Bulan Agustus akan Digelar Wisata Sepeda Flores 2015

0
187

NTTsatu – Wisata Sepeda Flores 2015 mulai digelar 31 Agustus- hingga 5 September 2015. Kegiatan yang diselenggarakan Manajemen PT Dewisri Lintas Benua Dewiholidays akan melibatkan wisatawan domestik dan mancanegara dan bertujuan memediasi serta memperkenalkan wisata Flores ke dunia nasional dan internasional.

Kepada wartawan Basuki Adi dan Dewi Agustiati selaku panitia di Lehong-Borong, pekan lalu menjelaskan panitia kegiatan melirik Flores sebagai sasaran kegiatan karena potensi di wilayah ini sangat kaya dan menjanjikan, namun realitasnya kurang mendapat perhatian dari wisatawan domestik dan mancanegara karena biaya operasional sangat mahal.Karena itu Dewiholidays memediasi para peserta agar bisa menikmati wisata di Flores.

Selain itu panitia menyadari bahwa dengan kegiatan ini serentak jadi medium memperkenakan Flores akan potensi dan budayanya. Selama ini, jelas Adi, potensi wisata Flores sering digadang-gadangi tetapi belum menjadi daerah target karena kaendala teknis. Terutama informasi yang minil serta biaya operasional yang amat mahal.

“Sekali ke Flores habiskan biaya sekitar Rp 17.000.000. Lalu misatawan bilang mending ke Tiongkok biaya lebih murah. Panitia mau patahkan stigma itu. Bahwa Flores itu indah dan memesona. Biaya pun tidak terlalu mahal. Dewiholidays memediasi melalui kegiatan sepeda gowes Flores untuk memimimasir kesan tersebut,” katanya.

Untuk tahap awal ini, urai Adi fokus kegiatan ada di lima Kabupaten yakni Ende, Ngada, Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat. Wilayah ini dipilih hanya semata berdasarkan perhitungan waktu, transportasi dan kemudahan jangakauan.

Kegiatan akan berawal dari Moni- Ende dan berakhir di Komodo Labuan Bajo. Namun kedepan kegiatan ini menjadi rutin sehingga potensi Flores yang ada di setiap wilayah destinasinya bisa dilihat dan diperkenalkan.

Selama kegiatan berlangsung, demikian Adi, ada beberapa agenda penting yakni pasar rakyat di mana ada pentas budaya dan seni. Sementara untuk konsumsi para peserta mengkonsumsi makanan lokal.

Selain itu di setiap daerah singgahan panitia menyerahkan beberapa judul buku sebagai koleksi untuk daerah di maksud. Entah buku itu didistribusikan ke sekolah-sekolah atau perpustakaan daerah menjadi otoritas daerah masing-masing.

“Targetnya ada 200 peserta yang berasal dari Indonesia, Asia Tenggara dan Eropa. Panitia sudah membangun komunikasi dengan negara sasaran peserta,” paparnya.

Dewi Agustati menambahkan, langkah awal yang dibuat saat ini adalah melobi pemerintah daerah untuk mengetahui potensi wisata dan budaya di setiap daerah. Daerah yang ditawarkan akan disikapi lebih lanjut dengan tim teknis. Tujuannya untuk mengetahui potensi, jarak tempuh dan infrastruktur pendukung.

“Untuk tahu secara detail seluruh hal-hal yang berkaitan dengan kunjungan di lokasi yang ditentukan maka panitia datang jajak lebih awal. Secara pribadi saya penasaran mau lihat tarian caci yang khas dan unik itu. Saya harapkan di Matim saya bisa melihat secara langsung atraksi tersebut,” tandasnya. (FBC)

Komentar ANDA?