Bupati yang ‘Dibenci’?

0
7897

Oleh: Robert Bala

(Narasi Wafatnya Eliaser Yentji Sunur)

Berita wafatnya Yentji Sunur, bupati Lembata tentu saja mengejutkan. Sebelum El Tari Cup dibatalkan, ia sibuk keliling NTT demi meyakinkan peserta dari kabupaten lain. Upaya itu kelihatan sangat menyedot perhatian. Sebagai seorang yang sangat getol dengan El Tari Cup, hadirnya gelombang kedua covid yang membatalkan El Tari Cup tentu saja membuatnya cukup ‘down’ hingga akhirnya ia pergi bersama covid-19 yang datang menjemputnya.

Yang jadi pertanyaan: apakah yang bisa dijadikan pembelajaran di balik wafatnya Elias Yentji Sunur? Pertanyaan ini tentu ditanggapi dengan skeptis terutama mereka yang selama menganggap ini tidak ada kebaikan sedikit pun yang dilakukan. Bagi mereka yang sudah kecewa, apapun yang dilakukan semuanya hitam kelam.

Tentu saja pendapat mereka juga tidak semuanya salah dan tentu juga tidak semuanya benar. Namun sebuah refleksi yang seimbang, melihat dari dua sisi mestinya menjadi tindakan bijak bagi siapapun. Karena bagi siapapun yang menanggap diri paling tahu tentang Lembata dan mungkin saja merasa diri paling suci pun secara manusiawi ia tentu tidak terbebas dari kekeliruan.

Mungkin ada baiknya, kesalahan dan kekeliruannya masih bisa disembunyikan. Tetapi ketika diberi kesempatan berkuasa dan menjadi pucuk pimpinan tertinggi, maka angin dan badai akan mudah menggoyangnya, hal mana dialami almarhum ketika masih hidup.

Kutukan Lewotana?

Mendengar kematian bupati Yentji Sunur, ada beberapa orang yang secara spontan mengatakan hal ini: “Ini kutukan lewotana.” “Lewotana itu panas”. Demikian komentar polos yang terucap dari beberapa yang mungkin saja banyak orang.

Ada yang mengatakan: “doa berhasil. Tuhan sudah mengabulkan doa-doa selama ini”. Yang jadi pertanyaan, apakah kematian ini merupakan akibat dari kutuk atau karena doa diterima Tuhan? Kalau bicara soal ini tentu bersifat ‘discutible’ (bisa diperdebatkan).

Secara teologis, Tuhan tidak pernah menerima doa untuk mencelakakan orang. Memang secara manusiawi, ada gambaran bahwa Tuhan itu ‘bertingkah’ seperti manusia yang membenci orang yang melakukan kejahatan. Tetapi Tuhan, padaNya semua kebaikan. Ia menghendaki agar manusia dan alam ciptaan baik adanya. Juga tidak semua kematian dianggap sebagai hukuman. Lihat saja anak kecil yang belum punya dosa pun dipanggil. Jadi kematian kali ini tentu tidak begitu mudahnya menghadirkan cap seperti itu.

Pada tahapan ini, tidak ada yang bisa membenarkan bahwa ‘doa’ atau misa ‘hitam’ menjadi akibat dari kematian ini. Bahkan bila yang mengatakan itu pemimpin agama: imam, ulama, ustad atau siapapun. Kalau sempat menghujat malah menyebut dalam doa, maka itu adalah doa dari orang kerdil, egoistis, yang sebenarnya sehitam apa yang mereka julukan kepada orang lain.

Lalu apa itu berkat dan kutukan? Dalam arti sederhana, kita memang mengakui adanya berkat dan kutukan. Berkat itu dalam bahasa Latin ‘bene dicere’ (bendito, bahasa spanyol) berkata baik dan kutuk dalam baahsa Latin (mal dicere) (maldito) akan menjadi penjelasan yang lebih mungkin. Setiap orang yang melakukan kebaikan akan mendatangkan komentar atau pembicaraan yang baik. Sementara orang yang melakukan kejahatan akan mendatakangkan komentar yang tidak baik dari orang lain. Itulah kutukan.

Pada tahapn ini, selama 9 tahun menjadi pemimpin di Lembata, tentu saja Yentji Sunur mendapatkan banyak pembicaraan yang baik. Di situlah berkat. Tak heran, dia bisa menjadi bupati dua periode. Tentu saja ada kebaikan yang rakyat Lembata rasakan. Itu sudah wajar. Karena itu mengatkaan tidak ada kebaikan, sebenarnya bisa disebut bahwa yang mengatakan hal itu adalah orang sakit.

Tetapi sebagai pemimpin juga tidak ada yang tidak baik. Banyak orang yang tentu kecewa dengan kepemimpinannya. Banyak orang yang mungkin jadi korban atas kebijakan yang tidak menguntungkan mereka. Jadi pertanyaan, mengapa mereka ‘tidak diberi ruang?’ Apakah karena memang benar-benar mereka disingkirkan begitu saja ataukah karena juga perbuatan mereka?

Tentu sampai di sini hanya mereka yang tahu. Jadi kutukan itu tentu saja ada. Tetapi antara berkat dan kutukan itu ada bersama, Balasan dari kutukan itu tentu bukan kematian seperti yang disangka orang. Balasan dari berkat dan kutukan itu sudah bisa dirasakan selagi masih hidup.

Karenanya terhadap kematian Yentji Sunur, mestinya dianggap seperti kematian siapapun. Memang sebagai pimpinan tentu lebih menjadi ‘berita’ ketimbang kematian orang yang tidak punya jabatan. Tetapi membincangkan kematian hanya untuk memenuhi emosi, tentu tidak punya manfaat. Yang sudah wafat, beristirahat dalam tenang. Yang masih hidup, akan terus hidup dalam dengki.

