Budaya Lefa Sebagai Maha Karya Budaya Maritim Nusantara

0
881
Foto: Tena (perahu/peledang nelayan Lamalera saat berburu ikan paus (ist)

LEFA, sebuah tradisi adat yang tak terpisakan dan bersenyawa dengan masyarakat Lamalera. Lamalera sebuah kampung tua di ujung selatan pulau Lembata yang dalam sejarah kehidupan masyarakat Lembata Lamalera sebagai pintu masuk  agama katolik dan dalam sejarahnya orang Lamalera mengalami poses budaya Lefa sejak hadirnya nenek moyang  pada Abad XVI.

Hal itu dikatakan Drs. Herry Untoro Drajat, MA Staf Alih Menteri Pariwisata Bidang Multikulural dalam Seminar Internasional yang digagas oleh  Kementrian Koordinator  Maritim berlangsung di di Hotel Palem Lewoleba selasa, 01 November 2016.

Seminar Internasional dengan tema “Penguatan Budaya Maritim – Budaya Lefa Dalam Rangka Pengembangan Desntinasi  Wisata Bahari dan Pengolahan Sumber Daya” menghadirkan 12 Narasumber yang dibagi dalam tiga sesi.

Pada sesi pertama, seminar tersebut menghadirkan pembicara antara lain, Drs. Harry Untoro Drajad, MA  staf ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural, berbicara tentang Strategi pengembangan destinasi Pariwisata Bahari, Ir. Andi Rusandi, M.Si Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, KKP. Dr.Marius Ardu Jelamu, M.Si, Kadis Paperekraf NTT membedah materi Optimalisasi Potensi Daya Tarik Wisata Alam dan Budaya Menuju  NTT sebagai destinasi  Utama Pariwisata Indonesia 2018.

Pembicara lainnya, Drs. Tamin Sitorus, M.Sc, Kepala Balai Besar Konservasi  Sumber daya Alam (KSDA) NTT, membedah materi Kebijakan Penglolaan/Konservasi Satwa liar  dan Sinun Petrus Manuk, Penjabat Bupati Kabupaten Lembata menghadirkan materi Kebijakan Pembangunan infrastruktur dalam mendukung pengembangan Pariwisata.

Sesi kedua dengan pembicara diantaranya Ir. Benjamin Khan, Msc. Direktur APEX Evironmental, Coral Triangel Oceanic Catacean Program, Dr. Georg H. Engelhard, Center for Evionmental Fisheries and Aquaculture Science(Cefas), Afisyah Nasution, Ocean Compaigner Greenpeace Indonesia.

Di sesi ketiga Seminar Internasional tersebut menghadirkan narasumber diantaranya Blajan Konradus, MA. Dengan membawakan tema Sejarah, Adat dan Budaya Lefa, Ir Nyoman Sutrisna, MM., Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Buleleng, Bona Beding dengan materi Lamalera Sebuah Peroalan: Dua Poproposisi Kebudayaan dan Permasalahanya dan Dr. Arif Satria dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB dengan materi Pemberdayayan Sosial Ekonomi Masyarakat Lokal mendukung Penguatan Budaya Lefa

Lamalera dan Tradisi Tangkap Paus

Charles Beraf, seorang putra Lamalera dalam sebuah tulisannya menjelaskan, masyarakat Lamalera terdiri dari beberapa komunitas kekerabatan yang disebut suku atau marga. Secara historis, masyarakat Lamalera sesungguhnya bukan penduduk asli pulau Lembata.

Kelompok eksodus pertama datang dari Kerajaan Luwuk di Sulawesi Selatan ketika terjadi penaklukan kerajaan – kerajaan di Sulawesi (seperti Kerajaan Bone, Luwuk dan Sopeng) oleh kerajaan Majapahit semasa Pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Eksodus ini diawali dengan mengikuti armada perang Patih Gajah Mada.

Dalam eksodus ini, mereka menyinggahi beberapa daerah, antara lain Pulau Seram, Gorom, Ambon dan kemudian tiba dan menetap di Keroko Tafa Teria Gere atau pulau Lepanbatan.  Namun beberapa waktu kemudian eksodus terjadi lagi ketika pulau Lepanbatan diterjang bencana. Mereka menyeberang ke pulau Lembata dengan perahu yang bernama Kebakopukâ dan menyinggahi beberapa tempat, antara lain Tanjung Gelu Gala, Fai Teba, Tanjung Atadei, Levo Bala dan akhirnya menetap di Ue Ulu Mado Doni Nusa Lela (sekarang bernama Wulandoni).

Selama berada di tempat ini, mereka menjalani kegiatan lefa (melaut) di sekitar parairan Ue Ulu Mado Doni Nusa Lela. Namun, kerapkali mereka terbawa arus ke barat – di wilayah yang sekarang disebut Lamalera. Di wilayah ini mereka menemukan bahwa ada tempat yang cocok untuk melabuhkan dan mengamankan perahu (kné) dan ada sumber air yang bisa dikonsumsi (vai meting).

Penemuan ini turut mendorong mereka untuk berpindah dari Ue Ulu Mado Doni Nusa Lela ke Lamalera. Kelompok eksodus ini terdiri dari tiga marga/suku, yakni Levo hajjo (Blikololong), Lamanudek dan Tanahkrova. Tiga marga ini disebut sebagai lika telo (tiga tungku).

