya ia juga mendirikan tak kurang dari 84 buah rumah di Larantuka.

Foto: Kapela Seminari San Dominggo Hokeng yang dibangun dengan katakombenya

Pendidik Manusia Pembangun Yang Terdidik Otak, Mental dan Wataknya

 

Sebahagian besar hidup Bruder Coen dihabiskan di Larantuka, sekitar 20 tahun. Ia membangun berbagai macam aneka bangunan fisik dan membangun manusia yang menjadi  “tukang bangunan” dan namanya terpatri abadi di hati banyak siswa yang dibimbingnya.

Selama puluhan tahun Bruder Coen memimpin sekolah dan asrama pertukangan  di Larantuka. Anak-anak yang masuk sekolah ini berusia antara 16-22 tahun. Ia menerapkan disiplin yang ketat sehingga banyak anak didiknya yang berhasil jadi orang.

Bruder Coen mendidik anak buahnya menjadi  tukang yang teliti, disiplin, tepat waktu, jujur, rajin, teratur dan beriman. Ia menghendaki siswanya menjadi manusia pembangun yang terdidik otak, terdidik mental dan terdidik wataknya. Ia memperlakukan mereka tidak hanya sekedar sebagai orang upahan. Bruder Coen telah menjalankan karya “Human investement”, membangun manusia pembangun.

Misionaris yang ulet ini sadar bahwa tugas dan panggilannya adalah mendidik, melatih dan menggembleng mental para pekerja dan siswa-siswanya menjadi manusia yang berwatak. Ia melihat karyanya sebagai bantuan untuk mengembangan manusia dengan mengubah sikap mentalnya. Coen tidak saja didik dan hasilkan tukang-tukang trampil; tetapi tukang-tukang trampil tersebut pada gilirannya ikut  tularkan ketrampilannya kepada yang lain.

 

Jejak Bruder Kun di Lembata

 

Sejak Maret 1963, gereja ketiga Lamalera mulai

dibangun di bawah pimpinan Bruder Coen (Kundradus SVD) dengan tukang kawakan J.Kabi. Pada 8 Mei 1975, Mgr. Darius Nggawa SVD Uskup Larantuka berkenan memberkati gereja Lamalera ketiga ini, menggantikan gereja kedua yang diresmikan 15 Mei 1932 yang diberkati oleh P.Th.Koch,SVD,Rektor Larantuka.

Untuk membangun  gedung gereja, kapel dan gedung sekolah-sekolah khusus di Lomblen (kini Lembata), sejumlah tukang asal Lamalera banyak berjasa seperti J. Kabi, Tangi, Polu, Karolus Arkian Beding, Keleka, Kame, Getan, Guma dan lain-lain.

Ternyata kehadiran tukang trampil awal asal Lamalera, memicu sejumlah anak Lomblen lain termasuk kawasan Painara (Atadei-Paroki Lerek) untuk mengikuti jejaknya menjadi tukang. Sejumlah nama tukang awal dari kawasan Painara antara lain Gego Wadan, A.Wua Labi, Karolus Nimo Gole, Kopo Nuba dan Y.Ratu Namang (Atawolo); dari Lerek tercatat Rofinus Raja Ari Tolok, Y.Kia Honi, Pius Kedang Tolok, Wadan Poli Bala, Yohanes Pelea Lagan Tolok dan Laba Wajin. Dari Watuwawer tercatat Bernard Baha Luga dan Petrus Temai Ledjap. Sementara dari Waiwejak Yohanes Lapit Namang. Sebahagiaan dari mereka adalah anak didik Bruder Coen di Ambachtschool, Larantuka.

Saya Tidak Mau Memberatkan Kamu

 

Sebelum kembali ke Belanda menjalani masa pensiunnya, ia pernah mengatakan          :”Tujuan kami, pertama-tama ialah membina pekerja-pekerja yang mahir dan berbudi baik, dan dengan demikian kami membuat diri kami tidak dibutuhkan lagi….Ratusan pekerja terampil kini tersebar di Indonesia, sesudah mereka memperoleh kedudukan baik dan setelah kami melatih mereka untuk sanggup membangun dan menjalankan hidup”. Saat perpisahan ia mengatakan: “perpisahan memang berat, tapi lebih baik, karena saya tidak mau memberatkan kamu”.

Sementara kepada penggantinya Bruder Coen berpesan saat memasuki masa pensiun : ”Janganlah mendidik anak-anak untuk mendapatkan ijasah cap-cap saja. Tapi untuk tau bekerja secara  praktis. Karena ijasah cuma membuktikan apa yang kita sudah lupakan”.

Pada pertengahan 1974, Bruder Coen meninggalkan Flores mulai  menjalani masa purna bhakti di kampung halamannya, Belanda dan menjadi penghuni rumah jompo di Teteringen. Pada 16 Juli 1980 dini hari pukul 04.30 waktu Belanda, Bruder Coendradus Willibrordus Bernardus Engelbertus Thuis,SVD atau Bruder Kun dengan tenang menghembuskan nafasnya yang terakhir , kembali ke pangkuan Tuhan Penciptanya di Zuiderhout-Teteringen.

Terima kasih Bruder Kun, Tukang Kayu dari Didam. Engkau tak pernah menyandang gelar insinyur, tapi karya-karya monumentalmu terpatri abadi, tidak saja pada saksi bisu sosok bangunan fisik, tetapi juga pada sosok manusia pembangun hasil  sentuhan tangan dinginmu.

*) Penulis  Asal Lembata,  tinggal di Bogor,Jawa Barat.

Referensi : Dari berbagai sumber,koleksi penulis

Komentar ANDA?