Buku “Sejarah Kota Jakarta” Karya Putera NTT, Terbit dan Siap Edar

0
740

Oleh: Thomas Ataladjar

SEDERET  buku berkaitan dengan Sejarah Jakarta telah dihasilkannya. Toko Merah, Saksi Kejayaan Batavia Lama Di Tepian Muara Ciliwung; Si Jagur, Kisah Sejarah dan Legendanya;Jejak Kejayaan Molenvliet; Gerbang Batavia Yang Tak Pernah Tiba di Batavia; Benteng-Benteng Kuno Seputar Batavia; Sunda Kelapa Bandar yang Mendunia; Jejak Navigator Kondang Dunia di Batavia; Sejarah Kepulauan Seribu; Arak Batavia Beken Sejagat, Bikin Mabuk Kepayang; Si Pitung, Jawara Rawa Belong Layak Jadi Pahlawan Nasional, hanya sebahagian dari karya putera NTT kelahiran desa Waiwejak, Atadei, Lembata Thomas B.Ataladjar. Bahkan karyanya Toko Merah telah diabadikan di dalam Ensiklopedi Jakarta. Ternyata anak kampung Lembata yang pernah menerima penghargan dari Pemda Provinsi DKI Jakarta ini, terus saja meneliti dan menulis tentang sejarah Jakarta.

Bila selama ini Thomas bekerja sama dengan Pemda Provinsi DKI Jakarta, kali ini Thomas banting stir bekerjasama juga dengan penerbit nasional Erlangga. Ia ingin buku-bukunya ada juga di toko-toko buku. Hasilnya satu dari empat buah buku karyanya yang tengah digarap oleh penerbit Erlangga. yang berjudul “Sejarah Kota Jakarta”-Tapak Jejak Batavia, sudah terbit dan siap beredar.

Terdiri dari tiga seri, kupas tuntas tentang kawasan Jakarta sejak zaman prasejarah, era Tarumanegara, era Pajajaran, era Jayakarta, era Batavia hingga Jakarta. Oleh penerbit Erlangga buku ini selain untuk konsumsi umum dan sekolah-sekolah di Jakarta juga akan beredar di semua kantor pemasaran Erlangga di seluruh Indonesia, termasuk toko-toko buku besar seperti Gramedia, Gunung Agung dan lain lain.

Layani Ilmu Pengetahuan, Ajak Kaum Muda Cinta Sejarah dan Budaya Bangsanya

Sehubungan dengan terbitnya buku karya anak kampung Lembata ini, pihak penerbit Esensi menyatakan sangat bersyukur dapat menyajikan sebuah seri buku bertema Sejarah Kota Jakarta . Sebagai imprint dari Penerbit Erlangga yang memiliki moto:” KAMI MELAYANI ILMU PENGETAHUAN”, kami ingin menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap pengetahuan sejarah dan budaya bangsa.

Banyak kota bersejarah sudah musnah atau dimusnahkan. Kota yang tanpa kisah dan bukti sejarah, menjadikan kota itu tanpa jiwa . Hilangnya jejak sejarah dapat menyebabkan generasi muda sulit mengerti akan asal usulnya, tidak mengenal leluhurnya, serta kurang menghargai dan melestarikan peninggalan-peninggalan bersejarah. Namun dengan mengulik asal mula berdirinya suatu kota, generasi muda bisa kembali menelusuri sejarah bangsanya, memahami akar budayanya dan terus menjaganya.

Buku ini mengajak generasi muda untuk berpetualang menelusuri kembali sejarah dan perkembangan Kota Jakarta, mulai dari era Kerajaan Tarumanegara hingga masa kolonial Belanda. Kota yang semula hanya berfungsi sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran, Sunda Kelapa, lambat laun berkembang menjadi pusat perdagangan hingga menjadi markas utama pemerintah kolonial Belanda di Nusantara, bahkan Asia.  Pergantian para penguasanya juga turut berperan dalam perkembangan fisik dan sosial kota.

Berbagai bangunan yang menghiasi Jakarta di masa kini memiliki nilai dan maknai sejarah yang berbeda yang berbeda dari setiap masanya.

Kami berharap hadirnya buku ini dapat membuat generasi muda semakin mengenali dan bangga pada akar bangsanya sendiri serta turut melestarikan .berbagai peninggalan bersejarah agar dapat menjadi pembelajaran bagi generasi-generasi mendatang. Demikian penerbit Esensi –Erlangga Kembalikan Jati Diri Sebagai Anak Bangsa Yang Punya Fighting Spirit

Menurut penulis buku ini Thomas Ataladjar, dewasa ini mata pelajaran sejarah nyaris terlupakan atau bahkan hanya sekedar pelajaran tambahan semata. Namanama seperti Sultan Agung, Sultan Ageng Tirtajasa, Pangeran Diponegoro, Patimura, Imam Bonjol, Sisingamangaraja, Sutomo, Sukarno dan Hatta, serta semua pahlawan nasional, menjadi asing bagi mereka. Kerajaan besar Nusantara yang pernah berjaya seperti Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Pajajaran, Mataram, Majapahit, Demak, Banten dan lain-lain, jauh dari pemahaman. Aneka bangunan kuno bersejarah, situs dan cagar budaya, seolah hanyalah barang archaic tak berguna untuk dibahas.

Museum-museum lebih mirip “gudang pajangan“ benda-benda kuno ketimbang wahana pendidikan berguna. Boleh jadi benar bahwa kita sudah semakin kehilangan jati diri kita sebagai anak bangsa yang memiliki fighting spirit.

Sejarawan Taufik Abdullah mengatakan bahwa belajar dan mempelajari sejarah bukan hanya semata demi mengetahui tonggak-tonggak peristiwa penting di masa lampau. Lebih dari itu, mengurai benang-benang peristiwa sejarah di masa lampau secara ilmiah dengan perspektif masa depan juga minimal bermanfaat untuk “merancang” masa depan.

Pada konteks kerangka pemikiran itu sejarah layak disebut salah satu sumber kearifan hidup.

Solusi Cerdas

Dengan demikian apa yang dilakukan oleh Penerbit Erlangga, dengan menerbitkan buku seri sejarah dan budaya seperti ini, kiranya merupakan sebuah solusi cerdas dalam mengajak para siswa untuk sejak dini mengenal dan mengembalikan jati dirinya lewat pelajaran sejarah dan budaya bangsanya, termasuk Sejarah Budaya Jakarta

Semuanya tentu bertujuan baik dan mulia. Diharapkan semangat perjuangan, cinta tanah air dan bangsa terpupuk dan terus bertumbuh dan berkobar. Pada gilirannya kelak mereka dapat mendarmabaktikan dirinya dengan turut membangun dan memajukan tanah air dan bangsanya, karena telah menjadi insan yang terdidik otaknya, terdidik wataknya dan terdidik mentalnya. Cintai Sejarah dan Jakarta Masa Lalu Untuk Jakarta Masa Depan.****

Komentar ANDA?