Levo Hajjo melahirkan suku Blikololong, Bataona dan Levo Tuká. Suku Bataona melahirkan tiga suku, yakni Bediona, Batafor dan Sulaona. Inilah kelompok eksodus yang pertama mendiami Lamalera.
Setelah beberapa waktu menyusullah suku/marga lain dari beberapa daerah di Timor, Flores, Solor dan berdiam bersama di Lamalera. Beberapa marga atau suku itu antara lain, Lamakera, Tapooná, Lamanifak, Atakei, Oleoná, Lefolei, Ebaoná, Lelaoná dan Atafollo.

Kebersamaan yang cukup lama telah menyatukan mereka dalam adat, tradisi yang sama, termasuk di dalamnya tradisi penangkapan ikan Paus atau dalam bahasa setempat disebut tena laja (perahu layar).

Meski demikian, bila dirunut secara historis, tradisi tena laja bukan muncul setelah suku-suku ini berada dan berdiam di Lamalera, tetapi dibawa bersamaan dengan eksodus mereka dari Luwuk – Sulawesi, yakni sekitar abad ke-14. Syair Lia asa usu Lamalera bisa menggambarkan hal ini:

“Seba olak lau léfa harri lollo dai épitkâ, dai marangkâ apé tafa géré raé motti Lango Fujjo raé morri Nara Gua Tana. Feffa bélâkâ Bapa Raja Hayam Wuruk pasa-pasa pekkâ lefuk lau Luwuk (Kucari nafkah di tengah laut kembali ke pantai merapat ke pinggir, nampak nyala api di tempat Lango Fujjo – nama lain dari Lamalera, di sana, di Gubuk Nara Gua Tana. Dan demi Kehendak Bapa Raja Hayam Wuruk terpaksa kutinggalkan desaku di Luwuk sana)(Bdk. Gorys Keraf, Morfologi Dialek Lamalera( ms), 1978)pp.229-230).

Kuatnya interaksi dan kohesi sosial antarsuku Lamalera dari waktu ke waktu turut pula memperkukuh tradisi tena laja. Begitu pula sebaliknya dari tena laja mereka hidup, bergantung dan membangun jejaring hidup dengan yang lain, membina relasi intersubjektif dengan siapa saja.

Dalam hal pembagian hasil tangkapan misalnya, siapa pun di kampung itu, terutama para janda dan yatim piatu, meski tidak ikut melaut, tetap diberi jatah (gratis) sebagai tanda kesatuan dan persaudaraan.  Lebih dari itu, ketika agama modern masuk (Katolik Roma) ke Lamalera pada tahun 1881, tradisi ini sama sekali tidak dihilangkan, tetapi justru semakin diberi makna, bobot religius yang tinggi-suatu hal yang sudah semakin sering diabaikan, terutama oleh mereka yang mengaku diri sebagai agamawan.

Sebelum, selama dan sesudah kegiatan penangkapan ikan Paus selalu diadakan kebaktian secara Katolik (misa lefa/laut), doa dan pemberkatan dari pastor (pendeta Katolik) untuk memohon restu dan perlindungan dari Ama Lera Wulan Tana Ekan (Sebutan untuk Allah).

Sampai di sini jelas bahwa tradisi tena laja tidak hanya sekedar merepresentasikan, tapi juga mengabadikan (mempertahankan) korps, keberadaan orang – orang Lamalera sebagai tubuh yang hidup. Hidup dengan pengertian, makna, filosofi, hasrat dan persepsi kultural tertentu diwujudkan dengan menghidupkan tradisi ini.

Melalui penghidupan ini, orang-orang Lamalera dimungkinkan untuk menemukan dan mendefinisikan identitas mereka sendiri di hadapan suatu entitas sosial atau kultural tertentu; indentitas sosial telah banyak berurusan dengan bagaimana suatu masyarakat memahami karya yang diolahnya sendiri dan karya orang lain. Dengan kata lain, upaya penghidupan ini tidak lain adalah cara vital orang-orang Lamalera dalam melanggengkan pengertian, makna, hasrat dan filosofi yang sudah dianutnya.

Menyikapi ancaman kepunahan Suku-suku di Lamalera adalah satu-satunya etnis di Indonesia, yang sampai sekarang masih menangkap ikan paus secara adat dengan peralatan tradisional.

Paus yang ditangkap adalah jenis sperm whale (Physeter macrocephalus) atau paus berkepala besar. Jenis ini bergigi terbesar dan berbobot antara 25 sampai dengan 50 ton perekor.

Masyarakat Lamalera pantang menangkap paus tak bergigi (seperti tebang pilih di hutan), terutama jenis paus biru, yang bobotnya bisa sampai 120 ton.

Menurut data terakhir dari the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora, habitat paus kepala besar merata di seluruh dunia, mulai dari kawasan kutub, sampai ke laut tropis, termasuk di laut Sawu (tidak hanya di Lamalera). Populasi jenis paus ini masih sangat besar, berkisar antara 200.000 sampai dengan dua juta ekor.

Sementara jenis paus lain, seperti Atlantic Northern Right Whale dan Pacific Northern Right Whale populasinya tinggal ratusan ekor saja. (Kataku.co.idbp/dari berbagai sumber)

Komentar ANDA?