Buka Jalan…

Apakah ada sesuatu yang baik ditinggalkan Yentji Sunur? Ini pertanyaan yang bisa saja dianggap tendensius. Dengan minimnya pemahaamn politik, bahkan bukan hanya orang sederhana, tetapi orang yang ‘berijazah’ (meski bukan berpendidikan) melihatnya semuanya secara ‘politik’. ‘ini pasti ada apanya’. Begitu komentar. Tetapi adalah wajar dengan akal sehat melihat bahwa setiap orang, sejelek apapun, tentu ada kebaikan yang ditinggalkan dan bisa dipelajari bersama.

Kembali kepada pertanyaan di atas. Apa yang ditinggalkan Yentji Sunur selama 9 tahun ini? Saya tidak menjawabnya dalam analisis tentang pembangunan yang nota bene butuh data. Selain itu data-data itu akan menjadi obyek diskusi. Saya hanya mau melihatnya dari paradigma yang digunakan oleh Yentji dalam membangun Lembata. Kalau boleh menebak, apa yang sebenarnya ada dalam pemikirannya sehingga ia menghasilkan model pembangunan seperti yang dilakukan selama 9 tahun ini?

Bagi Yentji Sunur, agar bisa mengangkat Lembata berlari lebih cepat maka perlu dicari prioritas yang bisa menjadi ‘leading sector’ pembangunan. Yang jadi pertanyaan, apa yang bia dijadiakn leading sector di Lembata? Banyak yang mengatakan pertanian lebih tepat perkebunan rakyat. Kalau bicara pertanian maka yang terpikir adalah lahan basah yang menjanjikan. Areal persawahan Waikomo bisa menjadi contohnya.

Tetapi areal pertanian dengan sawah seperti itu tidak tahu hanya berapa persen. Apakah 5% dari areal pertanian di Lembata atau malah lebih kurang dari itu? Kita bisa menyebutnya tidak sampai 1 %. Selebihnya adalah perkebunan rakyat.

Ada tanah buah seperti alpukat, kelapa, kemiri, kopi, tetapi semuanya bukan dalam jumlah yang besar. Selain itu, arealnya tersebar di berbagia daerah. Karenanya hasilnya tentu bisa digunakan dengan sedikit dijual tetapi tidak bisa digunakan sebagai ‘leading sector’. Ini sebuah fakta. Areal pertanian Lembata adalah lahan kering dengan daya jangkau yang tentu tidak terlalu banyak. Digunakan untuk kebutuhan sendiri dan selebihnya (tidak seberapa) digunakan untuk dijual.

Tentang sektor laut bisa menjadi sektor yang diandalkan. Yang jadi pertanyaan, areal mana yang akan diperhatikan? Apakah menjadikan seluruh pesisir Lembata? Berapa banyak daerah yang bisa diangkat? Bagaimaan menjadikan sektor keluatan sebagai ‘leading sector?’

Mungkin saja kenyataan ini yang jadi pertanyaan di awal kepemimpinannya di Lembata. Karena itu selama 9 tahun ini bupati Lembata begitu fokus mengembangkan wisata sebagai ‘leading sector’. Tak heran festival 3G, membangun spot wisata, menjadi hal yang sangat menonjol. Untuk keperluan itu maka berbagai fasilitas coba disiapkan agar orang bisa lancar sampai ke obyek wisata (meskipun tidak sedikitnya penuh kontroversi).

Yang mungkin dilupakan Yentji, bahwa daerah wisata membutuhkan wisatawan. Yentji mungkin merasa bahwa banyak daerah di Lembata lebih bagus dari Bali. Itu memang benar. Pantai-pantainya lebih indah dan alamiah. Tetapi tempat wisata baru di Bali pasti akan diminti karena sudah ada wisatawan. Mereka sudah sampai di Bali dan mau cari alternatif lain.

Kalau ke Lembata, orang tentu harus bertanya lebih jauh. Butuh waktu untuk pergi ke sana. Lalu apa yang bia mendorong orang ke sana kalau tempat wisata tidak ada yang ‘mayor?’ Komodo dan Danau Kelimutu memiliki daya tarik luar biasa. Ketika orang ke sana, maka daerah wisata ‘pinggiran’ bisa dibut spot baru. Tetapi di Lembata kita memiliki ‘spot-spot kecil’ yang ‘indah sih’, tetapi belum menjadi alasan yang begitu kuat agar orang harus mengeluarkan jutaan rupiah untuk harus ke sana.

Lebith lagi untuk Lembata, membuat spot baru seperti Awololong justur menjadi boomerang. Ia menjadi sebuah ‘proyek makngkrak’ yang selalu jadi bidiakn yang tidak suka. Semua coba dibangun argumentasi di atas pemikiran mitis-magis yang akhirnya menjadi pembicaraan ramai di medsos hingga beberapa hari sebelum Yentji Sunur Wafat.

Terlepas dari semuanya, pariwisata (terlepas dari kontroversinya), telah menjadi ‘peninggalan’ Eliaser Yentji Sunur. Pariwisata dianggap leading sector, yang bagi banyak orang bisa kontroversial. Lalu kamu, apa yang ingin ditawarkan kalau ingin jadi bupati Lembata menggantikan Yentji Sunur? Mana idemu?

Untuk semua yang bisa dibut, berkat dan kutukan sudah jadi jatahmu. Selamat jalan Eliaser Yentji Sunur. Semoga bahagia di sana. Semoga kepergianmu juga menguburkan kebencian yang kadang masih kuat di Lewotana. Semoga hadir generasi yang lebih damai, optimis, bijaksana, demi Lembata yang lebih baik ke depan.

=======

Penulis:  Robert Bala adalah Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Komentar ANDA?